Washington, MINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyingkirkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dari pembicaraan utama terkait negosiasi dengan Iran.
Langkah itu muncul setelah Netanyahu terus mendesak opsi militer, sementara Washington memilih membuka jalur diplomasi untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah. Times of Israel melaporkan, Ahad (24/5).
Sejumlah laporan media internasional menyebut hubungan Trump dan Netanyahu belakangan mengalami ketegangan serius. Dalam percakapan tertutup antara keduanya, Netanyahu disebut menolak usulan gencatan senjata dan kesepakatan awal yang sedang dirancang mediator internasional.
Trump justru memilih melanjutkan komunikasi dengan Iran melalui jalur diplomatik yang dimediasi Pakistan dan beberapa negara Teluk.
Baca Juga: Trump Ancam Gunakan Veto Usai Demokrat Menang Pemilu Sela AS
Pemerintahan Trump saat ini disebut fokus menyelesaikan kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian sementara eskalasi perang, serta pembahasan program nuklir Iran.
Trump bahkan menyatakan bahwa kesepakatan dengan Teheran “hampir selesai dinegosiasikan”, meski masih menunggu finalisasi dari semua pihak terkait.
Di sisi lain, Netanyahu tetap bersikeras bahwa ancaman Iran harus diselesaikan melalui tekanan militer dan penghancuran fasilitas nuklir Iran. Sikap keras tersebut dinilai bertentangan dengan pendekatan Trump yang kini berusaha menghindari perang berkepanjangan di Timur Tengah karena berpotensi memukul ekonomi global, terutama jalur distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz.
Pengamat politik internasional menilai langkah Trump menjauhkan Israel dari meja negosiasi menjadi sinyal perubahan strategi Washington terhadap konflik kawasan.
Baca Juga: Demokrat Unggul di Pemilu Sela AS, Keisha Bottoms hingga Deb Haaland Ukir Sejarah Baru
Selama bertahun-tahun, Israel dianggap memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan AS terkait Iran. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan Washington mulai mengutamakan stabilitas regional dan kepentingan ekonomi global dibanding mengikuti seluruh agenda politik Tel Aviv.
Meski demikian, situasi kawasan masih sangat rentan. Negosiasi yang berlangsung belum menghasilkan kesepakatan final, sementara serangan sporadis dan ancaman militer masih terus terjadi di beberapa titik konflik Timur Tengah.
Pemerintah Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tetap berhati-hati terhadap proposal AS dan menuduh Washington masih menghambat sejumlah klausul penting dalam rancangan perjanjian damai tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Yair Golan Kritik Netanyahu Usai Trump Umumkan Penghentian Bantuan AS untuk Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic