Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Ketinggian Tanpa Daya, Tawakkal Menemukan Maknanya

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 24 Februari 2026 - 10:12 WIB

Selasa, 24 Februari 2026 - 10:12 WIB

10 Views ㅤ

DI DALAM kabin pesawat yang melaju puluhan ribu kaki di atas permukaan bumi, manusia belajar satu hal yang sering dilupakan di daratan, betapa rapuhnya dirinya. Tubuh terikat sabuk pengaman, ruang gerak terbatas, dan hidup seakan digantungkan pada tiga perkara, yaitu ketenangan pilot, keadaan mesin, dan keadaan cuaca.

Ketika langit cerah, semua terasa biasa. Namun saat awan menebal dan angin mengguncang badan pesawat, seketika hati bergetar. Getaran kecil saja cukup membuat doa mengalir dari bibir yang sebelumnya sibuk berbincang. Mata saling berpandangan, senyum menjadi kaku, dan kesadaran pun muncul, “Kita tidak memegang kendali apa pun.”

Di ketinggian itu, manusia benar-benar belajar tentang ketidakberdayaan. Tidak ada kekuatan, tidak ada jabatan, tidak ada harta yang mampu menahan satu gelombang turbulensi. Semua bergantung pada sesuatu yang tak sepenuhnya kita kuasai.

Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa di balik seluruh sebab yang terlihat, ada kekuasaan Allah yang mutlak. Allah dengan tegas menyatakan:

Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 2).

Ketika sandaran jiwa berpindah dari makhluk kepada Sang Pencipta, ketakutan berubah menjadi ketenangan. Karena Dia-lah tempat bergantung segala sesuatu. “Allahush Shomad.”

Al-Qur’an menuntun hati untuk bertawakkal:

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه

“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Thalaq: 3)

Pesawat boleh bergoyang, langit boleh menggelap, tetapi hati yang bertawakkal tetap teguh. Sebab ia tahu, tidak ada satu pun kejadian yang lepas dari penjagaan-Nya.

Karena itu, ketika kita keluar rumah, naik motor, bawa mobil atau naik umum atau grab, maka pasang tawakkal kepada Allah, itu yang utama. Bahwa semua ada dalam kendali Allah.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Tangan atau kaki bisa saja ngegas, rem bisa ditekan, setir bisa dikemudikan. Tapi hakikatnya keselamatan ada dalam kekuasaan Allah.

Maka ketika kita keluar rumah, kita pun dianjurkan mengucapkan doa, “Bismillah tawakkaltu ‘alallah, Laa haula walaa quwwata illaa billahi ‘aliyyil ‘adzim”.

Begitulah, manusia pada dasarnya memang tak berdaya. Dan dalam ketidakberdayaan itulah, tawakkal menjadikan jiwa paling kuat dan paling tenang. []

Catatan Safari Dakwah ke Nusa Tenggara Barat (NTB) Ramadhan 1447. 

Baca Juga: Bab Al-Mandab: Perebutan Selat Strategis yang Menentukan Harga Minyak Dunia

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda