Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Akhirat Menjadi Kompas, Hati Tak Lagi Suram

Zaenal Muttaqin Editor : Rendi MS - Senin, 23 Februari 2026 - 11:34 WIB

Senin, 23 Februari 2026 - 11:34 WIB

57 Views ㅤ

Orang sedang berdoa. (Pic. MINA)

KETIKA Akhirat Menjadi Kompas, Hati Tak Lagi Suram bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan sebuah pengingat bahwa arah hidup yang benar mampu menenangkan jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia.

Saat seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, setiap langkah, keputusan, dan harapan terasa lebih terarah dan bermakna.

Kegelisahan perlahan berubah menjadi keyakinan, dan kesedihan tak lagi mendominasi hati, karena ada kesadaran bahwa kehidupan ini hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan yang lebih abadi dan penuh keadilan.

Dalam sebuah hadis yang dinukil Imam An-Nawawi dalam kitab Nashoihul Ibad, menghadirkan nasihat yang sederhana namun sangat dalam maknanya, Nabi Muhammad SAW bersabda:

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

هَمُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ فِي الْقَلْبِ، وَهَمُّ الْآخِرَةِ نُورٌ فِي الْقَلْبِ

“Khawatir memikirkan dunia akan membuat hati menjadi gelap, sedangkan khawatir memikirkan akhirat akan membuat hati menjadi bercahaya”.

Hadis ini berbicara tentang orientasi hati. Bukan tentang meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan tentang apa yang menjadi pusat kegelisahan dan fokus pikiran seseorang.

Ketika seseorang terlalu disibukkan oleh “ham” dunia – gelisah soal harta, jabatan, pengakuan, atau persaingan – maka kegelisahan itu perlahan menutupi kejernihan hati.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Hati menjadi sempit, mudah iri, cepat marah, dan sulit merasa cukup. Dunia yang sifatnya sementara diperlakukan seolah-olah tujuan akhir.

Dari sinilah “kegelapan” itu muncul, hilangnya ketenangan, berkurangnya syukur, dan melemahnya empati.

Sebaliknya, ketika yang dominan dalam hati adalah “ham” akhirat – yakni rasa tanggung jawab terhadap amal, takut akan dosa, rindu pada rahmat Allah, serta harapan akan kehidupan abadi – maka hati menjadi terang.

Terang karena memiliki arah. Terang karena tahu mana yang utama dan mana yang sementara. Terang karena setiap langkah diukur dengan nilai ibadah, bukan sekadar keuntungan.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Menariknya, memikirkan akhirat bukan berarti pasif terhadap dunia. Justru orientasi akhirat melahirkan keseimbangan.

Orang yang sadar akhirat akan bekerja dengan jujur, mencari nafkah dengan halal, dan memegang amanah dengan sungguh-sungguh. Dunia tetap di tangan, tetapi tidak memenuhi hati.

Di tengah zaman yang serba cepat dan kompetitif, kegelisahan dunia mudah sekali menguasai pikiran. Standar keberhasilan sering diukur dari materi dan citra.

Namun hadis ini mengingatkan, ukuran terang atau gelapnya hati tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh arah kecemasan kita.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Jika kegelisahan kita lebih banyak tentang “bagaimana aku terlihat”, hati akan lelah.

Jika kegelisahan kita lebih banyak tentang “bagaimana aku di hadapan Allah”, hati akan hidup.

Nasihat ini mengajak kita melakukan muhasabah, apa yang paling sering membuat kita gelisah? Karena di situlah cermin keadaan hati kita.

Dunia memang tempat berikhtiar. Tetapi akhirat adalah tujuan. Ketika akhirat menjadi kompas, dunia justru terasa lebih ringan. Dan hati pun, dengan izin Allah, akan dipenuhi cahaya.[]

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Mi’raj News Agency (MINA) 

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Artikel