Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Antara Layar Stadion Piala Dunia dan Layar Kehidupan Palestina

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 25 Juni 2026 - 07:48 WIB

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:48 WIB

72 Views ㅤ

Ilustrasi: Bendera Palestina di tribun penonton sepakbola. (Foto: Arab48)

DI MANA-MANA, di sudut-sudut kota, dari kafe pinggir jalan hingga hotel-hotel berbintang, orang-orang berkerumun. Mata mereka tertuju pada satu titik layar raksasa yang menyiarkan Piala Dunia 2026. Teriakan, tawa, pelukan, dan tangisan bahagia bercampur menjadi satu.

Sepak bola memang memiliki kekuatan luar biasa untuk menyatukan manusia lintas bangsa, bahasa, dan warna kulit.

Tetu, tidak dilarang untuk bersenang-senang dan menikmati hiburan yang membahagiakan. Islam sendiri mengakui bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk rekreasi dan kegembiraan sebagai penyegar jiwa di tengah kesibukan dan kesedihan.

Namun, di balik gemerlap layar stadion, ada layar lain yang juga menyiarkan realitas pahit. Layar kehidupan di Gaza, di mana pengeboman oleh pasukan Zionis tidak pernah berhenti, siang dan malam. Rumah-rumah rata dengan tanah, anak-anak ditarik keluar dari bawah reruntuhan, dan para ibu mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak mereka yang terbujur kaku. Di satu sisi, sorak-sorai gol menggema, di sisi lain, jeritan pilu bergema.

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Ironi Kehidupan

Para penggemar sepak bola rela begadang sampai fajar, berkumpul dengan riuh, merogoh kocek dalam-dalam untuk tiket dan perjalanan ke Amerika Serikat. Ada yang menyewa pesawat pribadi, mengeluarkan ratusan juta rupiah per orang, hanya untuk duduk di tribun stadion dan menyaksikan idola mereka bermain.

Sementara itu, apa yang terjadi di Gaza? Para penggemar menonton pertandingan, pengeboman Gaza tidak henti-hentinya oleh pasukan zionis. Rumah-rumah dihancurkan, anak-anak ditarik keluar dari bawah reruntuhan, para ibu mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak mereka.

Seolah-olah ada ironi yang menggigit, di satu sisi, manusia merayakan kemenangan; di sisi lain, manusia lain meratapi kehilangan. Musuh seolah-olah memahami kita lebih dari kita memahami diri kita sendiri. Ia tahu bagaimana membunuh kita, dan ia juga tahu bagaimana mengalihkan perhatian kita.

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Pertanyaan yang harus kita renungkan Bersama, “Apakah Palestina telah menjadi begitu berat? Apakah beban Al-Aqsa telah menjadi beban bagi bangsa, bukan kehormatan baginya?”

Al-Quds bukanlah tujuan rakyat Palestina saja. Al-Aqsa bukanlah warisan satu bangsa. Al-Aqsa dan Palestina adalah cita-cita seluruh umat Islam, seluruh umat manusia yang mencintai keadilan. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam, tempat suci yang diberkahi Allah dalam firman-Nya, “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra [17]: 1).

Namun, hari ini, perhatian terhadap Al-Aqsa tampaknya ditinggalkan sedikit demi sedikit. Hanya dipikul oleh segelintir aktivis. Mayoritas umat justru lebih antusias begadang untuk pertandingan sepak bola, tetapi sulit meluangkan satu jam pun untuk tujuan kemanusiaan, untuk mendoakan saudara-saudara di Palestina, apalagi memberikan bantuan nyata.

Ironi Tiket Piala Dunia dan Bantuan Gaza

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Ada cerita yang mencengangkan, seorang pengusaha Timur Tengah rela mengeluarkan uang hingga $50.000 (sekitar Rp800 juta) untuk tiket VIP di stadion Piala Dunia. Ia menyewa jet pribadi dan hotel bintang lima. Namun, ketika dimintai sumbangan untuk Gaza, ia mengeluh, “Ekonomi sedang sulit.”

Inilah ironi yang menyedihkan. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hiburan. Tidak! Islam mengajarkan keseimbangan. Tapi bagaimana mungkin kita begitu royal terhadap hiburan, tetapi begitu pelit terhadap kemanusiaan?

Bagaimana jika kita menemukan Masjid Al-Aqsa dengan beberapa semangat yang kita temukan di tribun lapangan bola? Bagaimana jika kita mencintai kebebasan bagi para tahanan seperti kita mencintai kemenangan untuk tim kita? Bagaimana jika kita berkumpul untuk masalah takdir kita saat kita berkumpul untuk pertandingan final?

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh. Jika satu anggota sakit, seluruh tubuh merasakan demamnya.

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Beliau bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya ikut tidak bisa tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Jika demikian, maka penderitaan Palestina adalah penderitaan kita semua. Kebebasan Al-Aqsa adalah tanggung jawab kita semua.

Tentu jangan salah paham juga. Tulisan ini bukan untuk melarang orang menikmati Piala Dunia. Bukan untuk memaksa orang bersedih terus-menerus. Islam mengajarkan bahwa jiwa yang sehat adalah jiwa yang mampu menyeimbangkan antara hiburan dan tanggung jawab.

Semoga kita dapat menjadi umat yang seimbang, yang boleh saja bersuka-cita dalam batas-batas syariat. Namun juga mampu bersedih dan berjuang untuk keadilan di muka bumi, terutama untuk pembebasan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina. Aamiin. []

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda