Bagaimana Kita Mengisi Itikaf (2)

Oleh : Syeikh Nashir bin Sulaiman al ‘Umri

Mantan Sekjen Rabitah Alam Islami

Ambillah yang benar dari para ulama dan para dai’i semuanya. Namun jangan anda tutupi akal anda dari mereka.

Satu ketika Rasulullah shallallahu’laihi wa sallam berkata kepada Abu Hurairah, tatkala ia datang menemui Rasul dan menceritakan kisahnya bersama setan, “Apa yang dilakukan oleh tamumu di malam tadi ?”. Beliau tahu bahwa tamu yang dimaskud adalah setan. Dialah yang mencuri kurma yang sedang dijaga Abu Hurairah.

Di kesempatan lain setan berkata kepada Abu Hurairah RA, “Maukah kamu aku tunjukan satu kalimat yang bisa menjagamu ?” Lalu setan pun menunjukan kepadanya kalimat tersebut yakni Ayat Kursi.

Abu Hurairah pun bergegas menemui Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk menceritakan kejadian itu. Lalu apa yang Rasul sampaikan padanya ? Apakah beliau mengatakan, “Tinggalkan lah setan itu !” “Apakah kamu mau mengambil perkataan setan tersebut ?”

Rasul berkata, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta.” Perhatikan, meskipun setan atau iblis itu adalah pendusta, namun perbincangan Abu Hurairah dengan setan tersebut menjadi dalil yang menunjukan betapa utama kedudukan Ayat Kursi dan fungsinya sebagai pelindung orang-orang muslim. Subhanallah.

Untuk itu satu hal yang aneh saat sebagian orang menutup akal dan hati mereka dari satu atau sebagian ulama ? Orang-orang itu mengatakan, “Hai fulan, jangan kau datang di majelis Syeikh ini dan itu. Mereka sudah salah berijtihad dan bersikap salah.” Padahal Syeikh tersebut bukanlah pelaku bid’ah dan juga penganut hawa nafsu. Lalu bagaimana bisa mereka mentahdir ulama ?

Semoga Allah melindungi kita dari sikap demikian.

Kembali ke awal. Menyendiri dan berdiam diri dengan beritikaf memberi kita kesempatan untuk bertafakkur dan bertadabbur. Bayangkan diri kita yang kelak mati dalam keadaan sendiri, dikubur sendirian, dibangkitakan sendirian, dihisab sendiri dan menyeberangi shirath sendirian !

Dan diantara kesibukan lain yang sebaiknya dilakukan mu’takif adalah bersegera untuk mendatangi shalat sebelum waktunya, bermunajat memohon peningkatan iman, muhasabah diri yang serba kekurangan dan menyiapkan diri untuk tugas-tugas dakwah, menuntut ilmu dan jihad.

Apa yang harus dihindari mu’takif ?

Yakni meninggalkan kesendirian selain saat menunaikan shalat berjama’ah. Lainnya seperti tidak menyadari urgensi kesendirian dan keutamaan itikaf, tidak tahu urgensi mengurangi makan, minum atau membatasinya sekedarnya.

Sebagian mu’takif, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, memindahkan barang-barang mereka dari rumah ke masjid. Barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk itikaf mereka. Sebagian anak muda juga demikian. Mereka tidak seperti sedang itikaf di masjid, melainkan sedang mendatangi pusat-pusat liburan. Dan ini bukanlah itikaf..!

Sebab itikaf berarti anda harus mengurangi tidur anda kecuali sekedarnya saja. Mengurangi obrolan kecuali yang penting. Inilah hikmah dari itikaf.

Kaum muslimin membutuhkan aktifitas-aktifitas ‘uzlah (menyendiri) seperti yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau bahkan menghindari bertemu para sahabat agar bisa menyendiri. Maka kurangi obrolan anda jika tidak penting. Hindari banyak tawa, canda dan membelanjakan harta yang tidak anda butuhkan.

Ada satu pertanyaan penting. Mungkinkah anda hidup tanpa kemaksiatan saat sedang beritikaf ? Tentu bisa. Sebab tak pantas bagi mu’takif memaksiati Allah Ta’ala sedang anda berada di dalam rumahnya, di bulannya yang mulia dan di sepuluh malam terakhir. (L/RA 02/P1)

Sumber : Saaid.net

Mi’raj News Agency (MINA)