Ustaz Hayatdin Pendaki Gunung: Merasakan Kebesaran Allah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA (Mi’raj News Agency)

Ustaz Hayatdin,ST,MM (60 tahun), seorang da’i, pensiunan swasta, mempunyai hobi mendaki gunung sejak mudanya. Sejak tahun 1978, saat berusia 18 th, ia sudah mulai menyalurkan hobinya bersama teman-teman sebayanya.

Masa belajar kecilnya ia tempuh di SD Pangkalpinang (1975), SMPN 5 Bogor (1978) dan STM Bogor (1982).

Mula-mula pria kelahiran kelahiran 19 November 1961, mencoba mendaki Gunung Gede Pangrango. di Jawa Barat, dengan ketinggian 2.958 mdpl (meter di atas permukaan laut).

Juru dakwah yang biasa memberikan ceramah di seputaran Kabupaten dan Kodya Bogor, awalnya mendaki gunung hanya untuk olah raga dan menikmati keindahan alam.

Ia sendiri tidak bergabung dalam klub khusus pendaki gunung. Hanya dengan 2-3 rekannya, ia secara secara berkala mendaki gunung.

Persiapan fisik, logistik, teknik survival,  dan peralatan pendakian, ia pelajari dari Komunitas Wanadri dan buku-buku referensi.

Hayatdin, di puncak Gunung Cartenzs Pyramid Jayawijaya Papua (Hayatdin/MINA)

Kebesaran Allah

Beberapa gunung tertinggi di Indonesia dan luar negeri pernah ditaklukkan oleh alumni Universitas Ibnu Khaldun dan Universitas Terbuka tersebut.

Sebut saja, puncak Gunung Everest (6.350 mdpl) thn 2017 dan Gunung Cartenzs Pyramid Jayawijaya Papua (4.884 mdl) thn 2012, 2014, dan 2016. Lainnya, Gunung Kilimanjaro (Tanzania) dengan ketinggian 5.895 mdl di, dan Gunung Elburs (Rusia) ketinggian 5.455 mdpl.

Adapun beberapa puncak gunung terkenal di Indonesia yang pernah ia jelajahi, dan bendera merah putih ia kibarkan di atasnya, di antaranya : Gunung Ceremai (Jabar), Gunung Gede Pangrango (Jabar), Gunung Semeru (Jatim), Gunung Aryuno (Jatim), Gunung Ijen (Jatim), Gunung Raung (Jatim), Gunung Rinjani (Lombok, NTB), Gunung Kerinci (Jambi), Gunung Latimojong (Sulawesi), hingga Gunung Cartenzs Pyramid  (Jayawijaya, Papua, 4.884 mdpl).

“Keberadaan Allah Sang Maha Pencipta alam raya,” ujarnya, itu kesan mendalam yang dapat ia rasakan.

Ia pun menjadikan pendakian itu bersama teman-temannya sebagai sarana untuk mentadaburi dan lebih mengenal kebesaran serta keagungan Allah.

Karena itu, shalat lima waktu selalu ia kerjakan, tidak masalah dengan kondisi apapun. “Bisa dilakukan saat istirahat di dalam tenda,” ujarnya.

Ia merasakan mukjizat kebesaran Allah di semua puncak pendakian ya ia torehkan.

Terutama pengalaman batin paling berkesan adalah ketika mendaki Gunung Kilimanjaro.

“Saat hendak mencapai puncak ketinggian yang sangat dingin, angin dingin kencang menghantam tim kami, hampir-hampir kami melayang saking kencangnya hempasan anginnya,” kenangnya.

Semata-mata karena kebesaran Allah itulah, ia dan rekan-rekannya selamat dan sampai ke puncak gunung.

Saat tiba di puncak, ia pun merasakan seolah-olah gunung itu bergerak.

Ia pun teringat firman Allah, “Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Surat An-Naml Ayat 88).

“Pergerakan seperti awan itu tentu tidak akan terasa kalau belum pernah naik ke puncak gunung,” tuturnya.

Masjid di Kota MeneralyVody, Moscow (Hayatdin/MINA)

Hikmah Perjalanan

Ustaz Hayatdin yang saat ini tinggal di Niyabah Bogor ini, sepanjang perjalanan pendakian, menikmati berbagai keindahan alam dan pengalaman melewati daerah-daerah berkesan.

Seperti saat hendak menuju Gunung Elburs di Rusia. Tentu membayangkan negeri yang dulu menjadi pusat negara komunis Uni Soviet.

Namun saat memasuki sebuah daerah di kawasan ibukota Moskow, ia dan rombongan menemukan masjid besar yang menurut informasi, sebelumnya adalah gereja.

Ia juga melihat banyak wanita-wanita Muslimah berhijab berlalu lalang di jalan depan Museum Lenin.

Suara azanpun terdengar nyaring, syahdu dan merdu di kota MineralyVody, sekitar dua jam dari Moscow. Lantunan azan di tengah udara dingin bersalju di Rusia. “Allahu Akbar ! Allahu Akbar!!!”.

Pengalaman berkesan lainnya adalah soal pengelolaan wisata gunung di luar negeri.

Ia melihat, pengelolaan kawasan gunung di sana sangat profesional layaknya sebuah mall, bersih dari sampah. Setiap pos juga di jaga security.

Tersedia tempat-tempat sampah, terutama sampah plastik, yang dibawa ke bawah secara terjadwal oleh petugas khusus.

Kawasan pegunungan menjadi obyek wisata yang memberikan penghasilan.

“Nepal adalah satu-satunya negara di dunia yang income terbesarnya dari wisata pegunungan,” lanjutnya.

Ia ingin suatu saat dapat membentuk komunitas pecinta pendakian gunung dari kalangan muda, terutama santri dan pelajar.

Bukan hanya teknik, pelatihan, persiapan pendakian dan materi secara profesional. Tetapi juga fiqih ibadah di perjalanan, kebersihan dan penghijauan, serta spiritual journey yang harus didapatkan peserta.

“Ayo manfaatkan waktu mudamu sebelum tuamu, dan sehatmu sebelum sakitmu, dengan kegiatan yang bermanfaat,” pesannya. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)