SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Upaya Iran Mengembangkan Iptek di Tengah Blokade dan Sanksi Dunia

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 16 menit yang lalu

16 menit yang lalu

1 Views

Ilustrasi: Kemajuan teknologi Iran (Tehran Times)

IRAN telah berhasil membangun kapabilitas ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang mengesankan meskipun tekanan sanksi internasional yang berlangsung lebih dari empat dekade. Keberhasilan ini didorong oleh strategi yang dikenal sebagai Ekonomi Perlawanan (Resistance Economy).

Konsep Ekonomi Perlawanan yang digagas oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bertujuan untuk memanfaatkan kemampuan domestik guna mengatasi kesenjangan akibat kebijakan AS dan untuk melindungi ekonomi dari sanksi. Strategi ini menjadikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai tulang punggung Iran.

Menurut Economic Complexity Index (ECI) dari Harvard dan MIT, Iran menempati peringkat ke-65 dari 120 negara dengan skor ECI 0,081, serta mengekspor 60 produk yang memiliki keunggulan komparatif. Ini berarti Iran telah berhasil mengakumulasi kapabilitas produktif yang cukup signifikan, walau tengah mengalami blockade dan sanksi.

Salah satu keberhasilan Iran paling nyata adalah ledakan jumlah Pengembangan Perusahaan Berbasis Pengetahuan (Knowledge-Based Enterprises).

Baca Juga: Gerakkan Ekonomi Umat, BAZNAS Hadirkan Gerai Z-Ifthar di 27 Kota se-Indonesia

Tahun 2013 hanya ada 50 perusahaan berbasis pengetahuan. Lalu tahun 2023 naik pesat menjadi 6.000 perusahaan. Kini, 2026 menjadi 7.000 perusahaan.

Pencapaian signifikan pun terjadi pada pendapatan perusahaan teknologi, yang pada 2021 mencapai lebih dari $5 miliar (Rp85,4 triliun). Iran juga memiliki 40 perusahaan berbasis pengetahuan dan telah terdaftar di bursa saham, serta 47 Taman Sains dan Teknologi yang telah didirikan di seluruh Iran.

Sektor Unggulan

Iran juga memiliki sektor spesifik yang berhasil dikembangkan, terutama di bidang kedokteran dan bioteknologi. Dalam hal ini Iran menempati peringkat 15-17 dunia dalam publikasi biomedis (SCImago 2025) dengan tingkat pertumbuhan tahunan 18-22%, tertinggi di dunia.

Baca Juga: Menguak Kekuatan Zakat: Kisah Bakkar Fried Chicken dari Mustahik Menjadi Muzaki

Di bidang ini, Iran memiliki prestasi utama, yaitu: Top 3-5 global dalam pengobatan tradisional & komplementer, Vaksin COVID-19 mandiri dengan COVIran Barekat dan Razi Cov Pars dikembangkan dan diproduksi massal, serta Studi CRISPR pada manusia pertama di kawasan (2023-2025) untuk thalassemia.

Di bidang teknologi militer dan rudal, Iran juga tak kalah majunya. Pejabat Kementerian Pertahanan Iran menyatakan bahwa kekuatan rudal Iran “tidak dapat disanksi” karena sepenuhnya berbasis pada pengetahuan dan kapasitas domestik.

Faktor kuncinya dikembangkan selama 45 tahun masa sanksi oleh “para martir besar” seperti Hassan Tehrani Moghaddam (Bapak sistem rudal Iran). Di samping itu, dalam bidang ini ketergantungan pada negara asing telah diminimalkan. Selain kekuatan rudal, sistem pertahanan udara, dan kemampuan pertahanan lainnya, yang kini dalam posisi lebih unggul dibanding masa sebelum perang.

Jenderal Amir Hatami, Kepala Staf Angkatan Darat Iran, menegaskan bahwa kekuatan pertahanan Iran justru karena sanksi, yang telah menjadikan kekuatan mandiri dan tidak dapat dihilangkan.

Baca Juga: Kisah Sukses Pennie dan Kurnia: Satu Visi Membangun Bisnis, Ikhlas Membantu Sesama

Teknologi nuklir Iran juga tidak kalah mengerikannya, setidaknya bagi Amerika.

Pada Desember 2025, Iran mengumumkan tiga pencapaian nuklir besar, yaitu: akselerator industri pertama buatan dalam negeri (100% hasil karya spesialis Iran selama 4 tahun), Produksi Carbon-13 canggih untuk aplikasi medis, nuklir, dan lingkungan, serta Reaktivasi siklotron yang tidak aktif selama 2 tahun akibat sanksi, seluruh komponen diproduksi sendiri.

Bidang lainnya yakni industri manufaktur, terutama otomotif. Industri otomotif Iran (10% PDB dan 4% lapangan kerja) adalah contoh nyata bagaimana sanksi memicu kemandirian. Ada dengan 154 komponen mobil utama kini diproduksi secara internal dengan bantuan perusahaan berbasis pengetahuan.

Upaya ini dapat menghemat devisa negara sekitar 400 juta euro (Rp7,9 triliun). Padahal sebelumnya, Iran sangat bergantung pada impor kit mobil dari perusahaan asing yang berhenti dipasok saat sanksi diberlakukan kembali pada 2018.

Baca Juga: 5 Jenis Usaha yang Diprediksi Laris Manis selama Bulan Ramadhan

Satu lagi, meskipun sanksi membatasi kerja sama dengan Barat, Iran aktif membangun kemitraan dengan negara-negara di Kawasan Timur, di antaranya dengan China, Rusia, India, Negara di Afrika dan Indonesia.

Penutup

Iran telah membuktikan bahwa sanksi eksternal, meskipun sangat memberatkan, tidak selalu mematikan kapasitas inovasi suatu negara. Justru dalam banyak kasus, sanksi bertindak sebagai katalis yang mempercepat kemandirian teknologi.

Keberhasilan tersebut tentu datang dengan harga yang mahal, berupa isolasi akademik yang parah, eksodus besar-besaran talenta terbaik, dan kesenjangan kualitas yang semakin lebar dengan pusat-pusat riset dunia.

Baca Juga: Dari Odol Herbal ke Puncak Karier, Jejak Entang Setiawan Membangun Bisnis

Begitulah, Iran saat ini adalah contoh impresif tentang ketahanan ilmiah dalam kondisi ekstrem, sekaligus contoh menyedihkan tentang bagaimana sanksi mempengaruhi tidak hanya rezim, tetapi juga seluruh generasi ilmuwan.

Negara-negara berkembang dan terbelakang tentu tidak perlu malu belajar dari ketahanan, kemandirian dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Iran, yang dapat eksplorasi dan diadaptasi untuk kemajuan masa depan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menguatkan Adab dan Etika di Tengah Gempuran Dunia Digital

Rekomendasi untuk Anda