JAUH sebelum teknologi seismograf dan sistem peringatan dini tsunami dikenal seperti sekarang, masyarakat Aceh ternyata telah memiliki tradisi pengetahuan untuk memahami fenomena gempa bumi. Jejak pengetahuan itu tersimpan dalam manuskrip kuno yang dikenal dengan Ta’bir Gempa, yang diperkirakan berasal dari abad ke-18.
Salah satu naskah tersebut pernah diidentifikasi sebagai koleksi Tarmizi A. Hamid, pegiat dan kolektor manuskrip Aceh. Naskah yang ditulis dengan tangan itu kini menjadi salah satu bukti bahwa persoalan gempa telah mendapat perhatian dalam tradisi intelektual masyarakat Aceh sejak berabad-abad lalu.
Penelitian tentang manuskrip tersebut juga mencatat keberadaan sekitar 30 varian naskah Ta’bir Gempa yang tersebar di Aceh, Padang, Jakarta, Malaysia hingga Leiden, Belanda.
Secara fisik, naskah yang menjadi koleksi Tarmizi A. Hamid disebut telah berusia sekitar tiga abad. Kondisinya pun tidak lagi sempurna. Sebagian lembaran telah terlepas, sementara sampul depan dan beberapa halaman awal tidak dapat dikenali sehingga identitas penulis maupun judul asli manuskrip belum dapat dipastikan.
Baca Juga: Jadwal Sepak Bola Hari Ini: Inggris vs Ceko, Pesta Gol Membayangi
Namun, bagian isi manuskrip masih relatif terbaca. Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah Bab Ta’bir Gempa, yang memuat penafsiran mengenai gempa berdasarkan bulan dalam kalender Hijriah serta waktu terjadinya.
Kajian filologis sebelumnya juga mengidentifikasi naskah Ta’bir Gempa yang berasal dari abad ke-18 berdasarkan karakter kertas dan watermark yang digunakan. Kajian tersebut menunjukkan bahwa teks tentang gempa merupakan bagian dari tradisi pengetahuan masyarakat Nusantara dalam memahami bencana.
Ta’bir Gempa Berdasarkan Bulan dan Waktu
Dalam potongan teks manuskrip tersebut, gempa ditafsirkan berbeda berdasarkan bulan dan waktu kejadiannya.
Misalnya, jika gempa terjadi pada siang hari bulan Muharram, naskah menyebutnya sebagai pertanda keluasan anugerah Allah bagi seluruh isi negeri. Sebaliknya, apabila gempa terjadi pada malam hari bulan yang sama, disebut sebagai alamat datangnya kesakitan atau kesempitan ke dalam negeri.
Memasuki bulan Safar, gempa yang terjadi pada siang hari ditafsirkan sebagai pertanda perang di antara penghuni negeri. Sementara gempa pada malam hari disebut sebagai alamat perempuan hamil mengalami keguguran.
Pada Rabiul Awal, gempa pada siang hari ditafsirkan sebagai pertanda banyak orang sakit atau datangnya mara bahaya. Sedangkan gempa yang terjadi pada malam hari disebut sebagai alamat banyaknya hewan berkaki empat yang mati.
Pola semacam ini menunjukkan bahwa pengarang manuskrip tidak sekadar mencatat gempa sebagai fenomena alam, tetapi mencoba menghubungkannya dengan berbagai kemungkinan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini, Selasa 6 Oktober 2026
Tradisi tersebut ternyata tidak hanya ditemukan di Aceh. Kajian terhadap manuskrip Nusantara juga menemukan teks Ta’bir Gempa yang menghubungkan gempa dengan bulan Hijriah dan waktu tertentu.
Bukan Sekadar Ramalan
Bagi masyarakat modern, isi Ta’bir Gempa tentu tidak dapat diposisikan sebagai metode ilmiah untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi atau apa yang pasti terjadi setelahnya.
Ilmu seismologi modern tidak mengenal metode prediksi gempa berdasarkan bulan Hijriah dan waktu kejadian. Karena itu, isi manuskrip lebih tepat dibaca sebagai dokumen sejarah pemikiran dan pengetahuan masyarakat masa lalu dalam memahami fenomena alam.
Baca Juga: Cuaca Sumatra Hari Ini Didominasi Hujan, Aceh Waspada Lebat
Menariknya, penelitian kontemporer terhadap teks Ta’bir Gempa justru menemukan fungsi yang lebih luas. Sebuah penelitian terhadap teks Ta’bir Gempa menyimpulkan bahwa manuskrip semacam itu memiliki fungsi religius, sosial-kultural, sekaligus berkaitan dengan literasi kebencanaan dan bentuk mitigasi tradisional.
Dengan perspektif tersebut, manuskrip kuno tidak harus dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, ia dapat dibaca sebagai rekaman bagaimana masyarakat masa lalu berusaha memahami lingkungan, mengenali ancaman, dan membangun kewaspadaan menghadapi bencana.
Aceh dan Ingatan Panjang tentang Gempa
Bagi Aceh, persoalan gempa bukanlah pengalaman baru. Letak geografis Aceh yang berdekatan dengan zona subduksi menjadikan wilayah ini memiliki sejarah panjang menghadapi gempa dan tsunami.
Baca Juga: Cuaca Jakarta Hari Ini, Hujan Ringan Berpeluang Sore
Manuskrip juga merekam bahwa masyarakat masa lalu pernah mengalami dan mencatat peristiwa gempa. Salah satunya adalah catatan dalam manuskrip koleksi Zawiyah Tanoh Abee yang menyebut gempa dahsyat pada 9 Jumadil Akhir 1248 Hijriah, yang bertepatan sekitar 3 November 1832.
Artinya, tradisi tulis masyarakat Aceh tidak hanya menyimpan cerita keagamaan, sastra, pengobatan atau hukum Islam. Di dalamnya juga terdapat memori mengenai fenomena alam yang mengancam kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ini, keberadaan Ta’bir Gempa menjadi penting karena memperlihatkan bahwa literasi kebencanaan memiliki akar sejarah yang panjang di Aceh.
Dari Ta’bir ke Mitigasi Modern
Baca Juga: BMKG Prakirakan Cuaca Indonesia 5–8 Oktober Didominasi Cerah Berawan hingga Hujan Ringan
Jika pada masa lalu masyarakat hanya memiliki manuskrip, pengamatan alam, pengalaman kolektif dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, masyarakat sekarang telah memiliki perangkat ilmiah yang jauh lebih maju.
Seismograf, jaringan pemantauan gempa, sistem peringatan dini tsunami, peta bahaya dan jalur evakuasi menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana modern.
Namun, satu hal dari manuskrip lama tetap relevan: kesadaran bahwa gempa harus dihadapi dengan kewaspadaan.
Ta’bir Gempa mungkin tidak dapat menjelaskan secara ilmiah kapan gempa berikutnya akan terjadi. Tetapi manuskrip tersebut menyimpan sesuatu yang tidak kalah penting: ingatan bahwa masyarakat Aceh sejak dahulu telah hidup berdampingan dengan ancaman bencana.
Baca Juga: Cuaca Jakarta Hari Ini Berawan Tebal, Hujan Berpotensi Turun Sore
Karena itu, nilai utama manuskrip tersebut bukan terletak pada apakah setiap ta’birnya terbukti atau tidak. Nilainya justru terletak pada kenyataan bahwa para pendahulu telah berusaha mencatat, memahami dan mewariskan pengalaman menghadapi fenomena alam kepada generasi berikutnya.
Kajian terhadap manuskrip kebencanaan Aceh menunjukkan bahwa teks-teks semacam ini merupakan bagian dari warisan intelektual yang dapat membantu generasi sekarang memahami bagaimana masyarakat masa lalu merespons bencana.
Tiga abad berlalu, manuskrip itu mungkin telah menguning, sebagian halamannya terlepas dan nama penulisnya hilang ditelan zaman.
Tetapi pesan besarnya masih tinggal: gempa bukan sesuatu yang asing bagi Aceh, dan pengetahuan tentang bencana harus terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. []
Baca Juga: Cuaca Sumatra Hari Ini Didominasi Hujan di Sejumlah Wilayah
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic