Zeena Ali, Polisi Berhijab Pertama di Selandia Baru

Wellington, MINA – Muslimah berhijab, Zeena Ali menjadi seorang anggota kepolisian Selandia Baru yang mencetak sejarah sebagai polisi berhijab pertama.

Zeena Ali yang baru lulus sekolah kepolisian November lalu mengaku senang menjadi anggota kepolisian dengan tetap bisa menggunakan atribut agamanya.

“Rasanya menyenangkan bisa keluar dan menunjukkan Polisi Selandia Baru yang hijab sebagai bagian dari seragamku. Aku pikir dengan melihat itu, semakin banyak wanita Muslim yang ingin bergabung juga,” ujarnya dilansir dari About Islam, Kamis (4/2).

Sebelum resmi digunakan, wanita tersebut pun memberikan saran kepada Kepolisian Selandia Baru dan Massey Design School agar setelan tersebut bisa dipakai dengan nyaman. Seragam itu pun pertama kali dipakai saat acara kelulusannya.

Zeena Ali lahir di Fiji dan pindah ke Selandia Baru saat masih kecil. Ketika dewasa, Ali bergabung dengan kepolisian Selandia Baru setelah serangan teror di Christchurch yang menewaskan 51 Muslim.

“Saat itulah saya menyadari harus ada perempuan Muslim yang bertugas di kepolisian, untuk membantu dan memberikan dukungan kepada orang-orang Muslim di saat genting seperti ini. Jika saya saja bergabung dengan kepolisian lebih awal, saya pasti ada di sana untuk membantu,” kisah wanita berusia 30 tahun tersebut.

Menurut Ali, kebanyakan perempuan Muslim takut berbicara kepada polisi. Bahkan, mungkin mereka akan menutup pintu saat seorang polisi datang dan mengajak bicara. Oleh sebab itu, lewat profesi dan perubahan barunya ini ia harap dapat mengurangi lebih banyak kejahatan.

“Kita butuh lebih banyak wanita Muslim untuk menolong dalam komunitas. Kebanyakan dari mereka terlalu takut untuk berbicara dengan polisi dan mungkin akan menutup diri jika pria berbicara kepada mereka. Jika kita punya lebih banyak wanita (jadi polisi) akan ada lebih beragam polisi maka kita bisa mengurangi lebih banyak kejahatan,” katanya.

Ia pun berharap jika adanya wanita Muslim berhijab bisa membaca keberagaman dan melayani masyarakat dengan lebih baik.

“Kami sadar pentingnya perspektif dan pengalaman yang berbeda membuat kami lebih baik dalam apa yang kami lakukan. Kami butuh orang-orang dengan beragam kemampuan, latar belakang, dan tingkat pengalaman, keberagaman penting sehingga kita bisa bicara secara efektif melayani kebutuhan komunitas Selandia Baru sekarang dan di masa depan,” kata Ali.

Muslim di Selandia Baru terdapat sekitar satu persen dari total populasi. Mereka berasal dari imigran Muslim Asia Selatan dan Eropa Timur yang menetap di Selandia Baru pada awal 1900-an hingga 1960-an. (R/R11/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)