BANYAK orang tumbuh dengan keyakinan yang tak pernah diucapkan, bahwa mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang berbahaya. Takut disebut egois, takut dianggap kurang ikhlas, takut dinilai hanya memikirkan diri sendiri. Akhirnya kita belajar memberi tanpa jeda, menolong tanpa batas, memahami semua orang, kecuali diri sendiri. Kita begitu sigap merawat luka orang lain, namun membiarkan luka kita sendiri terabaikan. Kita tampak kuat di luar, tetapi perlahan rapuh di dalam. Padahal dalam Islam, diri kita bukan milik kita sepenuhnya, ia adalah amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Allah dengan jelas mengingatkan, “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Kebinasaan tidak selalu berupa dosa besar yang tampak, kadang ia hadir dalam bentuk kelelahan yang dipendam, emosi yang ditekan, atau jiwa yang dipaksa terus kuat tanpa pernah diberi ruang bernapas. Mengabaikan kesehatan mental, memaksa diri selalu tersedia untuk semua orang, dan menormalisasi luka yang terus dibiarkan, sejatinya juga bentuk mencelakakan diri secara perlahan.
Mencintai diri bukanlah memuja diri. Ia bukan tentang merasa paling penting, paling benar, atau paling pantas didahulukan. Egoisme berkata, “Aku dulu, orang lain nanti,” sementara cinta diri yang sehat berkata, “Aku cukup berharga untuk dirawat, agar aku bisa hadir lebih baik bagi orang lain.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari). Hadis ini sederhana namun dalam maknanya. Islam tidak mengajarkan pengorbanan yang menghabiskan diri hingga hancur, melainkan keseimbangan antara memberi dan menjaga diri.
Menariknya, ilmu pengetahuan modern justru menguatkan pesan ini. Penelitian tentang self-compassion yang dikembangkan oleh Dr. Kristin Neff menunjukkan bahwa orang yang mampu bersikap lembut pada dirinya sendiri justru lebih stabil secara emosional, lebih empatik, dan lebih sehat dalam hubungan sosial. Mereka tidak menjadi egois, justru lebih tulus dalam memberi karena tidak sedang mencari pengakuan atau menambal kekosongan batin. Orang yang berdamai dengan dirinya tidak menjadikan orang lain sebagai tempat pelarian luka.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Salah satu bentuk cinta diri yang paling sulit dipraktikkan adalah berani memberi batas. Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Tidak semua masalah harus kita pikul. Tidak semua kebaikan harus dilakukan dengan mengorbankan kewarasan sendiri. Allah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Jika Allah saja tidak memaksa hamba-Nya melampaui batas, mengapa kita sering memaksa diri sendiri seolah-olah menjadi penyelamat bagi semua hal?
Mencintai diri juga bukan konsep rumit atau kemewahan yang sulit dijangkau. Ia hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang sering kita remehkan: tidur cukup tanpa rasa bersalah, mengakui lelah tanpa merasa gagal, menjaga shalat sebagai tempat kembali bukan sekadar rutinitas, memilih diam agar tidak melukai, serta memaafkan diri atas masa lalu yang tidak bisa diulang. Rasulullah SAW, manusia paling mulia, tetap beristirahat, menangis, berdoa, dan meminta pertolongan Allah saat lelah. Itu teladan bahwa menjadi hamba yang kuat tidak berarti meniadakan sisi manusiawi.
Justru sering kali, orang yang tidak mencintai dirinya dengan sehatlah yang paling mudah terluka, haus pengakuan, sulit ikhlas, dan gampang tersinggung. Sebaliknya, mereka yang berdamai dengan dirinya lebih ringan memberi, lebih lapang memaafkan, dan lebih tenang ketika tidak dihargai. Karena harga dirinya tidak bergantung pada penilaian manusia. Ia tahu siapa dirinya di hadapan Allah, dan itu sudah cukup.
Pada akhirnya, mencintai diri bukan tujuan akhir, melainkan pondasi. Dari sanalah lahir keikhlasan yang jernih, kepedulian yang tidak melelahkan, dan pengabdian yang berumur panjang. Merawat diri mungkin tak selalu mendapat tepuk tangan, namun Allah Maha Mengetahui setiap niat yang tersembunyi. Merawat diri bukan menjauh dari Allah, justru sering kali menjadi jalan paling jujur untuk kembali kepada-Nya, dengan jiwa yang utuh, tenang, dan siap menebar manfaat. Karena mencintai diri dengan benar tidak membuat kita sibuk pada “aku”, tetapi memampukan kita hadir sepenuh hati untuk “kita”.[]
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic