Sebenarnya Hidup Itu Mudah

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Ada di suatu ketika, saat kita ditimpa permasalahan, hidup terasa sangat sulit bagi kita. Seolah jalan yang kita lihat semuanya tertutup atau penuh dengan aral dan duri. Dunia yang kita lalui terasa begitu sempit menghimpit.

Namun, mungkin masih ada yang memang kita lewati, sehingga segalanya terlihat terbatas bagi kita. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menciptakan kehidupan ini berfirman,

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولاً۬ فَٱمۡشُواْ فِى مَنَاكِبِہَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦ‌ۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ

Artinya: “Dia-lah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Q,S. Al-Mulk [67] : 15).

Saudaraku yang beriman, melalui ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menciptakan kehidupan ini lebih dahulu memberitahukan bahwa hidup itu mudah, dengan kalimat, “Dia-lah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu.”

Jadi Allah memberikan keyakinan bahwa hidup itu mudah, tidak susah, sebagaimana yang kebanyakan manusia, bahkan kita, sering membayangkannya. Ini adalah sugesti agar kita tidak memikirkan kesusahan dalam hidup. Rasakan saja bahwa hidup ini mudah.

Setelahnya, Allah memerintahkan kita untuk menjelajahi bumi dan hidup ke segala penjuru. Berbekal dengan keyakinan bahwa bumi dan hidup itu mudah dijalani, maka kita sudah punya modal awal dengan perasaan ceria dan tenang untuk melakukan sesuatu dalam mencari rezeki atau melaksanakan pekerjaan yang memang harus dilaksanakan.

Sebaliknya, jika kita yang akan mengerjakan satu tugas sudah terbebani perasaan bahwa tugas itu sulit untuk dikerjakan, pada umumnya kita sudah lebih dulu patah semangat, tidak bergairah, antara mau dan tidak mengerjakannya, sehingga ketika menemui hambatan sedikit saja, sudah menyerah, bahkan putus asa.

Setelah kita berusaha dengan penuh hasrat, Allah menutup ayat di atas dengan sikap pasrah atau penyerahan diri kepada Allah (tawakkal). Dengan menggantungkan harapan kepada Allah, kita akan semakin optimis dalam memperoleh rezeki atau hasil yang kita inginkan. Jikapun hari ini belum memperoleh hasil yang sesuai harapan, tapi kita tetap berkeyakinan bahwa Allah akan tetap memperlancar rezeki dan urusan kita.

Intinya, untuk menjalani hidup dengan mudah, kita hanya perlu berpikir positif, berusaha, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Pada gilirannya, di suatu titik tertentu, kita akan mendapatkan banyak kekayaan nikmat. Bahkan, kita pun menjadi lebih bahagia dengan kekayaan itu.

Bagi orang-orang beriman, kondisi mudah dan sulit, kondisi lapang dan sempit, kondisi lancar dan banyak rintangan, atau kondisi apapun, semuanya bisa dijalani dengan tanpa beban.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Artinya: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang Muslim harus berprasangka baik kepada Allah dan mempunyai sikap berharap pada-Nya.

Mengenai makna hadits di atas, Al-Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebahagian ulama mengatakan bahawa maknanya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi keampunan jika hamba meminta keampunan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengabulkan doa jika hamba meminta. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lain berkata maknanya adalah berharap pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan meminta ampunan-Nya.” (Syarh Muslim, 17 : 2)

Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda saat tiga hari sebelum beliau wafat,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berprasangka baik (husnu zhon) pada Allah” (HR. Muslim no. 2877).

Sesungguhnya, sulitnya kehidupan ini dilalui oleh seseorang, karena mereka memang telah dibebani oleh pemahaman bahwa hidup itu memang susah. Mereka selalu memberi sugesti kepada diri mereka sendiri bahwa mencari uang itu tidak gampang, menjalani hidup itu harus penuh dengan penderitaan, mustahil untuk menjadi kaya, mendapat jodoh salihah rasanya tidak mungkin, dan sugesti-sugesti buruk lainnya yang lahir dari pemikiran yang sempit.

Pandanglah kesulitan yang kita jumpai sebagai ujian hidup dari Allah. Sebab Allah tidak akan memberikan ujian yang hamba-Nya tidak sanggup memikulnya.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡہَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡ‌ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرً۬ا كَمَا حَمَلۡتَهُ ۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ‌ۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآ‌ۚ أَنتَ مَوۡلَٮٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a) “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Al-Baqarah [2] ayat 286)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ada jalan untuk bisa mengatasi suatu kendala permasalahan dalam hidup. Dengan keyakinan seperti itu, kita akan bisa bersikap santai dalam menghadapi berbagai rintangan.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

(P001/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)