Ruben Abu Bakar : “Islam? Mereka kan teroris?” (Bagian I)

Ini adalah kisah masuk Islamnya seorang pria Australia, Ruben Abu Bakar. Suatu tahun, ia harus menjalani hidup dengan masalah yang datang bertubi-tubi. Hal yang paling menyedihkan menimpa hidupnya, ketika sahabatnya tewas akibat narkoba. Tak berselang lama, kedua orangtuanya bercerai. Ia pun dilanda kemiskinan. Bahkan, anjing peliharaannya mati.

Sebelum masuk Islam, ia sempat mendalami hampir semua agama besar di dunia, Kristen, Katolik, Hindu, Taoisme, Buddha, Yudaisme, kecuali Islam. Karena dia menganggap penganut Islam adalah orang-orang gila.

Hingga suatu saat dia melangkahkan kaki masuk ke dalam sebuah masjid dengan bersepatu.

Ia mengisahkan sendiri kisahnya sebagaimana dikutip dari channel YouTubeIslam Bersatulah”.

 

“Islam? Mereka kan teroris?”

Pada dasarnya kisahku dimulai tahun pertama kuliah. Aku menjalani tahun yang banyak masalah. Orangtuaku bercerai pada tahun itu, anjingku mati. Hari yang menyedihkan.

Subhanallah. Aku mengalami dua kecelakaan dalam sepekan. Sedihnya, temanku juga meninggal tahun itu.

Tahun itu membuatku berpikir. Kenapa aku di sini? Apa tujuan hidup? Kenapa aku tidak duduk saja menonton TV? Aku rasa aku mulai bertanya tujuan hidup. Ini menuntunku memulai petualangan rohani.

Secara naluriah sebagai seorang Aussie (orang Australia), hal pertama yang kulakukan adalah meneliti agama Kristen.

Aku punya beberapa teman Kristen dan aku ingat pergi ke perkemahan gereja, salah satu perkemahan paling lucu dalam hidupku. Semua orang bernyanyi, aku tidak tahu kata-katanya, aku tidak tahu apa yang kuucapkan. Suara mereka bagus tetapi terasa aneh.

Semua orang bilang betapa Tuhan menyayangiku. Lalu aku berpikir. Tuhan menyayangiku? Anjingku mati.

Subhanallah.

Jadi aku terus mendalami agama Kristen dan aku teliti seluruh aspeknya yang berbeda-beda. Jadi kita bicara tentang Katolik, Anglican Baptist, pendeta, pastur.

Setiap kali ke sana dan bertanya, kudapati mereka tidak mengambil Bibel dan menjawab, “Inilah jawabannya, saudaraku.”

Mereka asal menjawab. Mereka menjawab dengan pendapat masing-masing. Dan aku menyadari ada banyak interpretasi dalam Kristen dan semua orang mempunyai interpretasi yang berbeda. Pendeta dari satu gereja percaya satu aspek Kristen, sementara yang lain berpendapat berbeda dengannya.

Lalu aku mulai berpikir, Bibel itu satu kitab tetapi banyak sekali interpretasinya dan itu membingungkan.

Ruben Abu Bakar.

Waktu itu aku masih tahun pertama kuliah. Aku juga bekerja di sebuah pom bensin, salah satu kerja paruh waktuku.

Salah satu temanku seorang Hindu dari India, kami sering bertukar jadwal kerja. Waktu itu aku sangat ingin tahu lalu bertanya, “Kawan, siapa itu yang berkepala gajah? Kenapa dewa mempunyai kepala gajah?”

Dia jawab, “Itu Ganesha.”

Aku bilang, “Kamu kan bisa pilih kepala singa atau yang sedikit lebih baik?”

Ini cuma debat agama saat orang membeli bensin. Dan sekali lagi menurutku ini sukar dipahami. Jadi kuputuskan untuk menganalisa lebih dalam.

Teman baikku adalah seorang Mormon. Aliran ini sebenarnya lebih menarik bagiku daripada hampir semua aliran Kristen lain, The Church of Latter Day Saints, mereka lumayan ketat. Mereka tidak minum alkohol, tidak minum kafein. Sayangnya mereka suka Cola, karena kutahu Leboz (orang Lebanon) suka Cola.

Namun, lagi-lagi ada “keyakinan membuta” yang harus kujalani sebelum menganut agama ini. Dan kurasa aku tidak ingin membuta, aku ingin bukti.

Aku juga mendalami Yudaisme. Kalian percaya? Nama asliku sebelum menjadi Abu Bakar adalah Ruben. Jadi jika kamu melihat film Hollywood, kamu melihat Rubenstein. Mungkin kamu pikir aku Yahudi dan berpikir “orang ini adalah salah satu orang kita”. Namun sekali lagi, aku tidak menemukan apa yang aku cari.

Terakhir aku mencoba Buddha dan kurasa ini adalah agama yang akan kupilih. Kupikir ini hebat. Mereka punya banyak orang kulit putih yang membuatku tertarik. Tampaknya mereka bersatu dengan alam dan itu yang membuatku tertarik. Namun, semakin aku dalami, aku sadar ini bukanlah agama Tuhan. Ini semata sebuah cara hidup yang baik.

Salah satu teman Kristen-ku berkata, “Agama apa saja yang sudah kau dalami?”

Kukatakan, “Semua, Yudaisme, Kristen, Taoisme, Buddha, Hindu.”

Dia bertanya, “Bagaimana dengan Islam?”

Aku jawab, “Islam? Mereka kan teroris? Aku tidak mau mendalami agama itu. Mereka itu gila. Kenapa juga aku melihat agama mereka?”

Namun, setelah beberapa waktu, suatu hari aku berjalan ke sebuah masjid. Ini adalah perjalanan abadiku. Jadi aku berjalan terus, masih pakai sepatu, melewati karpet untuk shalat.

Ada saudara Muslim sedang shalat, aku berjalan terus di depannya seiring dia sujud, aku hampir menginjak kepalanya. Subhanallah, aku tidak tahu apa yang kulakukan.

Aku menengok dan melihat saudara ini. Kamu mungkin kenal dia, namanya Abu Hamzah. Dia sering ke sini dan ceramah beberapa kali. Subhanallah, aku memanggilnya Abu Da’n, sebab dia punya jenggot yang lebat, masyaallah.

Dia menuju ke arahku dan aku berpikir, hari ini aku akan mati. Ini adalah hari terakhir hidupku. Aku pasti mati, aku kulit putih di Lab-land (Lebanon). Apa yang harus kulakukan? Aku pasti mati. (Bersambung ke Bagian 2)

(A/RI-1/P1)

 

Sumber: Channel “Islam Bersatulah

 

Mi’raj News Agency (MINA)