Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

EFA Pecat “Pahlawan” Mesir di Piala Dunia dari Timnas

Rudi Hendrik Editor : Widi Kusnadi - 60 menit yang lalu

60 menit yang lalu

12 Views ㅤ

Mantan pelatih Timnas Mesir Hossam Hassan. (Gambar: X / @MickyJnr_ / Micky Jnr)

Kairo, MINA – Hanya berselang sekitar 60 hari setelah Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) memperbarui kepercayaan mereka kepada Hossam Hassan hingga tahun 2030, keputusan tersebut dibatalkan pada Sabtu (7/11).

EFA resmi memecat sosok “pahlawan” yang membawa Mesir meraih kemenangan pertamanya di Piala Dunia sekaligus melaju ke babak gugur turnamen tersebut.

Siaran pers dari EFA tidak menyebutkan alasan resmi di balik pemecatan itu dan menggunakan bahasa yang tidak langsung. Namun, penyebutan mengenai “citra positif dan stabilitas” tim tampaknya merujuk pada berbagai masalah yang menyelimuti Hassan sejak Piala Dunia.

“Menyusul rapat Dewan Direksi yang dimulai pagi ini dan masih berlangsung, serta setelah meninjau seluruh situasi dan peristiwa terkini—beserta dampak negatifnya terhadap citra positif dan stabilitas tim nasional kita—Dewan telah memutuskan, dalam lingkup tanggung jawabnya dan sesuai dengan ketentuan kontrak, untuk menyampaikan terima kasih kepada Kapten Hossam Hassan beserta staf teknis dan administratifnya,” demikian bunyi pernyataan yang dirilis melalui platform X.

Baca Juga: Megawati Hangestri Kalah Dua Kali, Klasemen Terkini dan Jadwal Liga Voli Korea Putri Hari Ini

“Situasi dan peristiwa terkini” tersebut tampaknya merujuk pada serangkaian polemik yang melibatkan Hassan sejak Piala Dunia usai.

Semuanya bermula pada akhir Agustus, ketika sebuah video yang memperlihatkan perselisihan keluarga yang melibatkan Hassan dan istri-istrinya beredar luas di media sosial, memicu konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Di tengah ramainya perbincangan mengenai masalah keluarga tersebut di media sosial Mesir, babak kualifikasi AFCON 2027 pun tidak memberikan angin segar. Pada 26 September, muncul kabar mengenai keretakan hubungan antara Hassan dan Mohamed Salah, setelah sang pemain sayap ditarik keluar lebih awal dalam pertandingan yang berakhir imbang 0-0 melawan Angola. Salah kemudian diistirahatkan pada laga berikutnya melawan Sudan Selatan.

EFA mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa keputusan untuk mengistirahatkan Salah pada pertandingan tanggal 29 September diambil “karena penggunaan rumput sintetis di lapangan tersebut.”

Baca Juga: Fulham vs Newcastle United: Tembakan Roket Jacob Murphy Pecah Kebuntuan

Namun, jurnalis Mesir, Ahmed Abdel Basset dari MBC Masr 2, mengeklaim adanya “ketegangan di ruang ganti” dan menyatakan bahwa Salah telah meninggalkan pemusatan latihan secara diam-diam setelah pertandingan melawan Angola.

Kabar buruk lainnya menghampiri Hassan pada akhir Oktober, ketika FIFA menjatuhkan sanksi larangan tampil dalam tiga pertandingan karena ia menyalahkan kesalahan wasit atas tersingkirnya Mesir oleh Argentina di Piala Dunia.

Namun, krisis yang lebih besar membayangi. Pada 4 November, di tengah perselisihan keluarga yang berkepanjangan, Dewan Tertinggi untuk Regulasi Media Mesir menjatuhkan larangan tampil di media tanpa batas waktu terhadap dirinya.

Dewan tersebut tidak merinci pelanggaran apa yang dilakukan, tetapi larangan ini menyusul kebijakan serupa yang sebelumnya diterapkan terhadap mantan istri Hassan—melarangnya muncul di media—setelah perselisihan pribadi mereka menjadi konsumsi publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Baca Juga: Fulham vs Newcastle United: Gol Dan Burn Dianulir, Babak Pertama Buntu

Dengan dilarangnya Hassan tampil di media, ditambah keretakan hubungan dengan Salah yang masih terus memanas menjelang jeda internasional bulan November, Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) memutuskan bahwa “citra positif dan stabilitas”—seperti yang disebutkan dalam pernyataan resmi mereka—tidak dapat dipertahankan selama Hassan masih berada di pinggir lapangan.

Sebuah ironi yang pahit. Penampilan tersukses tim nasional Mesir di panggung dunia memberikan modal berharga bagi federasi. Namun, kegaduhan yang diciptakan Hassan di luar lapangan telah menghabiskan modal tersebut dalam waktu kurang dari enam bulan.

Sempat muncul optimisme tinggi bagi Mesir setelah Piala Dunia, terutama dengan harapan untuk memenangkan gelar Piala Afrika (AFCON) pertama mereka sejak 2010.

Kini, di bawah asuhan Ali Maher—sosok yang berkecimpung di Liga Primer Mesir tetapi belum pernah melatih dua klub raksasa Mesir, Al-Ahly atau Zamalek—Mesir kembali menghadapi masa ketidakpastian.

Baca Juga: Persija vs Persebaya: Gempuran Tanpa Henti Macan Kemayoran Berbuah Manis

Tugas yang ia emban jauh lebih besar sekadar mengisi posisi pelatih yang kosong. Ia mewarisi skuad yang telah menetapkan standar baru di panggung dunia, persoalan terkait Salah yang belum terselesaikan, serta ambisi meraih gelar juara kontinental yang telah lama luput dari genggaman Mesir sejak 2010. Timbul pertanyaan publik: apakah Maher mampu mengubah momentum positif dari Piala Dunia menjadi kekuatan untuk menjuarai AFCON? []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Persija vs Persebaya: Sama-Sama Tumpul pada Babak Pertama

Rekomendasi untuk Anda