Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Antara Pujian dan Ujian

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 19 Juli 2026 - 08:01 WIB

Ahad, 19 Juli 2026 - 08:01 WIB

23 Views ㅤ

Antara pujian dan ujian (Foto: Ai)

ADA kalanya Allah mengangkat nama seseorang di hadapan manusia. Lisan-lisan memujinya, tangan-tangan menyalaminya, dan banyak mata memandangnya dengan kagum. Namun, tidak semua pujian adalah hadiah; bisa jadi ia justru ujian yang sangat berat. Sebab, ketika hati mulai menikmati sanjungan, ia perlahan lupa bahwa semua kelebihan hanyalah titipan Allah. Hari ini dipuji karena ilmu, esok bisa diuji dengan kebodohan.

Hari ini seseorang bisa dipuji karena harta, esok bisa diuji dengan kemiskinan. Hari ini dipuji karena jabatan, esok bisa diuji dengan kehilangan. Hari ini dipuji karena banyak pengikut, esok bisa saja dilupakan. Begitulah dunia; ia tidak pernah menetap. Maka jangan sekali-kali menggantungkan kebahagiaan pada pujian manusia, karena pujian datang dan pergi secepat berubahnya hati mereka.

Realitas hari ini semakin menguatkan pelajaran tersebut. Di zaman media sosial, ukuran kemuliaan sering kali bergeser menjadi jumlah pengikut, banyaknya tanda suka, banyaknya tayangan, dan derasnya komentar pujian. Seseorang merasa dirinya berhasil ketika namanya ramai dibicarakan, padahal belum tentu ia dikenal di langit oleh para malaikat. Lebih menyedihkan lagi, ada yang rela mengorbankan keikhlasan demi popularitas, mengubah dakwah menjadi panggung pencitraan, bahkan menjadikan amal sebagai alat mencari tepuk tangan. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa amal yang paling bernilai adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dilihat dan dipuji manusia.

Betapa banyak orang yang tetap rendah hati saat belum dikenal, tetapi berubah setelah namanya mulai disebut-sebut. Dulu mudah menerima nasihat, kini sulit dikoreksi. Dulu senang mendengar kebenaran, kini lebih senang mendengar pujian. Padahal, pujian manusia tidak akan menambah sedikit pun kemuliaan di sisi Allah jika hati dipenuhi kesombongan. Sebaliknya, celaan manusia tidak akan mengurangi kemuliaan seorang hamba yang ikhlas. Yang berbahaya bukanlah ketika kita dicela, melainkan ketika kita terlena oleh pujian hingga berhenti bermuhasabah.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah menasihati, “Seorang mukmin menggabungkan antara amal yang baik dan rasa takut, sedangkan orang munafik menggabungkan antara amal yang buruk dan rasa aman.” Seorang mukmin tidak pernah merasa cukup dengan amalnya, justru semakin banyak beramal semakin besar rasa takutnya kepada Allah.

Para ulama salaf sangat takut terhadap pujian. Ketika seseorang memuji Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berdoa, “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui diriku daripada diriku sendiri. Ampunilah apa yang tidak mereka ketahui, jangan hukum aku karena apa yang mereka katakan, dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka sangka.”

Begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, beliau tidak menyukai sanjungan yang berlebihan karena khawatir akan menumbuhkan ujub dalam hati. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah bahkan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat ia obati selain niatnya sendiri, karena niat sangat mudah berubah. Inilah hati orang-orang saleh; semakin dipuji, semakin mereka merendahkan diri di hadapan Allah.

Sesungguhnya, setiap pujian hendaknya membuat kita semakin takut, bukan semakin bangga. Takut jika apa yang dipuji tidak sebanding dengan kenyataan diri kita. Takut jika Allah membuka aib yang selama ini ditutupi-Nya. Takut jika amal yang selama ini terlihat baik ternyata bercampur riya’ dan tidak diterima. Bukankah para salaf dahulu justru menangis ketika dipuji?

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Mereka khawatir manusia hanya melihat kebaikan yang tampak, sementara dosa-dosa yang tersembunyi hanya diketahui oleh Allah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Cukuplah ilmu itu menjadikan seseorang takut kepada Allah, dan cukuplah kebodohan itu ketika seseorang kagum terhadap dirinya sendiri.” Kalimat ini seakan mengingatkan bahwa ukuran ilmu bukanlah banyaknya ceramah atau pengikut, melainkan semakin dalam rasa takut kepada Allah.

Ujian kehidupan tidak selalu berupa kesulitan. Kemudahan, kekayaan, kesehatan, kecerdasan, jabatan, keluarga yang harmonis, bahkan penghormatan manusia juga merupakan ujian. Tidak sedikit orang yang sabar saat miskin, tetapi gagal bersyukur ketika kaya. Tidak sedikit yang kuat menghadapi hinaan, namun tumbang karena pujian. Ada yang mampu menahan lapar, tetapi tidak mampu menahan rasa bangga ketika disebut sebagai orang saleh. Karena itu, para salaf mengatakan, “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia tidak akan tertipu oleh pujian manusia.” Sebab ia sadar bahwa dosa-dosa yang ia sembunyikan jauh lebih banyak daripada kebaikan yang dilihat orang lain.

Jika suatu hari engkau dipuji, jangan buru-buru merasa pantas. Tundukkan kepalamu, perbanyak istighfar, lalu berdoalah sebagaimana doa Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka sangka.” Teruslah memperbaiki diri dalam sepi, karena Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia. Amal yang dilakukan saat tidak ada seorang pun yang menyaksikan sering kali lebih berat, tetapi justru lebih dekat kepada keikhlasan.

Pada akhirnya, hidup ini bukan perlombaan mencari tepuk tangan manusia. Dunia akan melupakan nama kita, tetapi Allah tidak akan melupakan satu sujud yang dilakukan dengan hati yang tulus. Maka jangan sibuk mengejar penilaian makhluk. Sibukkanlah diri mengejar ridha Sang Pencipta. Sebab ketika Allah telah ridha, pujian manusia tidak lagi membuat kita terbang, dan celaan mereka tidak lagi membuat kita tumbang.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Semoga setiap pujian menjadikan hati kita semakin tawadhu’, setiap ujian menjadikan iman kita semakin kokoh, dan setiap langkah kehidupan mengantarkan kita pulang menghadap Allah dengan hati yang bersih, amal yang ikhlas, serta wajah yang berseri karena memperoleh keridhaan-Nya.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Artikel
Artikel
Artikel