Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hakikat Puasa, Jalan Menuju Taqwa dan Kemuliaan Jiwa

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Jumat, 20 Februari 2026 - 05:34 WIB

Jumat, 20 Februari 2026 - 05:34 WIB

75 Views ㅤ

ibadah puasa. Ramadhan (Foto: ig)

ADA saatnya manusia harus berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menahan lapar dan dahaga, bukan sekadar untuk merasakan perih di kerongkongan, tetapi untuk menyadari siapa dirinya di hadapan Allah Ta’ala.

Ramadhan datang bukan hanya sebagai bulan ibadah, melainkan sebagai madrasah ruhani yang mendidik jiwa. Di dalamnya, puasa menjadi sarana agung untuk membentuk insan bertaqwa. Lalu, apa sesungguhnya makna puasa dalam Islam? Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah taqwa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat.

Menurut Al-Ghazali, ada tiga tingkatan puasa: puasa orang awam (menahan lapar dan syahwat), puasa orang khusus (menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan kaki dari dosa), dan puasa khususul khusus (puasa hati dari segala selain Allah).

Makna puasa juga ditegaskan dalam hadits Rasulullah ﷺ:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa bukan ritual fisik semata, tetapi pembinaan akhlak. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa makna “Allah tidak membutuhkan” adalah bahwa puasa seperti itu tidak bernilai sempurna dan tidak membawa kepada derajat taqwa.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif Al-Ma’arif menyebutkan bahwa puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi dari riya, karena hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Dalam hadits qudsi disebutkan:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan, puasa disebut “untuk-Ku” karena ia adalah rahasia antara hamba dan Rabb-nya. Seseorang bisa saja berpura-pura shalat atau bersedekah, tetapi sulit berpura-pura berpuasa karena itu merupakan ibadah yang hanya ia sendiri dan Allah Ta’ala yang mengetahuinya.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa puasa adalah sarana pembebasan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Ketika seseorang mampu berkata “tidak” pada hal yang halal di siang hari Ramadhan, maka ia akan lebih mudah berkata “tidak” pada yang haram di luar Ramadhan. Di sinilah puasa menjadi latihan pengendalian diri.

Puasa juga mengajarkan solidaritas sosial. Dengan merasakan lapar, orang kaya memahami derita orang miskin. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan bahwa puasa melembutkan hati yang keras, mengingatkan pada nikmat Allah, dan menumbuhkan rasa syukur. Karena itulah, Ramadhan identik dengan sedekah dan kepedulian.

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Lebih dalam lagi, puasa adalah latihan keikhlasan. Ia menguji kesungguhan iman. Ketika tak ada manusia yang melihat, hanya Allah yang menjadi saksi. Dalam kondisi itulah kejujuran iman diuji.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Puasa adalah perisai selama tidak dirusak.” Para sahabat bertanya, “Dengan apa ia dirusak?” Ia menjawab, “Dengan ghibah dan dusta.”

Makna puasa juga berkaitan dengan penyucian jiwa. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)

Puasa adalah sarana tazkiyatun nafs. Ia membersihkan jiwa dari kerak dunia, dari kesombongan, dari kelalaian. Ketika perut kosong, hati menjadi lebih peka. Doa menjadi lebih khusyuk. Al-Qur’an lebih mudah menyentuh relung hati.

Ulama klasik dan kontemporer sepakat bahwa puasa adalah madrasah perubahan. Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum transformasi. Jika setelah Ramadhan seseorang tetap dalam kebiasaan maksiatnya, maka ia belum menangkap makna puasa yang hakiki.

Puasa adalah perjalanan kembali kepada Allah Ta’ala. Ia bukan sekadar menahan diri, tetapi melatih diri untuk tunduk. Ia bukan sekadar lapar, tetapi cahaya yang menerangi hati.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Ramadhan mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada kenyang dan kenyamanan, melainkan pada ketaatan dan ketundukan. Semoga kita termasuk hamba yang tidak hanya berpuasa dengan perut, tetapi juga dengan hati—hingga saat Idul Fitri tiba, kita benar-benar kembali dalam keadaan suci dan diridhai Allah Ta’ala. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Rekomendasi untuk Anda