Gaza, MINA – Setidaknya 21 warga Palestina, termasuk 18 anak-anak, telah meninggal akibat cuaca dingin ekstrem di kamp-kamp pengungsian Gaza sejak dimulainya agresi militer Israel pada Oktober 2023.
Kantor Media Pemerintah Gaza dalam pernyataannya yang dikutip Senin (12/1) menyatakan hal ini sebagai indikator nyata dari bencana kemanusiaan yang mengancam kelompok paling rentan.
Kantor tersebut menegaskan kematian ini merupakan akibat langsung dari hancurnya rumah dan infrastruktur, blokade Israel yang berlanjut, serta pengusiran paksa lebih dari 1,5 juta warga. Kekurangan sarana pemanas, selimut, pakaian musim dingin, dan tempat berlindung yang aman menjadi penyebab utama.
Peringatan dikeluarkan bahwa gelombang dingin yang terus berlanjut dapat meningkatkan korban jiwa, terutama di antara anak-anak, orang lanjut usia, dan penyandang penyakit kronis.
Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera
Krisis diperparah oleh badai musim dingin yang merusak ribuan tenda pengungsian dan meruntuhkan puluhan bangunan yang sudah rusak.
Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh Israel bertanggung jawab penuh, karena terus menghalangi masuknya bahan bangunan, pasokan pemanas, dan peralatan rekonstruksi yang sangat dibutuhkan, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Desakan mendesak disampaikan kepada komunitas internasional, PBB, dan organisasi kemanusiaan untuk menyediakan tempat penampungan aman dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan guna mencegah korban jiwa lebih lanjut.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic