Saat Wabah Itu Pergi (Oleh: Taufiqurrahman, Lc)

Oleh : Taufiqurrahman, Lc

Segera, Insya Allah, Corona akan berlalu

Seperti campak, cacar, tipus, penyakit kuning dan wabah, semoga Allah mengampuni kita dan kalian semua

Segera, jama’ah umrah akan kembali ke Masjidil Haram dan jama’ah shalat kembali beribadah di masjid-masjid

Segera, para pelajar akan kembali ke sekolah-sekolah dan universitas mereka.

Hari esok lebih indah, Insya Allah

Nikmati harapan ini dan jangan putus asa dari Rahmat Allah

Virus akan mulai mengurung diri dengan izin dari Yang Maha Kuasa

Dan awan kesedihan akan terhapus dari bangsa ini

Lalu kita sambut  Ramadhan dengan bersukacita atas izin Yang Maha Pemurah

Inilah manhaj para Nabi ‘alaihimushalaatu was salaam : “Sampaikanlah kabar gembira dan janganlah buat orang lain lari,”

Perbanyak istighfar, doa, dan berlindung kepada Yang Maha Esa, dan iringi dengan tetap berjaga-jaga dan menempuh segala cara pencegahan

Ya Allah, lindungi kami semua dan orang-orang yang kami cintai, keluarga kami dan semua umat Islam

Aamin

Nasihat di atas saya terjemahkan dari petikan hikmah Ustadz Husein Al Attas berbahasa Arab. Beliau seorang dai dan Pembina Radio Silaturahim (Rasil). Beberapa kali saya dengarkan ceramahnya. Menyentuh dan menggugah spirit keimanan.

Kesulitan dan gundah akibat wabah Covid 19 tidak akan selamanya. Cepat atau lambat pasti berlalu. Semoga saat wabah ini pergi, ia turut membawa kesedihan bangsa ini. Lenyap meninggalkan hikmah dan spirit bagi bangsa ini untuk berbenah.

Kebersamaan dalam ibadah, bekerja, belajar dan hiburan yang renggang karena wabah harus terekat kembali. Segera saat suasana itu kembali mari pererat dan perkuat. Lebih melebur dan bersinergi menjadi bangsa yang tangguh.

Tugas kita bersama memastikan masa itu lebih indah. Dari sekarang. Mempertahankan harapan positif. Menyebar semangat persatuan. Bekerja bahu membahu dalam solidaritas. Jangan lupa ikhlas, tawakkal dan terus berdoa. Hanya kepada Allah Ta’ala.

Satu lagi, bertaubat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

{ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ }

{ Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).} [Al-A’raf : 168]

Jika kenikmatan saja bisa jadi musibah dan karenanya kita diperintah bertaubat bagaimana dengan musibah keburukan ?! Ayat tersebut meneguhkan hikmah terbesarnya. Allah ingin, dengan wabah ini, kita kembali kepada-Nya.

Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radliallahu’anhu mengatakan :

ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة

“Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”

Tak perlu sibuk mencari kambing hitam. Sebab tak satu pun manusia pantas sombong. Mentitah diri tak bernoda. Lalu menuduh yang lain biang keladi.

Segera bertaubat ! Agar segera Allah angkat wabah ini.

Dan saat wabah itu pergi, kita sambut hari yang lebih cerah. Lebih giat beribadah. Lebih rajin belajar. Lebih tekun bekerja. Lebih peduli kepada dhuafa. Lebih erat bergenggam tangan membangun bangsa yang lebih taqwa, adil dan beradab. (A/RA02/P1)