Gaza, MINA — Bayi Gaza meninggal kedinginan akibat cuaca ekstrem saat Badai Byron melanda wilayah Palestina.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan pada Selasa (16/12), bayi Gaza yang meninggal kedinginan bernama Muhammad Khalil Abu al-Khair. Melansir Middle East Eye.
Bayi yang baru berusia dua pekan itu, menjadi salah satu dari 13 anak yang dilaporkan meninggal dunia dalam beberapa hari terakhir akibat cuaca ekstrem saat Badai Byron menerjang wilayah Palestina.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, Khair meninggal akibat hipotermia parah.
Baca Juga: Israel Tetap Serang Gaza Meski Banjir Rendam Ribuan Tenda Pengungsi
Meski sempat dirawat di unit perawatan intensif sejak Ahad lalu, bayi Gaza meninggal kedinginan pada Senin (15/12) karena tidak mampu bertahan dari suhu dingin yang membekukan.
Tragedi bayi Gaza meninggal kedinginan terjadi di tengah pembatasan ketat pasokan barang ke Gaza oleh Zionis Israel.
Selama lebih dari dua tahun Zionis Israel membatasi masuknya berbagai kebutuhan pokok, termasuk pakaian musim dingin dan tempat penampungan, dengan hanya bantuan terbatas yang diizinkan masuk.
Akibat kondisi tersebut, sekitar dua juta warga Gaza menghadapi kekurangan pakaian dan selimut musim dingin.
Baca Juga: Pemukim Israel Serang Petani Palestina dan Curi Hasil Panen
Dalam situasi ini, bayi Gaza meninggal kedinginan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa warga Palestina di Gaza kini berada dalam kondisi “kedinginan hingga mati.”
Dalam unggahan di platform X, UNRWA menyebut para pekerja bantuan kesulitan memenuhi kebutuhan mendesak akibat pembatasan masuknya tenda dan bahan tempat penampungan ke Gaza.
UNRWA menegaskan, tanpa tindakan segera, kasus bayi Gaza meninggal kedinginan dikhawatirkan terus bertambah.
Baca Juga: Ribuan Tenda Terendam Banjir, Peringatan Ancaman Wabah Penyakit di Gaza
“Bantuan harus diizinkan masuk dalam skala besar dan tanpa penundaan untuk mencegah semakin banyak keluarga pengungsi menghadapi risiko serius,” tegas UNRWA.
Selain minimnya bantuan kemanusiaan, UNRWA juga mencatat banyak bangunan rusak dan tergenang air runtuh akibat badai, sehingga semakin membuat warga, termasuk bayi dan anak-anak, merasakan suhu dingin ekstrem.
Kondisi ini memperparah krisis kemanusiaan dan memperbesar risiko bayi Gaza meninggal kedinginan di Jalur Gaza.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 250 Pasangan Palestina Menikah Massal, Hadirkan Kebahagiaan di Tengah Genosida Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic