Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muslim Paradoks: Mengharap Surga, Enggan Bersujud

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 12 Januari 2026 - 15:21 WIB

Senin, 12 Januari 2026 - 15:21 WIB

18 Views ㅤ

Muslim Paradoks: Mengharap Surga, Enggan Bersujud
Azan bukan sekadar suara. Ia adalah undangan resmi dari Allah. Undangan yang diulang lima kali sehari, setiap hari, tanpa libur, tanpa cuti (gambar : Ai)

ADA satu paradoks yang semakin nyata dalam kehidupan umat Islam hari ini. Kita sering mendengar doa-doa yang melangit tentang surga, tentang husnul khatimah, tentang akhir yang indah. Kita rindu bertemu Allah, rindu Rasulullah SAW, rindu kehidupan tanpa air mata. Namun pada saat yang sama, ketika azan berkumandang—panggilan paling mulia di muka bumi—kaki kita justru berat melangkah, badan terasa lelah, dan hati mencari-cari alasan. Inilah paradoks itu: mengharap surga, tapi enggan bersujud.

Azan bukan sekadar suara. Ia adalah undangan resmi dari Allah. Undangan yang diulang lima kali sehari, setiap hari, tanpa libur, tanpa cuti. Tidak ada undangan pernikahan, seminar, atau acara penting apa pun yang konsisten seperti azan. Namun ironisnya, undangan paling agung ini sering kita tunda, kita abaikan, bahkan kita anggap bisa “nanti saja”.

Alasan pun bermunculan dengan sangat masuk akal. Pekerjaan sedang padat. Rapat belum selesai. Pelanggan belum terlayani. Tugas belum tuntas. Anak belum tidur. Badan terlalu lelah. Pikiran terlalu penuh. Semua terdengar logis. Semuanya terasa rasional. Tapi jika jujur, kita akan menemukan satu fakta pahit: bukan karena kita tidak sempat shalat, melainkan karena shalat belum menjadi prioritas.

Kita hidup di zaman ketika kesibukan dijadikan simbol kesuksesan. Orang yang sibuk dianggap produktif, orang yang selalu dikejar waktu dipandang bernilai. Akibatnya, ibadah sering diposisikan sebagai aktivitas tambahan, bukan kebutuhan utama. Jika sempat, dikerjakan. Jika tidak, ditunda. Padahal shalat tidak pernah meminta waktu kita—ia justru menjaga waktu kita agar tetap bernilai.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Menariknya, kita jarang menunda hal-hal yang kita cintai. Kita tidak lupa makan meski sibuk. Kita tidak lalai membuka ponsel meski lelah. Kita bisa begadang demi tontonan atau percakapan yang kita nikmati. Maka masalahnya bukan pada waktu, tapi pada hati. Apa yang benar-benar kita cintai akan selalu menemukan jalannya.

Shalat bukan sekadar gerakan tubuh. Ia adalah pertemuan. Ia adalah momen ketika seorang hamba berdiri di hadapan Tuhannya tanpa perantara. Dalam shalat, langit seolah mendekat, dan dunia kehilangan cengkeramannya. Namun sayangnya, karena dilakukan terburu-buru atau sekadar menggugurkan kewajiban, shalat sering kehilangan rasa. Ia tetap sah, tapi tak lagi membekas.

Di sinilah letak paradoks itu semakin terasa. Kita ingin surga, tapi enggan menempuh jalan yang paling mendasar menuju ke sana. Kita ingin hidup tenang, tapi jarang mendatangi sumber ketenangan. Kita ingin hati lapang, tapi sering menjauh dari dzikir dan sujud. Padahal Allah tidak meminta yang rumit. Ia hanya meminta kita kembali—lima kali sehari.

Azan sejatinya adalah pengingat paling lembut. Tidak memaksa, tidak mengancam, tidak menuduh. Ia hanya memanggil: Hayya ‘alash shalah. Mari menuju shalat. Seolah Allah berkata, “Datanglah sebentar, letakkan bebanmu, ceritakan lelahmu.” Namun kita sering menjawabnya dengan diam. Atau lebih tepatnya, dengan kesibukan.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Fenomena ini bukan karena umat Islam malas sepenuhnya. Banyak dari kita justru sangat rajin dalam urusan dunia. Bekerja keras, belajar sungguh-sungguh, berjuang tanpa henti. Tapi kita lupa satu hal penting: shalat bukan penghambat perjuangan, melainkan penguatnya. Sujud bukan tanda kelemahan, tapi sumber kekuatan.

Ada kegelisahan yang diam-diam tumbuh di tengah umat. Hidup terasa sempit padahal penghasilan meningkat. Waktu terasa cepat habis tapi hati kosong. Banyak yang merasa capek tanpa tahu apa penyebabnya. Bisa jadi, karena jiwa kita jarang diajak pulang. Jarang diajak duduk tenang di hadapan Allah. Jarang diajak bersujud dengan sungguh-sungguh.

Ironisnya, kita sering berdoa agar Allah memudahkan urusan kita, sementara kita sendiri menunda urusan kita dengan-Nya. Kita berharap Allah hadir dalam hidup kita, tapi kita sering absen ketika Dia memanggil. Bukan karena membenci, tapi karena lalai. Dan kelalaian yang dibiarkan lama-lama terasa normal.

Shalat tepat waktu bukan soal disiplin semata, tapi soal cinta dan penghormatan. Orang yang mencintai akan bersegera. Orang yang menghormati tidak menunda. Ketika kita mulai memandang shalat sebagai kehormatan, bukan beban, maka azan tidak lagi terasa sebagai gangguan, melainkan sebagai jeda paling indah dalam kesibukan.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Tidak ada yang meminta kita menjadi sempurna seketika. Tidak ada yang menuntut khusyuk seratus persen setiap waktu. Yang diminta hanya satu langkah kecil tapi konsisten: bersegera memenuhi panggilan Allah. Dari situ, perlahan hati akan belajar tenang. Jiwa akan belajar tunduk. Hidup akan mulai menemukan ritmenya kembali.

Bayangkan jika setiap azan kita jawab dengan kesadaran, bukan keterpaksaan. Jika setiap sujud kita lakukan dengan rasa butuh, bukan sekadar gugur kewajiban. Mungkin hidup tidak langsung mudah, tapi pasti lebih bermakna. Mungkin masalah belum selesai, tapi hati lebih kuat menghadapinya.

Surga bukan hanya tujuan di akhirat, tapi juga arah hidup di dunia. Dan arah itu ditentukan oleh langkah-langkah kecil yang kita pilih setiap hari. Salah satunya: apakah kita memilih menunda sujud, atau menyegerakannya. Karena sejatinya, siapa yang merindukan surga, akan rindu pula untuk bersujud.

Azan akan terus berkumandang, entah kita datang atau tidak. Allah tidak berkurang sedikit pun jika kita lalai. Tapi kitalah yang rugi jika menjauh. Maka ketika panggilan itu terdengar lagi hari ini, mungkin tidak perlu banyak alasan. Cukup satu keberanian kecil: berhenti sejenak, berdiri, lalu bersujud. Bisa jadi, di situlah hidup kita mulai menemukan arah pulangnya kembali.[]

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Palestina
Internasional
Tausiyah
Tausiyah