Gaza, MINA – Direktur Kesehatan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Akihiro Seita memperingatkan bahwa Jalur Gaza bukan lagi sekadar wilayah yang dilanda perang, tetapi perlahan berubah menjadi tempat yang hampir mustahil untuk ditinggali.
Dalam wawancara daring dengan kantor berita Jepang, Jiji Press, Seita menegaskan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 sama sekali tidak mengakhiri penderitaan warga Gaza.
“Gaza semakin menjadi tempat yang mustahil untuk ditinggali,” ujar Seita seperti dikutip dalam laporan tersebut, Rabu (14/10).
Meski kesepakatan gencatan senjata telah ditandatangani, serangan Israel dilaporkan masih terus terjadi. Selain itu, pasukan Israel kini menguasai sekitar 70 persen wilayah Gaza, jauh melampaui batas yang disepakati dalam perjanjian.
Baca Juga: Israel Buka Tender 1.080 Unit Permukiman Baru di Yerusalem Timur
Akibatnya, sekitar dua juta warga Palestina terhimpit di sisa wilayah yang tersedia. Sebagian besar dari mereka tinggal di tenda-tenda darurat dengan akses terbatas terhadap air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya.
Krisis di Gaza tidak hanya berkaitan dengan tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari. Sistem kesehatan wilayah tersebut juga berada di ambang kehancuran.
Pasokan obat-obatan dan alat medis kian menipis, sementara akses masuk bantuan terus dibatasi. Fasilitas kesehatan yang masih beroperasi pun kewalahan menghadapi lonjakan kebutuhan warga.
Kondisi hidup yang buruk turut memicu kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit kulit dan infeksi menular lainnya. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa intervensi segera, Gaza berpotensi menghadapi wabah kesehatan yang lebih luas.
Baca Juga: Ben-Gvir Gunakan Kebencian terhadap Arab dan Islam sebagai Kampanye Pemilu
Terbatasnya akses terhadap layanan medis dan kebutuhan dasar semakin memperberat kondisi warga Palestina yang masih bertahan di tengah konflik dan kerusakan infrastruktur.
Lebih dari tiga tahun sejak perang dimulai pada Oktober 2023, upaya rekonstruksi Gaza nyaris tidak menunjukkan kemajuan berarti. Kerusakan infrastruktur, terbatasnya bantuan, dan berlanjutnya kontrol Israel menjadi tantangan besar bagi pemulihan wilayah tersebut.
Lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan telah tewas, sementara ribuan lainnya masih hidup dalam ketidakpastian akibat konflik dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa lambatnya pembangunan kembali, kontrol Israel yang terus berlanjut, serta kolapsnya layanan dasar membuat warga Gaza semakin sulit membayangkan kembalinya kehidupan normal.
Baca Juga: Krisis Dana Paksa PBB Pangkas Bantuan Pangan bagi 500.000 Warga Gaza
Peringatan UNRWA itu menyoroti bahwa krisis Gaza tidak hanya menyangkut konflik bersenjata, tetapi juga keberlangsungan hidup jutaan warga yang menghadapi keterbatasan tempat tinggal, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Serangan Drone Zionis Israel Tewaskan Empat Warga Palestina di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic