Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Jenis Yahudisasi, Upaya Hapus Identitas Islam dan Palestina

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 1 September 2026 - 16:01 WIB

Selasa, 1 September 2026 - 16:01 WIB

31 Views ㅤ

Serbuan berkala pemukim ekstremis Yahudi ke Masjid Al-Aqsa. (Quds Press)

BAYANGKAN suatu pagi kita bangun dan mendapati nama kampung halaman kita telah diganti. Jalan yang kita lalui setiap hari sejak kecil kini menyandang nama asing yang tak pernah kita kenal.

Masjid tempat kita dan ayah kita beribadah selama puluhan tahun mulai membungkam azannya. Tetangga-tetangga kita, orang-orang yang tumbuh bersama kita, diusir dari rumah yang sudah ditempati turun-temurun. Dan di tempat paling suci bagi kita, orang-orang asing datang melakukan ritual yang mengusik kesuciannya.

Ini bukanlah skenario film. Ini adalah realitas yang terjadi hari ini di Palestina.

Inilah Proyek Yahudisasi, upaya sistematis Zionis Israel untuk menghapus identitas Arab dan Islam dari tanah yang diberkahi, mengubahnya menjadi “Israel Raya” dengan menghilangkan setiap jejak keberadaan Palestina dari muka bumi.

Baca Juga: Eisenkot Tolak Gabung Pemerintahan Netanyahu

Berikut, 5 jenis Yahudisasi, upaya hapus identitas Islam dan Palestina:

  1. Mengusir Manusia, Merebut Tanah

Pada Maret 2026, lebih dari 200 keluarga Palestina di lingkungan Silwan, Yerusalem Timur, sekitar 900 orang, terancam digusur dari rumah mereka. Bukan karena mereka tidak membayar sewa atau melanggar aturan. Mereka digusur karena tanah yang mereka tempati selama puluhan tahun diakuisisi oleh organisasi pemukim ekstremis melalui pengadilan Israel.

Di pekan yang sama, 15 keluarga telah diusir dari lingkungan Batn al-Hawa di Silwan. Tujuh rumah di Qalandiya diperintahkan untuk dibongkar.

Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam tindakan ini, menyebut pengadilan Israel digunakan “sebagai alat untuk memperkuat situasi ilegal dan memberikan legitimasi semu”.

Baca Juga: Israel Lanjutkan Penangkapan Warga Gaza Saat Kembali dari Pengobatan Luar Negeri 

Pendudukan Israel menggunakan Undang-Undang Properti Absen, sebuah undang-undang yang memungkinkan pendaftaran tanah atas nama negara jika warga Palestina tidak bisa membuktikan kepemilikan melalui dokumen resmi. Padahal, banyak warga Palestina memiliki tanah warisan turun-temurun yang tidak memiliki surat kepemilikan resmi, terutama setelah Israel menangguhkan semua prosedur kepemilikan tanah dari era Ottoman, Mandat Inggris, dan Yordania.

Ini adalah pencurian tanah yang dilegalisasi. Bukan sekadar perampasan, tapi perampasan dengan dalih hukum yang dibuat oleh penjajah untuk kepentingan penjajah.

2. Pemukiman Ilegal yang Terus Bertambah

Pada Agustus 2026, Otoritas Israel mengumumkan rencana pembangunan 2.300 unit rumah baru di Yerusalem Timur. Tanah yang digunakan adalah tanah warga Palestina yang disita di bawah Undang-Undang Properti Absen. Lokasi yang ditetapkan mencakup kebun zaitun yang luas dengan pohon-pohon kuno yang mencerminkan kepemilikan pribadi Palestina.

Baca Juga: Dalam Sebulan, Pemukim Israel Lakukan 1.349 Serangan Terhadap Warga Palestina

Organisasi Ir Amim memperingatkan bahwa proyek ini akan mengisolasi Yerusalem Timur dari Betlehem di Tepi Barat. Ini bukan sekadar pembangunan perumahan. Ini adalah strategi untuk memecah belah wilayah Palestina dan menciptakan realitas baru yang tidak bisa dibalikkan.

3. Melenyapkan Identitas

Pada September 2025, dunia dikejutkan oleh keputusan otoritas Israel secara resmi mengganti nama Tembok Al-Buraq menjadi “Tembok Ratapan” (Wailing Wall) di papan nama bus umum di Yerusalem. Nama Kota Yerulsame pun yang dikehendaki Israel, dibandungkan menggunakan nama Kota Al-Quds yang dipakai ratusan tahun oleh para khalifah pemimpin Islam.

Ini bukan sekadar perubahan administratif. Ini adalah perang identitas. Nama bukan sekadar kata. Nama adalah identitas, ingatan, dan sejarah. Seperti ditulis oleh POICA (Program for Cooperation between Palestinians and Israelis) dalam analisis mendalamnya: mengganti nama adalah “upaya untuk menghapus ingatan kolektif dan meminggirkan keberadaan penduduk asli”.

Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera

Ini adalah bagian dari “Perang Simbolis” untuk mengubah Yerusalem dari kota Arab-Islam menjadi kota “Ibrani” . Beberapa contoh perubahan nama yang terjadi: Jabal al-Mukabbar diganti Har Ovel, Jabal Abu Ghonaem diganti Har Huma, Baab Al-Asbat (salah satu pintu masuk ke Al-Aqsa) diganti Syaer Haryot, dan Tembok Al-Buraq diganti Tembok Ratapan.

Sejak 1948, Israel telah mengganti lebih dari 9.000 situs, desa, lembah, gunung, dan situs bersejarah, dengan nama Ibrani berdasarkan teks Torah . Sebuah Komite Nama Pemerintah Israel dibentuk khusus untuk tujuan ini.

Di Yerusalem, rencana lebih ekstrem lagi, yaitu Israel berencana menghapus semua nama Arab dari papan tanda, sekitar 2.500 nama kota dan desa akan diganti dengan nama Ibrani.

Namun rakyat Palestina tidak diam. Front Islam-Kristen di Yerusalem berencana menyusun kamus nama-nama asli Palestina untuk melawan penghapusan ini. Mereka menyerukan negara-negara Arab untuk menamai jalan-jalan mereka dengan nama situs-situs Al-Quds sebagai bentuk solidaritas.

Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa

4. Pelarangan Azan dari Speaker Masjid

Pada Desember 2025, Partai Jewish Power pimpinan Itamar Ben-Gvir mengajukan Rancangan Undang-Undang yang melarang azan dari pengeras suara masjid tanpa izin negara. Pelanggar bisa didenda hingga 50.000 shekel (sekitar Rp220 juta) dan peralatannya disita.

Israel mengklaim ini untuk mengatasi “Polusi Suara”. Tapi aktivis Palestina Khaled Zabarqa menegaskan, “Azan telah ada selama ratusan tahun dan telah dikumandangkan setiap hari sejak Israel berdiri. Ini tidak tiba-tiba menjadi masalah kebisingan”.

Yang sebenarnya terjadi adalah upaya sistematis untuk membungkam identitas Islam di tanah yang selama 1.400 tahun digema oleh suara “Allahu Akbar”.

Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza

5. Ritual Talmud di Tanah Suci

Pada 31 Agustus 2026, Itamar Ben-Gvir menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan polisi, ditemani puluhan pemukim dan rabi. Ia melakukan ritual Talmud di bagian timur halaman masjid dan bahkan menyerukan pembangunan sinagoge di kompleks tersebut.

Berdasarkan status quo yang berlaku sejak 1967, umat non-Muslim tidak diperbolehkan beribadah di kompleks Al-Aqsa. Namun sejak 2003, polisi Israel mengizinkan pemukim melakukan masuk setiap hari kecuali Jumat dan Sabtu.

Pada November 2025, 4.266 pemukim ilegal dan 15.000 wisatawan asing memasuki kompleks Al-Aqsa, angka yang mengkhawatirkan dan terus meningkat.

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

Pemerintah Provinsi Yerusalem menyebut ini sebagai “eskalasi berbahaya” dan upaya untuk “membagi Al-Aqsa secara temporal dan spasial”, seperti yang sudah terjadi di Masjid Ibrahimi di Hebron.

Menjaga Identitas, Melawan Penghapusan

Itulah 5 jenis Yahudisasi, upaya hapus identitas Islam dan Palestina. Dan proyek Yahudisasi itu bukan isapan jempol. Ini adalah kebijakan negara yang terencana dan sistematis, sebuah upaya untuk menghapus setiap jejak Arab dan Islam dari tanah yang diberkahi.

Mereka menggusur keluarga dari rumah leluhur. Mereka mengganti nama jalan dan gunung. Mereka membungkam azan. Mereka menyerbu Al-Aqsha. Tapi mereka tidak bisa menghapus hati.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

Rakyat Palestina tetap bertahan. Mereka tetap di tanah mereka. Mereka tetap mengumandangkan azan meskipun dilarang. Mereka tetap menjaga Al-Aqsa meskipun diserbu setiap hari. Ini adalah Sumud, keteguhan yang tidak bisa dipadamkan oleh senjata maupun undang-undang.

Kita, umat Islam di seluruh dunia, memiliki tanggung jawab moral untuk: menyebarkan fakta tentang proyek Yahudisasi ini. Jangan biarkan dunia diam, mendukung boikot terhadap produk-produk yang mendanai penjajahan, serta mendoakan saudara-saudara kita di Palestina.

Kita juga perlu terus mengajarkan generasi kita tentang Al-Aqsa dan sejarahnya, agar mereka tidak lupa kota suci umat Islam, negeri para Nabi.

Karena jika kita diam, sejarah kita yang akan dihapus. Jika kita lalai, identitas kita yang akan dicuri.

Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid 

Palestina akan tetap Palestina. Al-Aqsa akan tetap Al-Aqsa. Dan suara azan akan tetap bergema, sampai tanah para nabi itu benar-benar merdeka. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Rekomendasi untuk Anda