Allah Sang Maha Pemberi

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

 

Seekor semut hitam yang jalannya meniti satu milimeter demi satu milimeter, ingin memangsa belalang yang jauh lebih besar lagi punya sayap di kanan  kirinya. Tapi, herannya, si semut hitam mendapatkan belalang mati di depannya.

Ia tinggal mengigitnya atau membawanya ke sarangnya. Lalu ia pun memanggil kawan-kawannya, tidak perlu melalui handphone atau kirim pesan singkat WhtasApp.

Tidak berapa lama, berkumpullah kawan-kawannya untuk bersama-sama mengangkat si belalang, dan dibawanya secara bergotong-royong menuju ke suatu tempat yang aman untuk disantap bersama-sama. Subhaanallaah….

Begitulah Allah ‘Azza wa Jalla telah menuliskannya di dalam titah suci-Nya bahwa semua binatang sudah Allah sediakan rezkinya :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Huud [11]: 6).

Kita hamba-Nya yang telah merengkuh berbagai kenikmatan tidak terhingga. Nafas yang kita hirup dari detik ke detik tidak pernah Allah hitung berapa rupiah harus dibayar.

Sementara ada di antara saudara-saudara kita yang tengah terbaring di rumah sakit, berapa juta rupiah mereka harus membayar tabung-tabung oksigen karena nafasnya tersengal-sengat akibat penyakit asmanya kambuh.

Darah merah yang mengalir ke seluruh tubuh kita pun tak pernah Allah minta kepada manusia untuk menggantinya dengan segunung emas. Padahal banyak penderita sakit yang terpaksa harus ditransfusi darahnya dari pendonor akibat kekurangan cairan darah pasca operasi.

Namun, ironisnya, kita seringkali begitu dengan mudahnya meninggalkan perintah-Nya, bahkan terbuai di dalam dosa, kemungkaran dan kemaksiatan. Hingga akhirnya prestasi kita sebagai manusia yang mulia, terjerembab ke dalam lembah hina penuh dosa.

Na’udzubillahi min dzalik.

Allah telah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ( ) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ( )

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. (QS At-Tiin [95]: 4-5).

Maka, apakah kita tidak malu dengan semua karunia dan rezki dari Allah yang Allah titipkan kepada kita? Semua karunia kenikmatan berupa kesehatan fisik, rezki harta dan kekayaan materi, keluarga yang berkembang sedap dipandang mata, kedudukan yang memadai, ilmu yang ada, dan segala kebutuhan yang tercukupi.

Sementara amal ibadah dan juang kita tidak sebanding dengan yang Allah limpahkan  gratis kepada kita. Apakah kita sudah begitu percaya diri bahwa kita bisa masuk surga hanya dengan beberapa sedikit amal kebaikan, secuil prestasi ibadah, dan setumpuk kemaksiatan?

Sepantasnyalah kita malu dengan teguran Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam firman-firman-Nya :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

Artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran [3]: 142).

Untuk itu, patut kita canangkan mulai dari sekarang bahwa sekali hidup, sekali itu berarti, sudah itu mati. Juga agar kita selalu mendapatkan limpahan karunia dari Sang Maha Pemberi.

Semoga kita berhasil menempuh jalan hidup yang penuh ujian ini dengan amal kebaikan. Terimalah amal kebaikan kami ya Allah. Amin Yaa Robbal ‘alamin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)