USTMAN bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kemudian diangkat sebagai khalifah ketiga dalam Islam.
Ketika bulan suci Ramadhan tiba, Utsma menjadi hamba yang sangat sibuk beribadah, baik ibadah individu maupun ibada sosial.
Profil Singkat Utsman bin Affan
Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah.
Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat
Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun Al-Awalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam).
Ia mendapat julukan Dzunnurain yang berarti “yang memiliki dua cahaya”. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi putri kedua dan ketiga dari Rasulullah, yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.
Ia adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 hingga 656, selama 12 tahun. Ketika dibai’at sebagai khalifah, usianya 69–70 tahun.
Utsman seorang saudagar kaya tetapi sangatlah dermawan.
Baca Juga: Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah
Rasulullah sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Ia pun sangat pemalu.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?” Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”
Kesibukan Utsman Saat Ramadhan
Ketika Ramadhan tiba, Utsman menjadi pemimpin dan orang kaya yang sangat sibuk dalam beribadah. Berikut ini kesibukan ibadah yang dilakukannya di saat Ramadhan:
Baca Juga: Abu Hurairah Sang Penjaga Hadits, Ahli Ibadah, dan Teladan Ramadhan
- Memperbanyak tilawah Al-Qur’an
Sebagai salah satu sahabat yang sangat mencintai Al-Qur’an, Utsman bin Affan dikenal sering mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat shalat. Di bulan Ramadhan, beliau semakin memperbanyak membaca, merenungi, dan mengamalkan Al-Qur’an.
- Bersedekah dengan harta yang melimpah
Utsman bin Affan terkenal dengan kedermawanannya. Di bulan Ramadhan, beliau lebih banyak bersedekah, membantu fakir miskin, serta membebaskan banyak budak. Salah satu kisah terkenal adalah saat beliau menyumbangkan sumur Raumah untuk kepentingan umat Islam.
- Mendirikan shalat malam (Qiyamul Lail)
Utsman bin Affan adalah pribadi yang sangat taat dalam ibadah. Di bulan Ramadhan, beliau semakin memperbanyak shalat malam dan berlama-lama dalam rukuk serta sujud.
- Mengurus keperluan kaum Muslimin
Sebagai khalifah, Utsman bin Affan tetap mengutamakan tugasnya dalam mengurus umat Islam, baik dalam bidang pemerintahan, keadilan, maupun kesejahteraan sosial. Beliau memastikan bahwa kebijakan yang diambil tetap berpihak kepada rakyat dan sesuai dengan syariat Islam.
Baca Juga: Kisah Uwais al-Qarni, Tabi’in Terbaik yang Dipuji Rasulullah
- Berpuasa dengan penuh kesungguhan
Utsman bin Affan menjalani puasa dengan penuh ketakwaan. Beliau menghindari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa dan memperbanyak ibadah serta doa agar puasanya diterima oleh Allah.
Kesibukan beliau di bulan Ramadhan menunjukkan betapa kuatnya keimanan dan ketakwaannya, serta menjadi teladan bagi umat Islam dalam memanfaatkan bulan suci dengan sebaik-baiknya.
Wafat Saat Sedang Berpuasa
Di akhir kepemimpinan, Khalifah Utsman bin Affan difitnah telah melakukan nepotisme dengan banyak mempekerjakan orang dari kalangan kerabatnya saja.
Baca Juga: Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Penjaga Integritas di Era Bani Umayah
Ialah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman yang bertanggung-jawab atas pemberontakan dan fitnah terhadap Utsman. Dia menarasikan, bahwasannya Ali bin Abi Thalib yang paling pantas menjadi khalifah ketimbang Utsman. Padahal Ali dan Utsman merupakan kedua sahabat mulia.
Usai memprovokasi massa di Mesir, Abdullah bin Saba’ memerintahkan pengikutnya, Saba’iyah, untuk datang menyerbu Utsman di Madinah.
Akibat fitnah tersebut, orang-orang Mesir yang dihasut Abdullah bin Saba’ mulai murka dan berniat untuk menggulingkan kepemimpinan Utsman.
Utsman punya kebiasaan membaca Al-Qur’an ketika sedang gelisah. Saat itu dia membaca sampai kepada surat Ali-Imran ayat 173.
Baca Juga: Sa‘id bin al-Musayyab, Sosok yang Memiliki Keteguhan Ilmu di Generasi Tabi‘in
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, ‘Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali Imran: 173).
Disebutkan, Utsman ketika membaca Al-Qur’an, sampai tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi Wasallam bersama Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhum.
Utsman yang kala itu sedang berpuasa, diminta oleh Abu Bakar dan Umar untuk berbuka bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam.
Artinya, ketika diserang oleh kelompok Saba’iyah, Utsman sedang dalam keadaan berpuasa, membaca Al-Qur’an, dan bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam, Abu Bakar dan Umar.
Baca Juga: Kemesrasaan Ali bin Abi Thalib bersama Bulan Ramadhan
Ketika terbangun dari tidurnya, Utsman sudah menemui orang-orang yang menerobos masuk ke ruangannya, yang berujung dengan pembunuhan terhadapnya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Umar bin Khattab, Pemakan Berhala yang Tolak Makan Daging Saat Buka Puasa
















Mina Indonesia
Mina Arabic