14 Tahun Bakti MER-C untuk Papua dan Papua Barat

Relawan MER-C dr. Zackya Yahya Bersama Anak-anak Papua. (Foto : MER-C)

Oleh : Sri Astuti, Wartawan Mi’raj News Agency (MINA)

MER-C merupakan organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis , yang memiliki misi kemanusiaan berdasarkan prinsip rahmatan lil‘alamin.

Para relawannya diharuskan memiliki sifat amanah, professional, netral, mandiri, sukarela dan mobilitas tinggi. Memberikan pelayanan tanpa memandag suku, agama, bangsa. Hal itu tidak sebatas semboyan saja, karena MER-C telah membuktikannya dengan melaksanakan ratusan misi kemanusiaan baik saat bencana alam, perang maupun konflik. Tidak hanya di dalam negeri, MER-C juga mengemban misi kemanusiaan hingga luar negeri salah satunya adalah menginisiasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina dan di Myanmar.

Di dalam negeri tentu lebih banyak lagi misi-misi kemanusiaan yang telah dilakukan MER-C. Salah satunya adalah misi kemanusiaan MER-C di Papua dan Papua Barat yang saat ini telah memasuki tahun ke-14. Bukan jangka waktu yang pendek. Tentu bukan hal yang mudah bagi MER-C untuk bertahan selama 14 tahun di wilayah yang masih sering bergejolak dengan isu- isu keamanan, HAM, keterbatasan infrastruktur, transportasi, masalah sosial dan lainnya.

Tim mobile clinic MER-C menjangkau ke pulau pulau di Papua Barat dan wilayah Pegunungan Papua dengan misi mulia, sehingga masyarakat Papua dan Papua Barat bisa turut merasakan pelayanan kesehatan seperti masyarakat Indonesia lainya.

Untuk mengetahui lebih jauh perjuangan MER-C menjalankan misi kemanusiaan di Papua dan Papua Barat, MINA mendapat kesempatan langsung untuk bertanya kepada dr. Zackya Yahya, salah satu relawan MER-C yang juga merupakan perintis awal dan koordinator misi kemanusiaan MER-C di Papua dan Papua Barat

Zackya mengatakan, MER-C di Papua berawal dari kerjasama MER-C dan BNI 46 untuk program pelayanan klinik kesehatan di 46 titik di seluruh Indonesia, salah satu lokasi program pelayanan klinik kesehatan adalah di Papua. Melalui klinik ini MER-C memberikan pelayanan pengobatan dan penyuluhan kesehatan gratis kepada masyarakat yang kurang mampu.

Ia mengungkapkan, program itu tidak hanya menunggu pasien yang datang ke klinik tapi juga mendatangi masyarakat (mobile clinic) yang tinggal di Satuan Permukiman (SP) dan kampung-kampung yang jauh di pulau-pulau untuk memberikan pelayanan kesehatan secara rutin dan terjadwal

“Waktu itu sekitar tahun 2006, di mana kondisi pelayanan kesehatan setiap SP yang kami datangi tidak cukup baik dan memadai. Memang ada bangunan Puskesmas Pembantu atau biasa disebut Pustu tapi 99 persen program pelayanan kesehatannya tidak berfungsi karena minimnya SDM dan obat obatan,” ujar Zackya mengenang awal-awal perjuangan di Papua yang menurutnya merupakan awal penuh tantangan dan tidak mudah.

“Namun keterbatasan SDM dan fasilitas transportasi yang saat itu hanya berupa satu motor untuk menuju kampung-kampung yang aksesnya cukup sulit karena medannya berat dan jauh adalah sebuah tantangan yang justru membangkitkan motivasi serta semangat yang kuat untuk dapat melayani masyarakat dengan pelayanan yang terbaik dan ikhlas,” ungkapnya.

Tidak berhenti disitu, sekitar tahun 2008 Zackya kembali mengembangkan misi MER-C di Papua, Kali ini ia memperluas jangkauan pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Tantangannya hampir sama, akses dan medan yang mereka lalui berat, beberapa akses ke kampung-kampung bahkan masih harus menggunakan perahu atau kapal.

Ia juga mengungkapkan sering sekali terjadi perang suku di Papua termasuk di wilayah program pelayanan MER-C, yang tentu  menggangu aktivitas mobile clinic karena mereka juga memalang (menutup) jalan.

“Kami perlu kemampuan negosiasi dan komunikasi dengan mereka terutama kepala sukunya untuk membuka jalan,” tuturnya.

Begitu juga jika memasuki wilayah yang terbilang sensitif dan ekstrim, MER-C harus membangun kepercayaan terhadap masyarakat setempat bahwa MER-C hadir untuk mereka tanpa agenda apapun selain misi kemanusiaan. MER-C melayani tanpa melihat perbedaan ras, suku, agama maupun kelompok apapun.

“Kami memegang teguh prinsip rahmatan lil’alamin dan hal ini yang selalu kami jaga dalam bertugas mengemban amanah,” kata Zackyah.

“Program kemanusiaan MER-C di Papua dan Papua Barat juga menjadi tempat saya menempa relawan-relawan muda MER-C agar dapat menjalankan amanah sesuai visi misi MER-C yaitu amanah profesional dan ikhlas,” tambahnya.

Ia berharap, setelah menjalankan tugas di Papua dan Papua Barat mereka tetap bisa memberikan pelayanan terbaiknya dengan memegang prinsip-prinsip MER-C di mana pun berkarir dan mengabdi.

Meski jauh, medan sulit dan penuh tantangan, ia mengungkapkan selama 14 tahun perjuangannya mengabdi di Papua dan Papua Barat, banyak hal-hal positif yang memotivasi dan menginspirasinya untuk terus memberikan manfaat manusia dan alam semesta.

Baginya, dari sekian banyak hal yang dilalui selama mengabdi di Papua, yang paling berkesan adalah ketika masyarakat Papua dan Papua Barat memberi kepercayaan kepada MER-C untuk melayani mereka.

Zackya telah bertekad akan selamanya mengabdi untuk Papua dan Papua Barat.

“Saya wakafkan hidup saya. Karena sudah mengambil peran ini, sampai wafat saya tidak akan meninggalkan program MER-C untuk Papua dan Papua Barat,” tegasnya.

Ia berharap ke depannya akan ada donatur tetap yang dapat membantu misi kemanusiaan MER-C di Papua dan Papua Barat, sehingga program ini dapat terus berlanjut dan berkembang menjangkau wilayah yang lebih luas lagi. (A/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)