Watap RI: Pidato Menlu Retno di PBB Dapat Banyak Pujian

Menlu RI Retno Marsudi berpidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-77 di New York (foto: Kemlu RI)

New York, MINA – Wakil Tetap (Watap) RI untuk PBB Arrmanatha Nasir mengatakan, pidato Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi di Sidang Majelis Umum PBB ke-77 di New York, Amerika Serikat, Senin (26/9) mendapatkan banyak pujian.

Arrmanatha menyebut ia banyak dihubungi wakil tetap maupun dubes negara lain soal pidato Menlu RI yang dinilai tepat sasaran dan lugas.

“Jadi temen-temen, tanggapan daripada dubes, watap di sini sangat positifnya terhadap statement Ibu Menlu. Banyak sekali menyampaikan kepada saya ucapan bahwa statementnya Ibu sangat tepat to the point, very correct,” ujar Arrmanatha di Kantor PTRI New York seperti dikutip dari Detik Com, Rabu (28/9).

“Mereka melihat bahwa kita berani mengatakan like it is dan kita juga memberikan solusi,” tambahnya.

Selain isi pidato, Menlu juga dipuji dari segi outfit atau pakaian yang dikenakan saat maju ke mimbar.

“Dan juga selain itu, banyak juga yang menyampaikan bahwa dari segi outfit pun dikomentar, ada beberapa yang mengatakan bahwa ‘I love your minister’s outfit’. Itu saya juga kaget denger komentarnya itu,” ujar Tata tersenyum menceritakan momen itu.

Cara Menlu menyampaikan pidato juga turut diapresiasi negara lain.

“Ada juga yang menyampaikan bahwa ‘The way she said the statement, she presented the stament, was very good’. Tone nya sangat sangat bagus. itu yang kita dapat dari banyak watap dan dubes-dubes di sini,” kata dia.

Arrmanatha mengatakan pidato Menlu RI selaras pernyataan Sekjen PBB Antonio Guterres di hari pertama Sesi Debat Umum PBB.

Dalam pidatonya, Menlu RI menyerukan perlunya tatanan dunia yang berdasarkan paradigma baru.

“Indonesia menawarkan tatanan dunia yang berbasis paradigma baru. Paradigma win-win, bukan zero-sum. Paradigma merangkul, bukan mempengaruhi (containment). Paradigma kolaborasi, bukan kompetisi. Ini adalah solusi tansformatif yang kita butuhkan,” jelasnya.

Ia menyayangkan, kondisi saat ini sangat menghawatirkan: pandemi yang berkepanjangan, ekonomi dunia yang masih kelam, perang yang bukan lagi sebuah kemungkinan, tapi sebuah kenyataan, dan pelanggaran terhadap hukum internasional yang telah menjadi norma untuk kepentingan sebagian. Krisis pun datang silih berganti, dari pangan, energi, hingga perubahan iklim.

“Seharusnya dunia bersatu untuk mengatasinya, namun sayangnya, dunia justru terbelah, sehingga menyulitkan kita berupaya mengatasi kondisi ini,” katanya.

Menurutnya paradigma baru tersebut penting karena beberapa alasan, antara lain adalah untuk menyalakan kembali spirit perdamaian. (R/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)