Washington, MINA– Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya berada dalam posisi menguntungkan dalam konflik dengan Iran. Dalam pernyataannya pada Rabu (28/10), ia menyebut kekuatan militer dan keuangan Iran telah terpukul.
Di hadapan pendukungnya dalam sebuah kampanye di Ohio, Trump mengatakan Iran kesulitan memproduksi drone karena pasokan listrik terputus. Ia juga menyebut persediaan rudal Iran kian menipis.
Klaim tersebut disampaikan sepihak dan belum ada konfirmasi independen maupun tanggapan resmi dari Teheran. The National News Desk melaporkan.
Trump menyatakan proses negosiasi dengan Iran berjalan lewat perantara, namun ia belum tahu apakah perundingan itu akan berhasil. Ia menegaskan Washington perlu “menuntaskan pekerjaan” lewat kesepakatan atau jalan lain.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Saat ditanya soal kemungkinan serangan setelah pemilu sela AS pada 3 November, ia hanya menjawab “segala kemungkinan terbuka”, tanpa mengumumkan operasi baru.
Pernyataan itu sejalan dengan penilaian Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang menyebut tekanan Washington telah menekan ekspor minyak Iran hingga nol. Menurut estimasi internal AS, ekonomi Iran menyusut hingga 25 persen sepanjang Maret 2025 hingga Maret 2026.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga menyebut blokade laut AS menghalangi ekspor minyak mentah Iran senilai minimal 25 miliar dolar AS sejak operasi dilanjutkan pada 14 Juli.
Di sisi lain, perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 itu turut membebani Washington. Estimasi CENTCOM menunjukkan biaya perang bagi militer AS mencapai minimal 47,1 miliar dolar AS hingga pertengahan Oktober, lebih dari 25 persen di atas perkiraan Pentagon pada Juli.
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Penanganan perang dan dampak ekonominya pun menjadi sorotan jelang pemilu sela.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
















Mina Indonesia
Mina Arabic