Oleh: Dr. Deni Rahman, S.Sos. I, M.I Kom, Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah, Bogor
Allah SWT berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.”
(QS. Al-Hajj: 27–28)
Ibadah haji merupakan puncak penghambaan seorang Muslim. Tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk menjadi tamu Allah di Baitullah. Ada yang menunggu antrean belasan bahkan puluhan tahun, ada yang telah mempersiapkan diri sejak muda, dan ada pula yang baru memperoleh panggilan Allah pada usia senja. Karena itu, ketika seseorang telah menunaikan ibadah haji, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi bagaimana berangkat ke Tanah Suci, melainkan bagaimana menjaga kemabruran setelah kembali ke tanah air.
Dalam Islam, haji tidak hanya dinilai dari kesempurnaan pelaksanaan manasiknya, tetapi juga dari dampaknya terhadap perubahan akhlak dan kualitas kehidupan seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa agungnya nilai kemabruran. Namun para ulama menjelaskan bahwa haji mabrur bukan sekadar haji yang sah secara fikih, melainkan haji yang melahirkan perubahan nyata dalam diri pelakunya.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa salah satu tanda haji mabrur adalah seseorang menjadi lebih baik setelah berhaji dibandingkan sebelum berhaji. Sementara Al-Hasan Al-Bashri menyebutkan bahwa haji mabrur ditandai dengan kembalinya seseorang dari Tanah Suci dalam keadaan zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat, dan semakin rajin dalam ketaatan.
Persoalan yang sering muncul adalah banyak orang yang memandang haji sebagai titik akhir perjalanan spiritual. Setelah pulang dari Makkah, semangat ibadah perlahan menurun. Shalat berjamaah yang dahulu dijaga mulai ditinggalkan. Tilawah Al-Qur’an yang selama di Tanah Suci menjadi rutinitas harian mulai berkurang. Bahkan tidak sedikit yang kembali kepada kebiasaan lama yang kurang baik. Padahal sesungguhnya haji bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang baru.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Di Makkah, seorang jamaah telah belajar banyak hal. Ia belajar kesabaran ketika menghadapi antrean panjang. Ia belajar disiplin ketika mengikuti jadwal ibadah. Ia belajar mengendalikan emosi ketika berinteraksi dengan jutaan manusia dari berbagai bangsa. Ia belajar keikhlasan ketika beribadah tanpa berharap pujian siapa pun. Semua pelajaran tersebut seharusnya dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemabruran haji pada hakikatnya merupakan keberhasilan membawa nilai-nilai haji ke dalam kehidupan pasca-haji.
Allah SWT berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(QS. Al-Baqarah: 197)
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Ayat ini berada dalam rangkaian ayat-ayat haji. Menariknya, Allah tidak menyebut bekal berupa harta, kendaraan, atau logistik sebagai bekal terbaik, melainkan takwa. Ini menunjukkan bahwa tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah peningkatan kualitas ketakwaan. Karena itu, ukuran kemabruran bukanlah banyaknya oleh-oleh yang dibawa pulang, melainkan sejauh mana ketakwaan itu tumbuh dalam diri seorang haji.
Salah satu cara menjaga kemabruran adalah dengan menjaga kualitas ibadah yang telah dibangun selama di Tanah Suci. Ketika di Makkah dan Madinah, seorang jamaah rela berjalan jauh untuk shalat berjamaah, menghabiskan waktu berjam-jam membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak dzikir dan doa. Semangat ini tidak boleh berhenti setelah kembali ke rumah. Kemabruran harus dipelihara melalui kontinuitas amal saleh. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Selain ibadah personal, kemabruran juga harus tercermin dalam hubungan sosial. Haji mengajarkan persaudaraan, kesetaraan, dan kepedulian terhadap sesama. Di Arafah, Mina, dan Muzdalifah, seluruh manusia berdiri sejajar tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan. Pengalaman ini seharusnya melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih aktif dalam memberikan manfaat kepada masyarakat. Menarik untuk memperhatikan sebuah hadis yang menjelaskan ciri haji mabrur. Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang haji yang terbaik, beliau menjawab:
إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ
“Memberi makan dan bertutur kata yang baik.”(HR. Ahmad dan Thabrani)
Indikator kemabruran justru terletak pada perilaku sosial. Orang yang hajinya mabrur akan lebih mudah membantu orang lain, lebih santun dalam berbicara, dan lebih bermanfaat bagi lingkungannya.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Dalam konteks Indonesia, kemabruran haji memiliki arti yang sangat strategis. Setiap tahun ratusan ribu jamaah Indonesia berangkat ke Tanah Suci. Jika seluruh jamaah tersebut pulang dengan membawa semangat perbaikan diri, maka sesungguhnya haji tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat dan bangsa.
Bayangkan jika para haji menjadi teladan dalam kejujuran, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan akhlak yang mulia. Mereka akan menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Inilah yang oleh banyak ulama disebut sebagai dimensi sosial kemabruran haji.
Menjaga kemabruran haji adalah menjaga api spiritual yang telah dinyalakan di Tanah Suci. Jangan sampai air mata yang pernah menetes di Multazam, doa yang pernah dipanjatkan di Arafah, dan dzikir yang pernah menggema di Masjidil Haram hanya menjadi kenangan yang tersimpan dalam album perjalanan. Kemabruran harus hidup dalam sikap, ucapan, dan perilaku sehari-hari.
Tentu saja haji yang mabrur bukan karena gelar “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” yang disematkan oleh masyarakat. Haji mabrur tampak dari perubahan karakter yang dirasakan oleh keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah haji kaum Muslimin, menganugerahkan kemabruran yang hakiki, serta menjaga hati kita agar tetap istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّنَا مَبْرُورًا، وَسَعْيَنَا مَشْكُورًا، وَذَنْبَنَا مَغْفُورًا
“Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur, usaha kami usaha yang diterima, dan dosa-dosa kami dosa yang Engkau ampuni.”
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Wallahu a’lam bish showab
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
















Mina Indonesia
Mina Arabic