Catatan MER-C Dalam Demonstrasi Pelajar

Demonstrasi para pelajar yang berlangsung pada Selasa (23/9) dan Rabu (24/9) untuk meminta pemerintah membatalkan Undang-Undang Komisi Pemberantasa Korupsi (UU KPK) versi revisi yang baru disahkan DPR dan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta.

Aksi tersebut berujung ricuh, hingga banyak korban luka-luka dari gas air mata dan water canon yang dialami para pelajar.

Lembaga medis kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) merespon kejadian tersebut dengan menurunkan tim ke tempat kejadian untuk memberikan pelayan medis bagi para aksi yang mengalami luka.

Berikut wawancara wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency) dengan Manager Operasional MER-C Rima Manzanaris pada Jumat (28/9) di Jakarta.

MINA: Bagaimana penanganan tim MER-C dalam demonstrasi?

MER-C: Kami pada Rabu menurunkan tim relawan dua gelombang. Tim pagi berangkat ke arah gedung DPR, menyisi sekitar Senayan dan Selipi, tidak menemukan sekumpulan massa. Hanya bertemu dengan anak-anak STM/SMA (Sekolah Teknik Menengah/Sekolah Menengah Atas, Sederajat) dengan luka di kepalanya. Singkat cerita karena tidak menemukan tanda-tanda aksi maka tim pagi memutuskan pulang ke markas MER-C Pusat sekitar pukul 15.00 WIB. Tak lama kemudian pukul 16.30 MER-C mendapat kabar ternyata ada penumpukan massa di daerah Palmerah Jakarta dan banyak korban luka.

Akhirnya MER-C mengirimkan tim kedua ke TKP jam 17.00 WIB. Tim kami sampai TKP jam 18.00-an, kami sangat bersyukur bisa masuk TKP karena ada relawan bermotor yang membantu mengawal dan membuka jalan sehingga ambulans dan tim medis MER-C bisa lewat di tengah kerumunan massa. Kami kemudian membuka posko di daerah Palmerah.

MINA: Korban yang ditangani oleh tim MER-C di TKP, paling banyak mengalami luka apa?

MER-C: Berdasarkan dari laporan tim di lapangan, MER-C paling banyak menangani korban-korban yang kebanyakan terkena gas air mata, lemparan batu, luka robek dan sebagainya. Bahkan tim kami pun terkena gas air mata. Rata-rata korban ini umurnya 16 – 18 tahun, bisa di bilang anak-anak sekolah abu. Semakin malam, peserta aksi kami lihat semakin banyak, korban juga semakin banyak yang datang ke posko. Ternyata kerumunan massa yang baru adalah masyarakat yang ingin naik kereta api di stasiun Tanah Abang namun karena kereta dibatalkan, mereka harus berjalan kaki mencari moda transportasi yang lain dan bercampur dengan massa yang melakukan aksi. Saat melalui posko MER-C banyak dari mereka meminta masker dan minta diobati karena gas air mata.

MINA: Apa yang menjadi hambatan saat menangani banyak korban?

MER-C: Kesulitan menangani korban karena relawan kami juga terkena imbas gas air mata, walau tim sudah dilengkapi dengan pelindung sepeti masker dan kacamata. Tim merasakan mata perih dan sesak di dada juga, sementara pada saat yang sama harus menolong korban.

MINA: Apa yang membuat MER-C siaga dalam demosntrasi?

MER-C: Selalu mensiagakan relawan, obat dan alat. Tim membawa alat untuk dapat melakukan tindakan atau pertolongan langsung di lapangan, korban yang betul-betul perlu dirujuk baru akan dirujuk ke RS. Tim relawan MER-C juga dilengkapi dengan alat perlindungan diri seperti masker dan kacamata google (kacamata yang dibuat dengan teknologi modern dari bahan berkualitas, sehingga mampu melindungi mata dari segala sesuatu yang berbahaya).

MINA: Lalu apa harapan MER-C ke depannya setelah ini?

MER-C: Semoga situasi kembali aman dan damai. Pemerintah dan pihak berwenang bisa memberikan perlindungan kepada masyarakat dari semua elemen, sehingga ke depannya demonstrasi masyarakat bisa berjalan dengan aman dan kondusif.(A/R10/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)