Tel Aviv, MINA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha meredam spekulasi mengenai retaknya hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah muncul laporan bahwa Trump melontarkan makian keras dan menyebutnya “gila” dalam percakapan telepon terkait operasi militer Israel di Lebanon.
Netanyahu menegaskan bahwa perbedaan yang terjadi hanya bersifat teknis dan tidak mengubah hubungan erat kedua pemimpin tersebut.
Dalam wawancara dengan media Amerika, Netanyahu menyatakan dirinya dan Trump tetap memiliki tujuan yang sama, yakni menghadapi ancaman dari Hezbollah dan Iran. Anadolu melaporkan, Kamis (4/6)
Ia menggambarkan perbedaan pandangan yang muncul sebagai hal yang wajar terjadi di antara sekutu dekat yang tengah menghadapi situasi keamanan kompleks di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Sebelumnya, Trump mengonfirmasi laporan mengenai percakapan telepon bernada tinggi dengan Netanyahu.
Presiden AS itu mengaku marah setelah Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon yang dinilai berpotensi mengganggu upaya diplomatik Washington untuk mempertahankan gencatan senjata dan mendorong penyelesaian konflik regional.
Sejumlah laporan media internasional menyebut Trump bahkan memperingatkan Netanyahu bahwa tindakan militer Israel dapat semakin mengisolasi Tel Aviv di mata dunia internasional.
Ketegangan tersebut muncul ketika Amerika Serikat sedang berupaya menstabilkan situasi kawasan menyusul konflik yang melibatkan Israel, Lebanon, Iran, dan kelompok Hizbullah dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Meski demikian, Netanyahu menolak anggapan bahwa hubungan keduanya sedang berada dalam krisis. Ia menekankan bahwa Israel dan Amerika Serikat tetap bekerja sama dalam berbagai isu strategis, terutama terkait keamanan regional dan kebijakan terhadap Iran.
Hubungan pribadi Netanyahu dan Trump selama bertahun-tahun dikenal sangat dekat, bahkan Trump pernah memberikan sejumlah dukungan politik penting kepada Israel pada masa pemerintahannya.
Insiden adu argumen tersebut dinilai sejumlah pengamat sebagai cerminan meningkatnya perbedaan pendekatan antara Washington dan Tel Aviv dalam menangani konflik yang terus meluas di Timur Tengah.
Namun hingga kini kedua pihak masih menunjukkan komitmen untuk menjaga koordinasi strategis, di tengah tekanan internasional yang semakin besar agar konflik di Lebanon dan Gaza segera diakhiri melalui jalur diplomasi. []
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic