Ulama Saudi: Gaza Adalah Sebuah Mukjizat

Dr Saad al-Faqih begitu dikenal, ia memiliki nama lengkap Saad bin Rashid bin Mohammed al-Faqih al-Angari al-Tamimi seorang warga Saudi merupakan seorang konsultan ahli bedah, mantan asisten profesor, dan sangat dikenal sebagai seorang alim cendikiawan yang sering beroposisi atas kebijakan Kerajaan Arab Saudi.

Dalam tulisannya tentang konstelasi perang Gaza-Israel terakhir ini, beliau menguraikan beberapa prespektif yang menarik dipahami dan diamini,  yakni apakah situasi dan kejadian yang terjadi di Jalur Gaza, apakah ia dapat dikategorikan sebagai sebuah mukjizat?

Lewat sebuah pertanyaan yang disampaikan kepadanya, “apa yang telah dicapai Jalur Gaza (Kemenangan Perang melawan Israel) adalah hasil dari perhitungan politik manusia atau ia adalah mukjizat yang tidak biasa?”.

Dr Faqih menjawab, itu merupakan mukjizat istimewa yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Setidaknya karena delapan hal berikut ini:

Pertama, Jalur Gaza memiliki panjang 40 KM dan lebar 9 KM, total wilayahnya setara hanya 20% saja dari luas kota Riyadh Arab Saudi.

Di Gaza hidup lebih dari 2 juta jiwa, mereka bertani, mengelola layanan kesehatan, pendidikan, di saat yang sama mereka melatih, mempersenjatai, membuat roket, dan waspada 24 jam jika sewaktu-waktu Israel melakukan penyerangan.

Kedua, Gaza berada di bawah blokade Israel yang mencekik wilayah darat, laut dan udara yang sudah berlangsung selama 15 tahun.

Blokade Israel atas semua akses yang menopang keberlangsungan hidup manusia; bahan bakar, bahan bangunan, pupuk pertanian dan perkebunan, serta senjata dan amunisi.

Selain blokade, tentu pengepungan, pengeboman dan penghancuran berulang, yang mengganggu keberlangsungan hidup pada umumnya.

Ketiga, Zionis merupakan ancaman utama Gaza. Zionis memiliki persenjataan paling destruktif dan canggih di dunia dengan teknologi terbaik sedunia, selain pasukan yang terlatih dalam pertempuran, sarana lengkap dengan senjatanya, juga alat retas untuk memata-matai setiap aktifitas yang terakurat sedunia yang digunakan untuk mengumpulkan informasi.

Keempat,  negara Zionis yang disokong penuh secara keuangan, politik, militer, intelijen dan media oleh negara paling kuat di dunia Amerika Serikat, Uni Eropa dan banyak lagi negara lainnya, sehingga Israel memiliki lampu hijau untuk melakukan apapaun yang ia kehendaki termasuk melanggar hukum internasional dari mulai pembunuhan, perusakan, dan pengusiran.

Kelima, negara Zionis dilindungi oleh sebagian besar negara Arab, Mesir meblokade Gaza lebih keras dari blokade Israel sendiri. Negara lainnya hanya sekedar bersimpati pada Gaza bukan membantu secara finansial. Keberadaan media-media raksasa yang Arab Saudi dan UEA miliki malah mengutuk perlawanan Gaza dan justru mengindahkan Israel.

Keenam, selain media, pemerintah negara Arab terutama Mesir, Arab Saudi dan UEA, melalui intelijen yang mereka miliki membuat buzzer-buzzer yang mendukung Israel, menggiring opini publik untuk membenci gerakan perlawanan Gaza merupakan tindakan kriminal. Nahasnya, itu menjadi penilaian kebenaran yang berasal dari opini umum masyarakat.

Ketujuh, yang lebih berbahaya dari semuanya adalah peran Otoritas Palestina dengan pengkhianatannya terhadap rakyat di Tepi Barat untuk menolong mereka yang berada di Gaza, dan rakyat Gaza yang ingin menolong saudaranya di Al-Quds, secara tidak langsung otoritas Palestina telah membantu Israel dengan kekuatannya.

Kedelapan, bahaya lainnya yang cukup serius. Gaza tidak terlepas dari keberadaan para pengkhiatan yang mereka berjiwa lemah, mereka inilah yang secara tidak langsung menghamba pada Zionis dengan berbagai upaya lobi melalui otoritas Palestina atau Mesir, bisa jadi melalui lembaga amal atau kemanusiaan yang berkiblat melawan keberadaan gerakan perlawanan Palestina

Maka oleh karena itu, Gaza adalah sepetak tanah yang begitu tersulitkan dari segala arah, dilemahkan segala sumber dayanya, dibatasi semua gerak geriknya selama 15 tahun. Akan tetapi, Gaza bisa bertahan dan masih hidup, rakyatnya makan minum seperti biasanya, bahkan memproduksi roket, bom dan berperang melawan musuh dan mendapatkan kemenangan. Bukankan itu dinamakan mukjizat?

Mukjizat atau keajaiban ini tidaklah terjadi secara alami, hal seperti ini mungkin terjadi pada zaman para nabi, di mana ketika perhitungan kalkulasi politik dan kekuatan mengatakan mustahil dilakukan, justru dengan keimanan, rasa amanah, tanggungjawab, kesabaran dan ribath berhasil terwujdukan kemenangan.

Maka pesan untuk masyarakat dan para elit Islam, mereka harus bangun dan sadar atas kekuatan yang terpendam dan menghilangkan rasa takut terhadap musuh. Jika Gaza berhasil melawan hegemoni raksasa dunia yang menyerang dan menyekapnya, maka umat seharusnya lebih mampu melakukan perlawanan terhadap tirani yang menzalimi mereka.

Selanjutnya, Dr Faqih menjelaskan, Israel yang diagungkan sebagai negara super canggih dengan teknologi mutakhir yang mereka miliki harus tunduk menyerah di hadapan sepetak wilayah yang terblokade. Maka bersiaplah bahwa kunci kemenangan ini adalah kembali sepenuhnya kepada agama (Islam) dengan memuliakan dan mengagungkannya.

Dalam pernyataan terakhirnya, Dr Faqih mewanti-wanti kepada negara-negara yang mendukung Israel termasuk negara Arab Islam, kemenangan Gaza atas Israel adalah bukti nyata bahwa dukungan pada Israel adalah kerugian, sebaiknya negara-negara tersebut angkat kaki dan memutus hubungan dengan Israel jika mereka menginginkan kebaikan negara dan rakyatnya.

“coba anda renungkan, gunakan logika bagaimana Israel akan menghadapi masa akhirnya, dan ingatlah apa yang sejarah akan catat, siapa saja negara-negara akan hancur binasa, orang bijak adalah orang yang bersiap untuk masa yang akan datang, terutama bagi mereka yang mencintai kehidupan dan kedamaian,” tutup Dr Faqih. (AT/A1/RS3)

 

Miraj News Agency (MINA)