Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika Nabi Luth Hidup Hari Ini

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 20 Juli 2026 - 13:26 WIB

Senin, 20 Juli 2026 - 13:26 WIB

19 Views ㅤ

Bisa jadi, beliau akan berdiri di tengah dunia yang dipenuhi gedung-gedung tinggi, layar-layar digital, dan media sosial yang tak pernah berhenti berbicara.(Foto: ig)

SEANDAINYA Nabi Luth diutus pada zaman ini, mungkin beliau tidak akan berjalan menyusuri lorong-lorong kota Sadum seperti yang dikisahkan Al-Qur’an. Bisa jadi, beliau akan berdiri di tengah dunia yang dipenuhi gedung-gedung tinggi, layar-layar digital, dan media sosial yang tak pernah berhenti berbicara.

Beliau akan menyaksikan manusia yang semakin mudah terhubung satu sama lain, tetapi pada saat yang sama semakin sulit menemukan arah hidup yang benar. Beliau akan melihat bagaimana sesuatu yang dahulu dipandang sebagai penyimpangan kini diperdebatkan agar diterima sebagai sesuatu yang lumrah.

Namun, sebesar apa pun perubahan zaman, satu hal yang tidak akan pernah berubah adalah ajakan beliau untuk kembali kepada Allah. Sebab kebenaran tidak mengikuti perkembangan zaman, tetapi zamanlah yang seharusnya mengikuti petunjuk kebenaran.

Kisah Nabi Luth yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an bukan sekadar catatan sejarah tentang suatu kaum yang dibinasakan. Kisah itu adalah cermin agar setiap generasi mampu menilai dirinya sendiri. Allah mengingatkan melalui firman-Nya, “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwat, bukan kepada perempuan? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 81).

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Ayat di atas menunjukkan bahwa ketika hawa nafsu dijadikan ukuran dalam menentukan benar dan salah, manusia perlahan kehilangan arah. Hati yang tidak lagi diterangi wahyu akan mudah menerima sesuatu yang semula dianggap keliru, hingga akhirnya menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Perubahan seperti ini hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia bergerak perlahan, masuk melalui tontonan, percakapan, budaya populer, media sosial, dan berbagai kebiasaan yang terus diulang setiap hari. Apa yang awalnya terasa asing lambat laun menjadi akrab. Apa yang dahulu menggugah hati untuk menolak, perlahan kehilangan daya sentaknya.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging; apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh kehidupan. Segumpal daging itu adalah hati. Karena itu, pertarungan terbesar bukan sekadar terjadi di ruang publik, melainkan di dalam hati setiap manusia.

Namun, ada pelajaran penting dari dakwah Nabi Luth yang sering luput dari perhatian. Beliau tidak datang untuk mencaci atau membenci kaumnya. Beliau datang membawa kasih sayang, mengajak mereka kembali kepada jalan Allah sebelum penyesalan datang. Inilah hakikat dakwah Islam: menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, mengingatkan dengan hikmah, serta tetap menghormati martabat setiap manusia.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Islam memuliakan seluruh keturunan Adam, tetapi pada saat yang sama mengajarkan bahwa kemuliaan itu harus dijaga dengan menaati aturan Allah, bukan dengan mengikuti setiap keinginan hawa nafsu.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, tanggung jawab keluarga, para pendidik, dan para dai menjadi semakin besar. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi berbagai pengaruh, bahkan sebelum mereka cukup dewasa untuk memilah mana yang benar dan mana yang keliru.

Karena itu, rumah harus kembali menjadi tempat pertama yang menanamkan keimanan, akhlak, dan kecintaan kepada fitrah yang Allah tetapkan. Generasi muda tidak hanya memerlukan pengetahuan, tetapi juga keteladanan yang hidup dalam keseharian.

Pada akhirnya, kisah Nabi Luth bukanlah kisah untuk menghakimi manusia, melainkan peringatan agar kita tidak kehilangan fitrah yang Allah anugerahkan. Dunia akan terus berubah, nilai-nilai akan terus diperdebatkan, tetapi wahyu tetap menjadi cahaya yang tidak pernah padam.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Barangkali, jika Nabi Luth hadir di tengah kita hari ini, beliau akan mengulurkan tangan kepada manusia dengan penuh kasih seraya berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu. Jangan biarkan derasnya arus zaman menjauhkanmu dari fitrah yang telah Allah tanamkan. Karena kebahagiaan sejati bukan terletak pada mengikuti setiap keinginan hati, melainkan pada menemukan kembali jalan pulang menuju ridha-Nya.” Wallahua’lam.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Artikel
Artikel