Tentara Allah Itu Bernama Belalang, Bukti Kesempurnaan Ciptaan-Nya

Oleh Sakuri, Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek

 

Somalia menjadi negara pertama di Tanduk Afrika yang menyatakan keadaan darurat nasional akibat serbuan belalang yang melanda kawasan itu.

Serbuan belalang gurun menyebabkan kerusakan dan kelaparan bagi tanaman berskala besar, berdampak meningkatnya kerawanan pangan yang tinggi, dengan lebih dari 19 juta orang menghadapi kelaparan akut. Belalang telah menyebabkan apa yang Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sebut sebagai “situasi terburuk dalam 25 tahun” di Tanduk Afrika.

Padahal sebelum ini, publik dunia baru dikejutkan dengan adanya virus corona yang ditemukan pertama kali di daerah Wuhan, Cina, pada Ahad, 5 Januari 2020. Kemunculan virus tersebut meningkatkan kekhawatiran banyak orang di seluruh pelosok dunia, sebab dilaporkan penularannya begitu cepat tersebar, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempublikasikan virus corona ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Belalang dalam Al-Quran

Belalang (Valanga Nigricornis) adalah hewan yang banyak ditemukan di areal pertanian, perkebunan dan persawahan.

Keberadaannya mencemaskan para petani karena dalam tempo singkat dapat mengobrak-abrik dedaunan hijau yang terhampar dan bahkan tanaman siap panen pun ludes seketika.

Belalang adalah bagian dari tentara Allah. Hewan ini disebut dua kali dalam Al-Quran, yaitu dalam kisah Nabi Musa pada surat Al-A’raf ayat 133 dan dalam surah Al-Qamar ayat 7.

Allah SWT berfirman:

فَاَ رْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَا نَ وَا لْجَـرَا دَ وَا لْقُمَّلَ وَا لضَّفَا دِعَ وَا لدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۗ فَا سْتَكْبَرُوْا وَكَا نُوْا قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ

“Maka kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raf ayat 133)

خُشَّعًا اَبْصَا رُهُمْ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَ جْدَا ثِ كَاَ نَّهُمْ جَرَا دٌ مُّنْتَشِرٌ ۙ

“Pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar ayat 7)

Ayat 133 Surat Al-araf diatas Allah mengisahkan tentang Nabi Musa saat berada di Mesir untuk membebaskan kaumnya Bani Israil dari siksaan Firaun. Sebagai bukti kebenarannya, Allah mengirimkan kepada mereka topan, katak, kutu, dan belalang dalam jumlah banyak.


Konsekuensi penolakan Firaun terhadap peringatan Allah

Meskipun wabah demi wabah silih berganti dari mulai topan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Allah berfirman dalam surat Al-A’raf, ayat 132-135

{وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ (132) فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (133) وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (134) فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ (135)

“Mereka berkata, Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.”

“Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

“Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu), merekapun berkata: Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada di sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu, dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.”

“Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ketika Musa ‘alaihissalam datang kepada Fir’aun, Musa ‘alaihissalam berkata kepadanya, “Lepaskanlah kaum Bani Israil untuk pergi bersamaku.”

Lalu Allah mengirimkan topan, yakni hujan yang sangat lebat kepada Fir’aun dan kaumnya. Dan ketika sesuatu dari hujan itu menimpa mereka, mereka merasa khawatir bila hujan itu merupakan azab. Lalu mereka berkata kepada Musa ‘alaihissalam ”Doakanlah buat kami kepada Tuhanmu agar Dia menghentikan hujan ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu.”

Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam berdoa kepada Tuhannya (hingga hujan itu berhenti), tetapi mereka tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil bersamanya. Maka pada tahun itu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkan tetumbuhan, rerumputan, dan buah-buahan yang banyak, sebelum itu belum pernah terjadi demikian. Maka mereka berkata, “Inilah yang selalu kami dambakan.”

Lalu Allah mengirimkan belalang kepada mereka yang merusak semua tetumbuhan mereka. Ketika mereka melihat kerusakan yang diakibatkan oleh belalang itu, maka mereka mengetahui bahwa tiada sesuatu pun dari tanaman mereka yang selamat.
Mereka berkata, “Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu buat kami agar Dia mengusir belalang ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berdoa kepada Tuhannya, maka Allah mengusir belalang itu dari mereka, tetapi mereka tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa. Dan mereka ber­lindung masuk ke dalam rumah-rumah mereka, lalu mereka berkata, “Kami telah berlindung.” Maka Allah mengirimkan kutu, yakni ulat yang keluar dari bebijian, kepada mereka.

Tersebutlah bahwa seseorang lelaki bila keluar dengan membawa sepuluh karung biji gandum ke tempat penggilingannya, maka begitu ia sampai ke tempat penggilingannya tiada yang tersisa kecuali hanya tiga genggam gandum saja (semuanya berubah menjadi ulat).

Mereka berkata, “Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan kutu ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berdoa kepada Tuhannya, maka lenyaplah kutu itu dari mereka. Tetapi mereka menolak, tidak mau melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa.

Ketika Musa ‘alaihissalam sedang duduk di hadapan Raja Fir’aun, tiba-tiba terdengarlah suara katak. Lalu Musa berkata kepada Fir’aun, “Apakah yang kamu dan kaummu jumpai dari katak ini?” Fir’aun berkata, “Barangkali ini pun merupakan tipu muslihat yang lain.”

Maka tidak lama kemudian yakni pada petang harinya tiada seorang pun yang duduk melainkan seluruh negeri penuh dengan katak sampai mencapai dagunya. Dan bila seseorang hendak berkata, begitu ia membuka mulutnya, maka pasti ada katak yang masuk ke dalam mulutnya.
Kemudian mereka berkata, “Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan katak-katak ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil bersamamu.”

(Setelah katak lenyap) mereka tetap tidak juga mau beriman. Lalu Allah mengirimkan darah kepada mereka, sehingga tidak sekali-kali mereka mengambil air minum baik dari sungai ataupun dari sumur-sumur, melainkan mereka menjumpai air itu dalam wadahnya berubah menjadi merah, yakni berubah menjadi darah segar.

Lalu mereka mengadu kepada Fir’aun, “Sesungguhnya kami telah dicoba dengan darah, dan kami tidak lagi mempunyai air minum.”

Fir’aun berkata, “Sesungguhnya dia (Musa) telah menyihir kalian.”

Mereka berkata, “Mana mungkin dia menyihir kami, tidak sekali-kali kami menjumpai air dalam wadah-wadah kami melainkan kami menjumpai­nya berubah menjadi darah yang segar.”

Mereka datang kepada Musa dan berkata kepadanya, “Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan darah ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan kami akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu.”

Musa berdoa kepada Tuhannya, maka Allah melenyapkan darah itu dari mereka, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, tidak mau pula melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamanya.

Populasi belalang

Belalang menanamkan telurnya di tanah berpasir. Belalang betina akan menggali lubang sedalam 10 hingga 15 cm, dan tiap ekor dapat menghasilkan telur 90 hingga 160 butir.

Belalang betina dapat menghasilkan telur tiga kali selama hidupnya.

Dalam kurun 10 hingga 45 hari, tergantung pada suhu tanah, telur belalang akan menetas dan menjadi anak belalang.

Mereka keluar secara bersama-sama dan jumlahnya bisa mencapai 40 hingga 80 juta ekor per kilometer persegi.

Ketaatan dan keteraturan belalang bukti kesempurnaan ciptaan-Nya

Belalang sebagai mahluk Allah memiliki loyalitas kepada Allah dan keteraturan yang mengagumkan merupakan bukti kesempurnaan ciptaan-Nya.

Meski serangga ini memiliki otot yang sederhana dan terdiri dari beberapa ikatan pokok, tetapi mengundang decak kagum.

Belalang dapat terbang untuk jarak tempuh yang jauh. Kadang-kadang seekor belalang terpisah dengan kawanannya sejauh 100 km dalam satu hari. Ia makan setiap harinya dua kali lipat dari beratnya.

Kawanannya mencakup jutaan belalang dan berpisah sejauh 350 km pada setiap bulannya.

Dengan kekuatan tulang yang dimilikinya, ia mampu mengepakkan sayapnya selama 16 jam dalam sehari.

Ditemukan ada dua model kawanan dari belalang yang terbang.

Ada kawanan terbang berkelas, kawanan ini tampak dalam bentuk garis memanjang terdiri dari personel belakang yang berbaris rapi.

Model belalang ini terbang pada ketinggian yang rendah tidak lebih dari 300 meter di atas permukaan bumi.

Kawanan ini lebih banyak terlihat pada saat siang hari, ketika sinar matahari terang benderang.

Ada juga model personel belalang saling bertumpukan antara satu dengan lain di udara dalam bentuknya secara keseluruhan seperti tugu.

Rata-rata belalang pada model ini terbang dengan ketinggian mencapai 1.000 meter di atas permukaan bumi.

Ketika melakukan suatu perjalanan, masing-masing model dari kawanan belalang ini memiliki bentuk yang berbeda-beda, tergantung pengaruh arah angin yang dihadapinya.

Mereka terkadang mengawali perjalanan dengan membentuk formasi berkelas tetapi kemudian mereka merubahnya dengan formasi tugu. Perubahan mereka lakukan terutama ketika suhu panas udara meningkat pada saat mereka mengawali perjananan terbangnya.

Pembagian personel dalam satu kawanan berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain. Kita dapat menemukan kaki-kaki dari personel kawanan belalang itu tertata rapi, gerakan langkahnya sama, dengan semua kepala menghadap ke depan.
Kita juga menemukan pembagian di tengah kawanan tersebut dilakukan secara acak. Dari pembagian atau penyebaran secara acak tersebut menjadikan arah angin yang berlawanan bertambah kencang menerpa kawasan ini.

Subhanallah, Allah telah melengkapi pada ciptaan-Nya ini berupa alat indikator atau detektor yang dapat menginformasikan kepada pimpinan rombongan terbang kawanan belalang itu bila ada atau merasakan ada personel paling belakangnya telah tertinggal jauh dari personel paling depan, barisan kawanan pun semrawut dan para anggotanya cerai-berai, maka barisan paling depan akan memperlambat gerakannya, sehingga mereka yang berada di belakang dapat menyusulnya untuk bergabung kembali ke dalam barisan, dengan begitu, kawanan belalang ini selalu dapat menjaga stabilitas bentuknya.

Tidak mungkin ada seekor belalang kabur dari kawanan ini dan keluar jauh dari barisannya untuk terbang bebas.

Seandainya hal itu terjadi, maka ia akan segera bergabung untuk kedua kalinya dalam kelompoknya.

Kawanan belalang yang terbang menyemprotkan air dari udara ke bawah ketika melihat seekor belalang berdiam diri dan betengger di tanah. Semprotan berikutnya berasal dari udara ke udara oleh kawanan belalang yang terbang dan sedang berlalu-lalang di alur jalan yang sudah ditetapkan.

Ya Rabb tidaklah Engkau ciptakan mahluk yang bernama belalang itu sia-sia. Engkau ciptakan belalang yang tidak berakal ini dapat hidup berjamaah, berkerumun, mengarahkan tempat dan laju perjalanannya dengan cara yang mencengangkan mengikuti komando pimpinannya.

Dan pimpinan yang senantiasa membimbing dan mengarahkan makmumnya agar tidak kabur dari kawanan ini dan keluar jauh dari barisannya untuk terbang bebas.

Andaipun ada yang kabur, maka ia akan segera bergabung kembali untuk mengikuti kawanannya.

Maha suci Engkau maka hindarkan kami dari siksa api neraka.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wallahu a’lamu bis showaab. (A/RS5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)