Teheran, MINA – Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut dengan menargetkan sejumlah lokasi di Provinsi Bushehr, Iran selatan, pada Selasa (14/7).
Televisi Iran melaporkan pasukan AS menargetkan empat lokasi di Provinsi Bushehr dalam serangan militer terbaru terhadap Republik Islam Iran. Mengutip Al Mayadeen.
Seorang pejabat keamanan Provinsi Bushehr mengatakan berdasarkan penilaian awal tidak terdapat korban jiwa akibat serangan tersebut.
Ia menambahkan kondisi di wilayah itu tetap tenang, sementara lembaga bantuan, pelayanan publik, dan aparat keamanan berada dalam kondisi siaga.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Laporan tersebut muncul setelah kantor berita Iran, Fars, melaporkan suara ledakan terdengar di Kota Bushehr dan Jaghadak di wilayah selatan negara itu.
Serangan AS terhadap Iran ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran.
Washington menyebut langkah itu berkaitan dengan upaya mengendalikan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz.
Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi yang menjelaskan secara rinci mengenai sasaran maupun cakupan serangan terbaru di Bushehr.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Iran Balas Serang Pangkalan AS di Bahrain
Di tengah meningkatnya ketegangan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan operasi balasan dengan menargetkan sejumlah aset yang terkait dengan Amerika Serikat.
IRGC menyatakan telah menyerang pangkalan Juffair di Bahrain yang menjadi lokasi fasilitas Armada Kelima Angkatan Laut AS menggunakan rudal dan pesawat nirawak.
Iran mengklaim serangan tersebut menghantam fasilitas seperti gudang persenjataan, pusat komunikasi satelit, serta area akomodasi personel militer AS.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Teheran menyatakan sejumlah target telah dinetralisasi dalam operasi tersebut.
Selain itu, IRGC juga menyatakan telah menargetkan dua kapal tanker super di Selat Hormuz, yakni Mombasa dan Al-Bahiya, yang menurut Iran melanggar aturan navigasi maritim.
Iran menilai kedua kapal berbendera Liberia tersebut mematikan sistem pelacakan dan mencoba melewati jalur yang dianggap terlarang di dekat perairan Oman.
Teheran menyebut tindakan itu sebagai ancaman terhadap keamanan pelayaran di kawasan.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Ketegangan Selat Hormuz Meningkat
Eskalasi antara AS dan Iran semakin meningkat setelah Washington kembali menerapkan blokade laut terhadap Iran dan meningkatkan operasi militer di kawasan Teluk.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan operasi terbaru bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Sementara Iran menegaskan bahwa negara tersebut akan terus mempertahankan kepentingannya di kawasan dan memperingatkan seluruh kapal agar mematuhi aturan pelayaran yang ditetapkan otoritas Iran.
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
Konfrontasi terbaru antara AS dan Iran menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Marinir AS Ditangkap, Kemarahan Jepang Kembali Membara di Okinawa
















Mina Indonesia
Mina Arabic