Sifat-sifat Rasul (Shifatur Rasul)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Meski sebagai manusia biasa, tapi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sifat-sifat kerasulan yang jauh lebih sempurna dibanding manusia pada umumnya. Di antara sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut.

Pertama, al-basyariyyatul kamilah (kemanusiaan seutuhnya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia seutuhnya; memiliki jasad seperti manusia pada umumnya, dan memiliki perasaan seperti manusia yang lainnya. Beliau makan, minum, pergi ke pasar, beristeri, berniaga dan lain sebagainya sebagaimana layaknya manusia.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rasul lainnya sama sekali tidak berkuasa mendatangkan ayat, petunjuk, mukjizat, keajaiban-keajaiban, atau apa pun namanya—kecuali dengan izin Allah Ta’ala. Seperti firman Allah Ta’ala,

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: ‘Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah.’” (Qs. Ibrahim, 14: 11).

Kedua, al-‘ishmah (terpelihara dari kesalahan dan dosa). Karena memiliki sifat basyariyyah (kemanusiaan), maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mungkin saja pernah berbuat salah atau keliru, tetapi kesalahannya itu akan segera diluruskan oleh Allah Ta’ala sehingga beliau terpelihara dari berlarut-larut dalam kesalahan dan dosa. Inilah yang disebut sifat ishmah (dijaga, dilindungi, dicegah, dan dikendalikan oleh Allah Ta’ala sehingga terhindar dari kesalahan dan dosa).

Salah satu contoh ishmah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah peristiwa yang pernah terjadi kepada beliau sebagaimana dimuat di awal surat At-Tahrim ini,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Tahrim, 66: 1)

Allah Ta’ala menegur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau bersumpah tidak akan meminum lagi madu, padahal madu itu adalah minuman halal. Sebabnya hanyalah karena menghendaki kesenangan hati istri-istrinya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari `Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu suka yang manis-manis dan senang madu. Di kala beliau kembali pada waktu Ashar, beliau pergi ke rumah istrinya. Waktu itu beliau tinggal pada Zainab binti Jahasy dan minum madu di sana. Maka bersepakatlah `Aisyah dengan Hafsah bahwa siapa saja di antara mereka berdua yang didatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaklah ia berkata kepadanya, “Saya mencium dari engkau Ya Rasulullah bau magafis (yaitu buah karet yang rasanya manis tetapi baunya busuk). Apakah engkau memakan magafis?”

Ketika pertanyaan itu disampaikan kepada Nabi, beliau menjawab, “Tidak, tetapi saya hanya meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Kalau begitu, saya tidak akan mengulangi lagi dan saya telah bersumpah.” Hal ini, ditegaskan di muka Hafsah karena kebetulan Hafsahlah yang didatangi. Maka Hafsah memberitahukan kepada Aisyah kejadian itu. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat merahasiakannya.

Ketiga, as-shidqu (jujur). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersifat jujur. Beliau tidak berdusta tentang apa yang diwahyukan kepadanya dari Allah Ta’ala,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ – إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. An-Najm, 53: 3-4).

Bahkan seluruh apa yang diucapkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sesuatu yang benar. Hal ini tergambar dari apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Amr,

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ عَنْ ذَلِكَ وَقَالُوا تَكْتُبُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ حَتَّى ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ

“Aku selalu mencatat segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar aku bisa menghafalnya. Kemudian orang-orang Quraisy berusaha menghalang-halangi, mereka berkata, ‘Kau menulis sementara Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (terkadang) mengatakannya pada saat marah atau ridha,’ maka aku pun berhenti (menulis dari beliau) hingga aku mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ‘Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah keluar dari (mulut) ini kecuali Al-Haq.’” (Musnad Ahmad 2/163).

Keempat, al-fathanah (cerdas). Dalam menjalankan tugasnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibekali oleh Allah Ta’ala sifat fathanah (cerdas), sehingga dapat menjelaskan wahyu Allah Ta’ala kepada seluruh umat manusia dengan sebaik-baiknya. Seperti dalam firman-Nya,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Jumu’ah, 62: 2).

Beliau menyeru manusia dengan hikmah (pengetahuan) dan pelajaran yang baik serta dialog yang terbaik sebagaimana diperintahkan Allah Ta’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An-Nahl, 16: 125).

Kelima, al-amanah (terpercaya), dan keenam, at-tabligh (menyampaikan risalah). Tentang at-tabligh ini, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Maidah, 5: 67).

Sifat amanah adalah sifat kerasulan. Tidak ada seorang Rasul pun yang tidak memiliki sifat mulia ini. Misalnya Allah Ta’ala menceritakan  di dalam Al-Qur’an tentang Nabi Shalih yang berkata kepada kaumnya,

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu,” (QS. Asy-syuara’, 26: 143).

Rasulun amin (rasul terpercaya) maknanya adalah sedikitpun ia tidak menambah, mengurangi, atau menyembunyikan risalah Allah Ta’ala yang diamanahkan kepadanya.

Ketujuh, al-iltizamul kamil (komitmen yang sempurna terhadap kebenaran). Beliau tidak pernah bergeser sedikitpun dari kebenaran. Salah satu contohnya adalah beliau tidak bergeming sedikitpun menghadapi tipu daya muyrikin Quraisy yang berusaha menodai dakwahnya.

Ibnu Ishak, Ibnu Mardawaih dan lain-lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal serta beberapa orang pemuka suku Quraisy berkata, “Mintalah berkah kepada tuhan-tuhan kami, dan kamipun akan bersama-sama kamu memasuki agamamu.”  Maka turunlah firman Allah Ta’ala menguatkan komitmen beliau,

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاتَّخَذُوكَ خَلِيلا  وَلَوْلا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلا إِذًا لأذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

“Dan mereka hampir memalingkan engkau (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-ada yang lain terhadap kami; dan jika demikian tentu mereka menjadikan engkau sahabat yang setia. Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka.  Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap kami.” (Qs. Al-Israa, 17: 73-75).

Begitu mulianya akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi, sudah menjadi kewajiban kita sebagai umatnya untuk meneladaninya dalam kehidupan ini hingga hayat memisahkan jasad. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab, 33: 21)

Beliau memiliki akhlaqul qur’an (akhlak Al-Qur’an), sebagaimana disampaikan istrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha,

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ

“Sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an. (HR. Muslim).(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)