Tadabbur Surat An Nas

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Surat An Nas atau yang dikenal juga dengan nama Qul a’udzu bi rabbi an naas adalah surat ke 114 dari seluruh isi surat yang ada di dalam al Qur’an. Dinamakan An Nas karena penyebutannya dalam surat ini berulang-ulang. Sementara dinamakan Qul a’udzu bi rabbi an naas karena Allah Ta’ala memulai surat ini dengan kalimat tersebut.

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,

مَلِكِ النَّاسِۙ

Raja manusia,

اِلٰهِ النَّاسِۙ

sembahan manusia,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

dari (golongan) jin dan manusia.”

Asbabun Nuzul Surat An Nas

Surat An Nas terdiri dari enam ayat. Kata An Nas yang berarti “manusia” diambil dari ayat pertama. Ia disebut pula surat Qul a’udzu birabbin naas. Bersama surat Al Falaq, keduanya disebut al mu’awwidzatain. Yakni dua surat yang menuntun pembacanya menuju tempat perlindungan.

Surat Al Falaq disebut al mu’awwidzah al ‘ula. Sedangkan Surat An Nas disebut al mu’awwidzah ats tsaaniyah. Bersama Surat Al Falaq, oleh Al Qurthubi juga disebut al muqasyqisyatain, yaitu yang membebaskan manusia dari kemunafikan.

Surat ini turun bersama surat Al Falaq. Menurut pendapat Hasan, Atha’, Ikrimah dan Jabir, Surat An Nas adalah surat makkiyah. Ini merupakan pendapat mayoritas. Namun ada juga yang berpendapat Surat An Nas adalah madaniyah berdasarkan riwayat Ibnu Abbas dan Qatadah.

Dikisahkan kala itu, kafir Quraisy Makkah berupaya mencederai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ‘ain. Yakni pandangan mata yang merusak atau membinasakan. Lalu Allah menurunkan dan mengajarkan Surat Al Falaq dan Surat An Nas ini kepada Rasulullah untuk menangkalnya. Ini asbabun nuzul yang menjadi tumpuan pendapat bahwa Surat An Nas makkiyah.

Sebagian ulama lebih detil menyebut surat An Nas merupakan surat ke-21 yang turun kepada Rasulullah dari segi tertib turunnya. Yakni sesudah Surat Al Falaq dan sebelum Surat Al Ikhlas.

Asbabun nuzul yang menjadi dasar pendapat ayat ini Madaniyah, surat ini diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saat seorang Yahudi Madinah bernama Lubaid bin A’sham menyihir beliau.

Lubaid bin A’sham menyihir Rasulullah dengan media pelepah kurma berisi rambut beliau yang rontoh ketika bersisir, beberapa gigi sisir beliau serta benang yang terdapat 11 ikatan yang ditusuk jarum. Lalu Allah menurunkan Surat Al Falaq dan An Nas.

Dalam riwayat itu disebutkan, setiap satu ayat dibacakan, terlepaslah satu ikatan hingga Rasulullah merasa lebih ringan. Ketika seluruh ayat telah dibacakan, terlepaslah seluruh ikatan tersebut.

Adapun pembahasan utama dari surat An Nas ini lebih kepada permohonan perlindungan seorang hamba kepada Allah Ta’ala dari segala hal yang bisa merusak agamanya.

Dalam surat ini, seorang hamba muslim meminta perlindungan dari kejahatan bisikan setan yang tersembunyi. Di mana setan-setan itu akan masuk ke dalam dada setiap manusia untuk menyuruhnya berbuat kejahatan. Setan yang dimaksud dalam surat ini adalah setan dari jenis jin dan manusia itu sendiri.

Karena sangat bahayanya bisikan-bisikan setan, sampai-sampai penyebutan nama Allah sebagai tempat berlindung dalam surat ini disebut tiga kali dengan nama yang berbeda tapi maksud yang sama, seperti kalimat, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia dan Sembahan manusia…”.

Faedah surat An Nas

Pertama, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dalam surat Al-Falaq dengan satu sifat Allah dari empat keburukan. Adapun dalam surat An Nas, memohon perlindungan dengan tiga sifat Allah dari satu keburukan saja. Seperti disebut di atas tadi, hal ini karena musibah dalam perkara dunia itu kecil walaupun banyak. Tapi, musibah dalam agama itu besar walaupun hanya sedikit.

Kedua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Uqbah bin Amir ra. katanya, “Bacalah Al-Mu’awwidzatain (Al Falaq dan An Nas) dalam shalatmu karena seseorang yang meminta perlindungan kepada Allah dengan keduanya lebih baik dari lainnya.” (HR. Abu Daud, Shahih Al-Jami’ no. 1160).

Ketiga, jika ada yang bertanya, “Mengapa Allah mendahulukan sifat Rabb, lalu Al-Malik, lalu Ilaah dalam surat ini?” Maka jawabannya adalah ini urutan dalam tingkatan e katas karena Rabb bisa diungkapkan kepada banyak manusia seperti Rabb Ad-Daar (pemilik rumah).

Lalu Al-Malik tidak diungkapkan kepada manusia melainkan hanya sedikit karena sifat ini dimiliki oleh para raja. Kemudian Ilaah lebih tinggi dari Rabb dan Malik karena raja tidak dapat dikatakan Ilaah, karena Ilaah hanya Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu di akhir surat An Nas ini kata Ilaah juga dijadikan penutup dari ketiganya, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)