Padang, MINA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang menyatakan sekitar 3.000 warga yang terdampak banjir bandang akhir November belum dapat kembali ke rumahnya. Penyebabnya adalah kerusakan berat, hilangnya rumah terbawa arus, kondisi rumah tidak layak huni, serta trauma yang dialami korban, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Padang Hendri Zulviton mengungkapkan dari awal lebih dari 5.000 orang mengungsi dan kini tersisa sekitar 3.000 orang. Ia menegaskan warga di kawasan rawan tidak diizinkan kembali dan akan direlokasi. BPBD saat ini sedang melakukan pendataan untuk menentukan lokasi hunian baru.
Banjir bandang ini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir, berbeda dengan banjir genangan biasa di Padang yang cepat surut. Empat kecamatan paling terdampak adalah Pauh, Nanggalo, Koto Tangah, dan Kuranji.
Proses pembersihan material lumpur masih terus dilakukan bersama TNI dan Polri menggunakan alat berat.
Baca Juga: Anies Baswedan Desak Indonesia Keluar dari BoP Bentukan Trump
Pendataan dampak bencana dilakukan secara digital melalui aplikasi Jitu Pasna, mengikuti standar BNPB. Data ini akan menjadi dasar perencanaan pemulihan jangka panjang dan kebijakan relokasi.
Masa tanggap darurat ditetapkan hingga 8 Desember 2025. Pemerintah tengah membahas rencana relokasi, termasuk penyediaan lahan. Sebagai langkah awal, Rusunawa akan disiapkan sebelum warga dipindah ke hunian sementara dan tetap.
Hendri menekankan peristiwa ini menjadi pembelajaran penting untuk memperkuat mitigasi bencana di Kota Padang ke depan.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Harga Jual Emas Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026
















Mina Indonesia
Mina Arabic