Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Doa Sapujagat, Kebahagiaan Dunia Akhirat

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 9 Agustus 2026 - 21:28 WIB

Ahad, 9 Agustus 2026 - 21:28 WIB

46 Views ㅤ

Ilustrasi: Berdoa (ist)

MUNGKIN kita pernah merasakan ada sesuatu yang kosong di tengah gemerlap dunia? Kita telah meraih banyak hal, seperti pekerjaan yang mapan, rumah yang nyaman, keluarga yang hangat. Namun, entah mengapa, ada kerinduan yang tak terucapkan.

Ada kecemasan saat memikirkan apa yang akan terjadi setelah kematian. Kita ingin bahagia di sini, di dunia, tetapi juga tidak ingin kehilangan kebahagiaan di sana, di akhirat.

Di sinilah letak kebijaksanaan Islam yang begitu mendalam. Allah tidak mengajarkan kita untuk memilih antara dunia dan akhirat. Allah mengajarkan kita untuk memintanya sekaligus dalam satu doa, kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 201:

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar.” 

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Ayat ini adalah salah satu doa yang paling agung dalam Al-Quran. Ulama menyebutnya sebagai doa sapu jagat, yakni doa yang mencakup segala hajat manusia. Pendek, padat, namun mengandung seluruh permohonan yang dibutuhkan seorang hamba untuk meraih kebahagiaan sejati, dunia hingga akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri sangat gemar membaca doa ini.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Subhanallah. Betapa doa yang pendek ini begitu istimewa di sisi Nabi hingga beliau mengulang-ulangnya dalam setiap kesempatan.

Memaknai “Hasanah” Lebih dari Sekadar Kebaikan

Kata hasanah dalam ayat ini bukanlah sekadar “kebaikan” dalam arti umum. Para ulama tafsir telah merenungi maknanya dengan sangat mendalam.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa hasanah di dunia mencakup segala sesuatu yang membawa kebaikan dan menjauhkan dari keburukan. Lebih rinci lagi, para ulama menyebutkan bahwa kebaikan di dunia meliputi:

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

  • Kesehatan jasmani: tubuh yang kuat, tidak berpenyakit, dan mampu beribadah dengan optimal.
  • Rumah yang lapang dan nyaman: tempat tinggal yang memberi ketenangan bagi keluarga.
  • Pasangan hidup yang shalih/shalihah: pendamping yang menjadi penyejuk mata dan penolong dalam ketaatan.
  • Rezeki yang halal, luas, dan berkah:  cukup untuk diri dan keluarga, serta dapat dibagikan kepada yang membutuhkan.
  • Ilmu yang bermanfaat: pengetahuan yang mencerahkan hati dan menjadi bekal untuk mengabdi kepada Allah.
  • Amal saleh : perbuatan baik yang mendekatkan diri kepada Allah.
  • Kehormatan diri yang terjaga: martabat yang tidak ternoda oleh dosa dan kehinaan.

Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan hasanah di dunia sebagai ilmu dan ibadah, sementara hasanah di akhirat adalah surga.

Sufyan Ats-Tsauri juga berpendapat bahwa kebaikan dunia adalah rezeki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan akhirat adalah surga.

Sementara itu, para ulama lain menambahkan dimensi yang lebih luas: keamanan dari kekerasan, kesehatan, rezeki mencukupi, serta anak-anak yang shalih.

Lihatlah betapa indahnya Islam. Saat kita memohon hasanah di dunia, kita tidak hanya meminta harta. Kita memohon kesehatan untuk beribadah, keluarga yang baik untuk menenangkan hati, ilmu untuk menerangi jalan, dan amal saleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ini adalah kebahagiaan yang paripurna, tidak hanya lahiriah, tetapi juga batiniah.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Keseimbangan Hidup

Doa ini mengajarkan kita untuk tidak ekstrem dalam hidup. Ada yang terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Ada pula yang terlalu “saleh” secara spiritual tetapi mengabaikan tanggung jawab duniawi. Islam mengajarkan jalan tengah.

Keseimbangan inilah yang membuat doa ini begitu istimewa. Kita memohon kebaikan di dunia sebagai bekal untuk beribadah, dan kebaikan di akhirat sebagai tujuan utama. Dunia bukanlah musuh, melainkan ladang tempat kita menanam amal untuk dipanen kelak di akhirat.

Begitulah, kebahagiaan dunia yang kita kejar hanyalah ilusi jika tidak disertai dengan kebahagiaan akhirat. Dan sebaliknya, mengabaikan dunia dengan dalih “hanya fokus akhirat” juga bukanlah ajaran Islam.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Doa ini menjadi kunci untuk meraih kebahagiaan yang seimbang. Ia mengajarkan kita untuk memohon kesehatan agar kita bisa beribadah, ilmu agar kita bisa memahami, rezeki agar kita bisa berbagi, dan keluarga yang saleh agar kita bisa saling mendukung dalam ketaatan.

Mari kita jadikan doa ini sebagai wirid harian. Baca dengan penuh penghayatan, karena di dalamnya terkandung seluruh impian seorang hamba: bahagia di dunia, selamat di akhirat, dan terbebas dari siksa neraka. []

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Rekomendasi untuk Anda

Info MINA
Internasional
Dunia Islam