Bagaimana Kita Mengisi Itikaf (1)

Oleh : Syeikh Nashir bin Sulaiman al ‘Umri

Mantan Sekjen Rabitah Alam Islami

Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah mengutip satu kaidah yang oleh al Imaam Ibnul Qoyyim diungkapkan dengan kalimat yang sangat baik. Kaedah ini menjelaskan apakah anda itikaf dengan benar ataukah itikaf anda cacat. Kaidah itu yakni, “Itikaf adalah menyibukkan diri dengan Al Khaaliq dari makhluq.”

Orang yang beritikaf seharusnya menyibukkan diri dengan dzikir, doa, istighfar, taubat, membaca Al Qur’an, mentadabburinya, shalat, tafakkur, merenungi jalannya menemui Rabbnya.

Tafakkur merupakan bagian paling penting yang dituju itikaf. Terlebih kita hidup di situasi yang penuh dengan pekerjaan dan kesibukan duniawi. Situasi yang membuat kita tidak memiliki kesempatan untuk belajar, untuk memahami apakah kita berjalan di jalan yang benar menuju Allah atau tidak.

Maka perhatikan baik-baik wahai para pemuda ! Semoga Allah memberkahi dan memperbaiki keadaan anda.

Anda sering kali disibukkan dengan pekerjaan duniawi. Sekiranya anda menyempatkan diri untuk duduk, merenung dan mentadabburi, anda akan menemukan kesalahan jalan yang anda tempuh.

Untuk itu beritikaflah ! Lepaskan segala kesibukan duniawi anda ! Tinggalkanlah pekerjaan-pekerjaan anda. Bahkan jika itu termasuk pekerjaan yang menyangkut ketaatan, seperti berdakwah dan menuntut ilmu, tinggalkanlah.

Demikian agar yang tersisa dari kesibukan anda hanyalah antara diri anda dengan Allah. Renungkanlah dengan baik dalam kesendirian anda, apakah anda sedang berada di jalan menuju Allah, apakah jalan anda benar ?

Sekiranya manusia menyendiri untuk bertafakkur dan bertadabbur, menjauhkan diri dari kesibukan dunia, menjauhi orang-orang, serta menjauhi segala obrolan tentang orang lain, lalu berlindung dan berdekatan dengan Allah Ta’ala saja, insyaAllah Dia akan memberikan hidayah kepadanya ke jalan yang lurus dan benar. Jalan yang ditempuh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Itikaf, dengan begitu, merupakan kesempatan besar untuk bisa bertadabbur dan bertafakkur. Agar kita bisa mengisi waktu kita dengan penuh keimanan. Menambah bekal iman kita di jalan menuju Allah. Agar usai itu kita bisa melanjutkan kehidupan dan dakwah kita dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Insyaallah dengan tafakkur kita bisa meraih hidayah menuju jalan yang benar dan mengeluarkan kita dari berbagai permasalahan yang dialami manusia.

Allah berfirman :

{ قُل إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ } (سـبأ: من الآية ٤٦)

Katakanlah, “Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja…,” (QS Saba 46)

Orang-orang kafir Quraisy enggan beriman kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam sebab mereka mengatakan,

{ إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مقتدون }

“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.” (QS Az Zukhruf 23)

Apakah yang dimaksud ‘peringatan satu hal saja ?’

{ أن تقوموا لله مثنى وفرادى } (سبأ 46)

“Yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri.” (Saba 46)

Renungkanlah ! Apakah keyakinan nenek moyang anda benar atau salah ?

Allah Ta’ala, melalui ayat ke 46 di surat Saba, menunjukan kepada kita untuk keluar dari segala keinginan-keinginan duniawi. Dan dalam surat Al A’raaf Allah Ta’ala berfirman :

{ أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ } (الأعراف: من الآية ١٨٤)

“Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak gila.” (Al A’raaf 184)

Dalam ayat tersebut Allah mengajak mereka untuk bertafakkur. Dan itikaf lah sarana kita meneguhkan langkah kita di jalan yang benar. Kesempatan bagi setiap kita menghisab diri di hadapan Allah Ta’ala.

Kita bisa mengambil manfaat dari semua penjelasan ulama di atas. Menjadikan mereka sebagai teladan. Namun setiap ulama hanya kita ambil perkataan mereka yang benar dan kita tolak yang salah. Lain halnya dengan Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam yang kita ambil semua perkataannya.

Banyak orang menutup akal mereka dari penjelasan para ulama. Bahkan ada thalibul ‘ilmi yang berperilaku demikian. Atau bahkan ada diantara thalibul ‘ilmi yang lebih memilih mengambil penjelasan thalib ‘ilmi yang lebih muda darinya di banding mendengarkan penjelasan para ulama senior.

Tidak ada yang ma’shum selain Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Tidak ulama. Tidak pula thalib ‘ilm. Kita juga tidak dituntut untuk menkultuskan orang lain selain Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Selamanya.

Yang menjadi keharusan bagi kita adalah memegang yang hak dari yang datang membawa kebenaran. Maka tidak pantas dan tidak logis bagi orang yang berakal, menutupi akal mereka dari para ulama besar dan da’i-da’I senior, meskipun mereka, para ulama jatuh dalam kesalahan. Lalu membuka pikiran kita bagi para thalib ‘ilmi dan para dai junior yang tidak pantas diambil. (L/RA 02/P1)

Mi’raj News Agency (MINA