Sembilan Warga Negara India Hilang setelah Serangan Masjid Christchurch

New Delhi, MINA – Seorang pejabat India mengatakan setidaknya sembilan warga negara mereka atau orang-orang asal India hilang setelah serangan teroris di masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang mengakibatkan 49 orang tewas.

Komisaris tinggi India untuk Selandia Baru, Sanjiv Kohli, pada Jumat (15/3) mengatakan dalam sebuah cuitan di akun media sosialnya, sesuai pembaruan yang diterima dari berbagai sumber ada sembilan orang hilang kebangsaan/asal India. Konfirmasi resmi masih menunggu.

“Kejahatan besar terhadap kemanusiaan. Doa kami dengan keluarga mereka,” ujarnya dalam cuitan tersebut.

Para pejabat India belum mengatakan apakah kesembilan itu diyakini tinggal di Christchurch. Demikian Al Jazeera melaporkan yang dikutip MINA.

Akan tetapi, laporan media India mengatakan, setidaknya satu orang India terbunuh dalam aksi pembantaian yang mengguncang Selandia Baru, yang dilakukan oleh pendukung gerakan rasisme supremasi kulit putih.

Surat kabar Indian Express mengidentifikasi korban sebagai Mohammed Juned Kara(34), dari negara bagian Gujarat. Kara meninggalkan seorang istri dan tiga anak, kata surat kabar itu.

Laporan itu menambahkan, dua orang India lagi dari negara bagian Gujarat – Arif Vohra dan keponakannya Rameez Vohra – hilang, sementara Hafiz Musa Patel, imam masjid Lautoka di Kepulauan Fiji, terluka.

Patel dilaporkan berasal dari desa Lunawara di distrik Bharuch, Gujarat, dan memegang paspor Fiji.

Surat kabar itu mengatakan setidaknya dua orang India lagi, yang berasal dari kota Hyderabad – Ahmed Jahangir Khursheed dan Farhaj Ehsan – juga hilang.

Berbicara kepada The Indian Express, ayah Ehsan, Mohammed Sayeeduddin, mengatakan, “Pihak berwenang di satu rumah sakit yang dirawat mengaku mengatakan kepadanya (istri Ehsan) bahwa dia tidak ada di sana. Polisi memberi tahunya bahwa dia bukan di antara 49 korban jiwa. Tetapi polisi mengatakan setidaknya 17 orang hilang”.

Kantor berita internasional pada Sabtu (16/3) melaporkan tentang pasangan India di Christchurch yang mencari putra mereka, Imran Khokhur, yang telah hilang sejak insiden pembantaian itu.

Bersandar di pundak temannya, istri Imran Akhtar menangis ketika dia mengangkat ponselnya dengan gambar suaminya. “Aku masih tidak tahu di mana dia,” ratapnya.

Khokhur dan suaminya Mehaboobbhai Khokhur telah melakukan perjalanan dari India untuk menghabiskan waktu bersama Imran, yang menurunkan ayahnya di Masjid Al Noor pada hari Jumat dan sedang mencari tempat parkir ketika penembakan dimulai. Sejak itu mereka tidak mendengar kabar darinya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Raveesh Kumar mengatakan komisi tinggi negara itu di Selandia Baru menghubungi pihak berwenang setempat untuk informasi lebih lanjut.

Perdana Menteri India Narendra Modi mengirim surat kepada Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern pada Jumat, mengatakan bahwa “kebencian dan kekerasan tidak memiliki tempat dalam masyarakat yang beragam dan demokratis”.

Seorang teroris berhaluan supremasi kulit putih berusia 28 tahun, diidentifikasi bernama Brenton Harrison Tarrant, telah didakwa membunuh 49 jamaah yang tengah berkumpul untuk menunaikan sholat Jumat dalam serangan video live.

Setidaknya 48 orang lainnya dilaporkan menderita luka tembak, dan beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.

Mayoritas korban adalah migran atau pengungsi dari negara-negara seperti Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, Turki, Somalia, dan Afghanistan.

Jumlah Muslim sekitar 1 persen dari populasi Selandia Baru, sementara ada sekitar 200.000 orang India atau orang asal India di negara kepulauan Pasifik itu. (T/R11/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)