Wayang Tradisional Turki Digelar di Festival Afrika

KIGALI, Rwanda, MINA – Pertunjukan wayang tradisional terkenal Turki atau Karagoz Istanbul Explorer akan dipentaskan untuk warga Afrika secara global setelah sukses menggelar pertunjukkan di Festival Seni Ubumuntu Afrika di Kigali, Rwanda, kata Fatih Polat, master Karagoz, Ahad (21/7).

“Saya menerima banyak tanggapan inspiratif. Saya menganggap pentas di Rwanda ini sebagai titik awal untuk tampil di depan lebih banyak publik Afrika,” kata Polat kepada Anadolu Agency usai tampil di malam pembukaan acara peringatan genosida Kigali.

Festival Seni Ubumuntu tahunan yang kelima menampilkan pertunjukan teater yang berusaha menjawab pertanyaan: “Bagaimana jika tembok yang Anda buat untuk orang lain hari ini, menjadi kejatuhan bagi Anda sendiri pada esok hari?”

Di seberang dinding panggung hitam, sekelompok seniman lokal dan internasional yang berkumpul selama tiga hari melukis tembok dengan kata-kata kemanusiaan.

“Hentikan kekerasan, perang melawan perpecahan dan segala bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Damai bagi semua orang, Damai di dunia. Bersama kita bisa,” tulis mereka.

Polat tampil pada 12 Juli, bersama seniman dari Rwanda, Uganda, AS, Austria, dan Republik Demokratik Kongo.

Polat mengatakan salah satu tujuan utama pentas Karagoz adalah untuk menunjukkan pada setiap orang bahwa mereka dapat hidup bersama tanpa memandang kepercayaan atau etnis.

“Anda bisa menjadi Yahudi, Putih, atau India. Anda bisa menjadi percaya pada Nabi Muhammad atau Yesus, tidak masalah,” kata dia.

“Yang penting adalah kita semua sama. Kita tidak boleh dibagi berdasarkan etnis atau kepercayaan. Orang harus bisa berintegrasi. ”

Festival ini menggabungkan pertunjukan teater, puisi, tarian, dan akrobat.

Sejumlah kelompok seniman dari 16 negara, termasuk Turki berpartisipasi dalam festival ini.

Polat mengatakan pertunjukan Karagoz juga menawarkan kesempatan, bagi orang-orang untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Istanbul.

Dia mengaku senang dapat mengibarkan bendera Turki dan berhasil menjalankan Istanbul Explorer di festival ini.

Polat menyebutkan berbagai budaya di festival tersebut membuatnya bersemangat.

“Saya bersemangat saat melihat penonton tersenyum dan tertawa. Itu menunjukkan kepada saya bahwa mereka menyukai pertunjukan ini, meski mereka tidak tahu tentang Karagoz,” kata dia.

“Setelah pertunjukan, beberapa penonton datang, memeluk, dan mengucapkan terima kasih,” ungkap Polat.

Menurut Polat, para penonton mengatakan ini adalah pertunjukan yang sangat bagus.

“Itu sangat menarik bagi saya. Saya pikir ini mungkin awal dari tur Karagoz di Afrika.”

Karagoz Istanbul Explorer adalah pertunjukkan wayang Turki populer tentang kisah dua orang teman.

Cerita ini menampilkan karakter utama Karagoz dan Hacivat, yang hidup dalam bayang-bayang tradisional Turki dan menjelajahi tempat-tempat bersama.

Drama ini menghadirkan seorang pria yang ingin menjelajahi Istanbul. Karagoz dan temannya Hacivat memulai perjalanan dan menghadapi petualangan yang menarik.

Teater tradisional Turki ini merupakan salah satu seni Turki tertua.

Drama tersebut, yang terkenal dalam kesenian Turki, melibatkan tokoh dua dimensi dalam bentuk orang dan menampilkan bayangan mereka di layar.

Pembukaan pentas ini disebut mukaddime (awal) di mana Hacivat akan membaca puisi dan setelah itu mereka berdialog

Karagoz terdaftar pada Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity atas nama Turki pada tahun 2009. (T/RS3/P1)

Mi’raj News Agency