Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada Keberkahan Sahur dalam Puasa Ramadhan: Dalil dan Penjelasan Ulama

Ansaf Muarif Gunawan Editor : Rudi Hendrik - Ahad, 22 Februari 2026 - 23:17 WIB

Ahad, 22 Februari 2026 - 23:17 WIB

38 Views

Ilustrasi: Satu keluarga Muslim sedang sahur untuk berpuasa. (Gambar: Dreamina)

PUASA Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang telah baligh, berakal, dan mampu secara fisik. Puasa Ramadhan tidak hanya menuntut pelaksanaan kewajiban, tetapi juga dianjurkan untuk disempurnakan dengan sunnah-sunnahnya, seperti sahur yang mengandung keberkahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan, ayat ini menegaskan bahwa puasa Ramadhan wajib bagi setiap Muslim yang telah baligh dan berakal, sebagaimana diwajibkan atas umat terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah universal yang menjadi sarana untuk mencapai ketakwaan. Al-Qurthubi menekankan bahwa kata “kitaabu ‘alaikum” (ditetapkan atas kamu) menunjukkan kewajiban individual, bukan hanya secara kolektif.

Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menambahkan, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berpuasa agar mereka menahan diri dari hawa nafsu, lapar, dan dahaga, serta meningkatkan kesadaran spiritual. Dengan puasa, seorang hamba belajar disiplin, sabar, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ibnu Katsir juga menekankan bahwa ayat ini menyamakan kewajiban puasa dengan umat terdahulu, menunjukkan konsistensi syariat Allah.

Sementara itu, Al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menjelaskan, tujuan dari puasa adalah untuk menjadi manusia yang bertakwa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menahan segala bentuk kemaksiatan. Dengan puasa, hati lebih bersih, akal lebih jernih, dan seorang mukmin dapat lebih khusyuk dalam beribadah.

Sahur adalah makan atau minum yang dilakukan sebelum fajar sebagai persiapan menjalankan puasa. Dalam Islam, sahur termasuk sunnah yang dianjurkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Hukum Sahur

Baca Juga: Ramadhan di Balik Penjara Israel, Tidak Tahu Kapan Mulai Puasa dan Waktu Shalat

Hukum sahur dalam Islam adalah sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan tetapi tidak wajib.

Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam  hampir selalu melakukan sahur dan menganjurkan umatnya untuk melakukannya. Para ulama menjelaskan bahwa sahur disebut sunnah muakkadah karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  tidak pernah meninggalkannya dan bahkan membedakan puasa umat Islam dengan puasa Ahlul Kitab melalui sahur.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Baca Juga: Bulan Ramadhan, Perbaikan Diri dan Kepedulian Sosial

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kuatnya anjuran sahur, karena ia menjadi syiar (ciri khas) umat Islam. Oleh karena itu, meskipun sahur tidak wajib, meninggalkannya tanpa alasan berarti meninggalkan keutamaan besar dan keberkahan yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak membatalkan puasa jika tidak dilakukan: Puasa tetap sah walaupun seseorang tidak sahur. Namun, melewatkan sahur berarti melewatkan keberkahan dan pahala sunnah.

Disunnahkan Sahur Mendekati Fajar

Sahur paling utama dilakukan mendekati fajar karena mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Rasulullah bersabda:

Baca Juga: Lima Keutamaan Memberi Makan Orang Berpuasa di Bulan Ramadhan

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

 “Bersahurlah, karena sahur itu mengandung keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu fajar merupakan amalan yang dianjurkan Rasulullah, karena di dalamnya terdapat keberkahan, kekuatan untuk beribadah, serta bentuk ittiba’ (mengikuti) sunnah beliau.

Para ulama fiqih menekankan bahwa sahur bukan sekadar sunnah ritual, tetapi juga sarana menjaga kesehatan tubuh saat berpuasa.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan bahwa sahur memberikan “kekuatan dan ketahanan bagi orang yang berpuasa sehingga dapat melaksanakan kewajiban ibadah dan aktivitas sehari-hari tanpa terganggu oleh lapar dan haus.”

Baca Juga: UEA Serahkan 30 Ton Kurma untuk Indonesia, Perkuat Solidaritas dan Persaudaraan

Dengan kata lain, sahur adalah sarana fikih dan kesehatan yang sejalan dengan prinsip syariah: menjaga diri agar ibadah tetap maksimal.

Para ulama menjelaskan bahwa sahur bukan hanya soal fisik, tetapi juga berdampak pada stabilitas mental dan spiritual:

Imam Nawawi dalam Riyadh as-Salihin menyebut bahwa sahur “menjadi perisai bagi pelaku puasa dari gangguan syahwat dan emosi yang tidak terkendali karena lapar atau lemah tubuh.”

Dengan kata lain, sahur membantu seorang mukmin lebih sabar, tenang, dan fokus dalam ibadah, sehingga puasa menjadi lebih berkualitas.

Baca Juga: Menyemai Dakwah di Aceh Tamiang: Menguatkan Iman, Meringankan Beban

Tips Mengambil Keberkahan Sahur

Pilih makanan bergizi dan mudah dicerna agar tubuh kuat menjalani puasa. Makanan sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks (seperti nasi, roti gandum, atau oatmeal), protein, serat, serta cukup cairan.

Para ulama menjelaskan bahwa menjaga kekuatan tubuh termasuk bagian dari menjaga amanah Allah terhadap jasmani. Dengan tubuh yang kuat, seseorang lebih mampu melaksanakan kewajiban puasa, shalat, membaca Al-Quran, dan aktivitas lainnya dengan optimal. Sahur yang baik membantu menjaga stamina dan menghindari rasa lemas berlebihan saat berpuasa.

Lakukan doa dan dzikir setelah sahur agar momen ini juga menjadi ibadah spiritual. Waktu sahur berada di sepertiga malam terakhir, yaitu waktu yang penuh keberkahan dan mustajab untuk berdoa. Selain makan dan minum, dianjurkan memperbanyak istighfar, doa, dan dzikir agar sahur tidak hanya bernilai fisik, tetapi juga bernilai ibadah. Dengan demikian, sahur menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mempersiapkan hati untuk menjalani puasa dengan khusyuk.

Baca Juga: Kisah Relawan UAR Menghidupkan Ramadhan di Aceh Tamiang

Sahur dengan niat tulus mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukan sekadar rutinitas fisik.

Niat membedakan antara kebiasaan dan ibadah. Ketika sahur dilakukan dengan niat mengikuti sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka aktivitas makan tersebut bernilai pahala. Para ulama menegaskan bahwa setiap amalan tergantung niatnya. Oleh karena itu, menghadirkan niat ibadah saat sahur menjadikannya bukan sekadar persiapan jasmani, tetapi juga bentuk ketaatan dan cinta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  serta upaya meraih keberkahan dalam puasa Ramadhan.

Sahur merupakan sunnah yang penuh keberkahan, memberikan kekuatan fisik sekaligus pahala tambahan bagi yang melaksanakannya. Dengan sahur, puasa Ramadhan tidak hanya menjadi ibadah menahan lapar dan haus, tetapi juga sarana melatih kesabaran, menumbuhkan ketakwaan, dan mempererat kedekatan kepada Allah.

Semoga Allah Subhanhu wa Ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa menghidupkan sunnah ini dan meraih keberkahan di dalamnya. []

Baca Juga: Di Ketinggian Tanpa Daya, Tawakkal Menemukan Maknanya

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Ramadhan 1447 H
Tausiyah
Ramadhan 1447 H
Ramadhan 1447 H
Ramadhan 1447 H