Amman, MINA – Cuaca musim dingin ekstrem yang melanda Jalur Gaza memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah kritis, sehingga membuat Indonesia bersama tujuh negara lainnya menyerukan kepada Pemerintah Israel agar membuka akses bantuan secara tanpa hambatan, demikian disampaikan dalam pernyataan resmi para menteri luar negeri negara-negara tersebut pada Jumat (2/1).
Al-Jazeera melaporkan, dalam pernyataan bersama, Menteri Luar Negeri dari Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turkiye, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap memburuknya situasi kemanusiaan akibat cuaca buruk yang intens, termasuk hujan deras dan badai, serta ketidakmampuan pengungsi Palestina bertahan di tempat penampungan yang tidak memadai.
Para menteri menyoroti bahwa kondisi cuaca ekstrem telah mengungkap kerentanan sistem kemanusiaan yang ada di Gaza, di mana hampir 1,9 juta warga dan keluarga pengungsi hidup dalam tenda serta rumah rusak tanpa pelindung layak. Banjir di kamp-kamp penampungan, tenda yang hancur, serta paparan suhu dingin berakibat pada meningkatnya risiko penyakit dan kekurangan gizi, terutama di kalangan anak-anak, perempuan, lansia, dan warga dengan kondisi medis rentan.
Dalam pernyataan tersebut, mereka juga memuji upaya tanpa henti badan-badan PBB seperti UNRWA dan organisasi kemanusiaan internasional yang terus memberikan dukungan di tengah kondisi yang sangat sulit dan kompleks. Namun, tekanan terhadap akses bantuan dipandang sebagai hambatan serius dalam respons kemanusiaan yang harus segera diatasi.
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Para menteri menyerukan agar Israel memastikan PBB dan organisasi kemanusiaan internasional dapat mengoperasikan bantuan secara berkelanjutan, dapat diprediksi, dan tanpa batasan di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Mereka menegaskan bahwa upaya yang menghambat operasi bantuan kemanusiaan adalah hal yang tidak dapat diterima dan kontraproduktif dalam mengatasi penderitaan warga sipil yang sudah berkepanjangan.
Gaza, wilayah yang telah dilanda konflik berkepanjangan sejak 2023, mencatat kondisi sipil yang sangat rentan akibat kerusakan infrastruktur, keterbatasan akses dasar seperti air bersih, makanan, dan layanan kesehatan.
Musim dingin yang ekstrem sejak akhir 2025 memperburuk situasi dengan banjir dan cuaca buruk yang menghantam area penampungan sementara, memperparah krisis kemanusiaan yang sudah diperburuk oleh pembatasan bantuan internasional dan hambatan masuknya pasokan penting bagi warga sipil Palestina. []
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic