Teheran, MINA – Rudal hipersonik Fattah-2 milik Iran dilaporkan memiliki kemampuan menembus sistem pertahanan udara paling canggih yang dimiliki Amerika Serikat dan Israel, sehingga menjadi perhatian baru dalam dinamika militer di Timur Tengah.
Teknologi rudal tersebut dinilai meningkatkan kemampuan serangan presisi Iran terhadap target strategis di kawasan. Farsnews melaporkan, Kamis (5/3).
Menurut laporan militer Iran, Fattah-2 dirancang dengan teknologi hipersonik yang memungkinkan rudal melaju dengan kecepatan sangat tinggi sekaligus bermanuver selama penerbangan.
Kombinasi kecepatan dan manuver ini membuat rudal lebih sulit dilacak maupun dicegat oleh sistem pertahanan udara modern seperti Patriot atau Arrow yang selama ini digunakan Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Iran Tantang Invasi Darat, Tegaskan Siap Permalukan Pasukan AS
Secara teknis, Fattah-2 merupakan rudal hipersonik jarak menengah yang dikembangkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Senjata ini dilengkapi kendaraan luncur hipersonik (hypersonic glide vehicle) yang memungkinkan perubahan arah saat meluncur di atmosfer, sehingga jalur terbangnya tidak mudah diprediksi oleh radar pertahanan.
Rudal tersebut disebut mampu melaju hingga sekitar Mach 13 hingga Mach 15 atau lebih dari 15.000 kilometer per jam dengan jangkauan sekitar 1.400 hingga 1.500 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, rudal Fattah-2 dinilai mampu menjangkau berbagai target militer di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer dan fasilitas strategis lawan.
Pengembangan Fattah-2 juga menunjukkan kemajuan teknologi rudal Iran dalam beberapa tahun terakhir. Iran diketahui memiliki salah satu arsenal rudal balistik terbesar di kawasan, dengan berbagai jenis rudal jarak pendek hingga menengah yang diklaim berfungsi sebagai sistem pertahanan dan penangkal terhadap ancaman militer dari luar.
Baca Juga: Dapat Senjata dari AS, Milisi Kurdi Mulai Operasi di Perbatasan Iran-Irak
Fattah-2 sendiri pertama kali diperkenalkan Iran pada November 2023 sebagai pengembangan dari rudal Fattah generasi sebelumnya. Dalam perkembangan terbaru, rudal ini dilaporkan mulai digunakan dalam konflik regional yang meningkat pada 2026, menandai babak baru persaingan teknologi militer di Timur Tengah sekaligus memicu kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik di kawasan tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Iran Tolak Dialog dengan AS, Sebut Diplomasi Tak Lagi Bisa Dipercaya
















Mina Indonesia
Mina Arabic