SUDAN PERINGATI 100 TAHUN SYAIKH AS-SURKATI BERDAKWAH KE NUSANTARA

sudan sidiq
Seminar memperingati 100 tahun ulama Sudan, Syaikh Ahmad Muhammad As-Surkati di Universitas Internasional Afrika Khartoum, 15-17 Juni. (Sidik/MINA)

Khartoum, 1 Ramadhan 1436/18 Juni 2015 (MINA) – Masyarakat Sudan menyelenggarakan agenda memperingati 100 tahun ulama Sudan, Syaikh Ahmad Muhammad As-Surkati berhijrah dan berdakwah ke wilayah nusantara, di Universitas Internasional Afrika Khartoum, 15-17 Juni kemarin.

Koresponden Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) di Khartoum, Sudan melaporkan, agenda diselenggarakan oleh Dewan Persahabatan Global Masyarakat Sudan bekerjasama dengan Universitas Donggola, Universitas Internasional Afrika, Yayasan Syaikh Ahmad Muhammad As-Surkati, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Sudan & Eritrea,

Ketua Yayasan Syaikh As-Surkati di Sudan Syaikh Abdul Basit Abdul Majid mengatakan peringatan 100 tahun Syaikh As-Surkati hijrah ke Indonesia, untuk mengenal dan mempererat hubungan dakwah antara Sudan dan Nusantara khususnya Indonesia yang sudah terjalin sejak tahun 1911.

“Syaikh As-Surkati berdakwah dari Sudan hingga ke Indonesia mengembangkan agama Islam, dan diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Maulana Ibrahim Malang, Prof. Dr. Mudjia Rahardjo,M.Si. dalam ceramahnya pada acara tersebut mengatakan banyak pencapaian dakwah yang telah dilakukan oleh Syaikh As-Surkati di Indonesia.

“Pengembangan dakwah Islam di tanah Jawa dan berdirinya lembaga dakwah Al-Irsyad merupakan contoh capaian tersebut,” ujarnya.

Di samping dakwah, capaian lainnya adalah, As-Surkati menjadi inspiratory bagi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dan kemerdekaan Sudan tahun 1956.

Ia menambahkan, pemikiran Syaikh As-Surkati banyak diambil oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, seperti Presiden Pertama RI Soekarno, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, HOS Cokrominoto, M. Natsir, AR Baswedan, dan sebagainya.

Rektor UIN Malik Maulana Ibrahim Malang juga mengatakan, lembaganya di Indonesia siap untuk menjadi fasilator pelaksanaan seminar Inrternational tentang perjalanan serta pemikiran-pemikiran Syaikh As-Surkati, dalam dakwah di Indonesia dan di Sudan.

Mantan Duta Besar Sudan untuk Indonesia Prof. Dr. Hasan Makki mengatakan, dengan peringatan tersebut dapat meneruskan kemaslahatan bersama dan meningkatkan hubungan kerjasama Indonesia dan Sudan di berbagai bidang, baik ekonomi, budaya, pendidikan dan lainnya.

“Akan semakin kuat hubungan Indonesia dan Sudan di berbagai bidang,” ujar Mantan Rektor Universitas Internasional Afrika, yang pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Fatah Muhajirun Provinsi Lampung Selatan, Indonesia, tahun 2010 lalu.

Sejak itu, Pondok Pesantren Al-Fatah menjalin kerjasama pengiriman calon-calon mahasiswa ke berbagai universitas di Sudan, jurusan agama, bahasa Arab dan lainnya.

Sementara itu, dalam sambutannya Dubes Indonesia untuk Sudan dan Eritrea, Burhanudin Badruzzaman mengatakan, pemerintah Indonesia akan memfasilitasi setiap kegiatan yang berkesinambungan yang terkait dengan Syaikh As-Surkati

Turut hadir dalam seminar peringatan tersebut, utusan Perhimpunan Al-Irsyad Indonesia yaitu Dr. Hilmi Bakar Al-Mascaty, Yusuf Baisa dan Ahmad Muslih.

Wakil Presiden Sudan  Bakri Hasan Sholeh pada kesempatan itu memberikan penghargaan Kepada Keluarga Besar Syaikh Ahmad Muhammad As-Surkati dari Provinsi Donggola, Sudan.

Turut hadir Duta Besar RI untuk Sudan & Eritrea, Burhanudin Badruzzaman, Rektor Universitas Internasional Afrika Syaikh Prof. Kamal Obaed Ahmad, Ketua LSM Syaikh As-Surkati di Sudan, Syaikh Abdul Basit Abdul Majid, Keluarga Besar Syaikh As-Surkati dari Provinsi Donggola, Ketua Dewan Persahabatan Global Masyarakat Sudan, ulama, tokoh setmpat dan mahasiswa Indonesia di Sudan.

Dalam peringatan itu dilakukan pula peletakan batu pertama pembagunan Monumen Sejarah dan kegiatan malam kebudayaan dan kesenian antar kedua Indonesia dan Sudan, berupa penampilan nasyid, fashion show, dan seni beladiri.

as-surkati 2
Syaikh As-Surkati (Dok Al-Irsyad)

Perjalanan Syaikh As-Surkati

Syaikh Ahmad Muhammad As-Syaukati bin Muhammad Surkati al-Anshari atau dikenal dengan Syaik As-Surkati, dilahirkan tahun 1876 M di Desa Urqu, Provinsi Donggola, negara bagian Sudan.

Ayahnya Syaikh Muhammad Surkati diyakini masih punya hubungan keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Syaikh As-Surkati lahir dari keluarga terpelajar dan dalam lingkungan agamis. Ia dikenal cerdas sejak masih kecil. Dalam usia sekolah dasar, ia sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar di kompleks Masjid Al-Qaulid di Donggola, Ahmad Surkati kecil dikirim ayahnya belajar di Ma’had Sharqi Nawi, sebuah pesantren besar di Sudan pada waktu itu.

Ia lulus dengan hasil sangat memuaskan (mumtaz), dan ayahnya ingin ia bisa melanjutkan ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Namun pemerintahan Al-Mahdi yang berkuasa di Sudan waktu itu, melarang warganya meninggalkan Sudan. Maka, putuslah harapan As-Surkati muda muda untuk mengikuti jejak ayahnya, menjadi sarjana Al-Azhar.

Namun suatu waktu, dengan berbagai upaya, Ahmad Surkati muda akhirnya bisa juga lolos dari Sudan. Tapi kali ini berangkat menuju Hijaz (Mekkah & Madinah) untuk belajar agama Islam di sana.

Setelah ayahnya wafat tahun 1896 M, ia pun belajar di Mekkah, berguru pada Syaikh As’ad Addhan, Syaikh Abdurrahman Adduhan, dan Syaikh Muhammad bin Yusuf Alkhaiyat.

Hingga ia memperoleh gelar Al-Allaamah yang prestisius waktu itu, dari Majelis Ulama Mekkah, pada 1908 M.

Banyak ahli sejarah mengakui peran As-Surkati yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Namun namanya tak banyak disebut dalam wacana sejarah pergulatan pemikiran Islam di Indonesia hingga saat ini.

Meski berada di Mekkah, ia rutin berhubungan dengan ulama-ulama Al-Azhar Mesir melalui surat-menyurat. Hingga suatu waktu datang utusan dari Jami’at Khairat Indonesia untuk mencari guru. Para ulama Al-Azhar pun langsung menunjuk ke pada Syaikh Ahmad As-Surkati, yang dipandangnya mampu.

Lalu, Syaikh As-Surkati pun berhijrah dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia ke Pulau Jawa tahun 1911 M. Ia pergi bersama dua sahabat karibnya, Syaikh Muhammad Abdul Hamid As-Sudani dan Syaikh Muhammad Thayyib al-Maghribi.

Di samping mengajarkan Ilmu-ilmu agama Islam, Syaikh Ahmad Muhammad As-Surkati juga memberikan peran penting dalam pemikiran-pemikiran dalam kemerdekaan Republik Indonesia dan Sudan. (L/K006/P4).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0