Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Doa Tolak Bala’ yang Diajarkan Nabi SAW

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 25 Januari 2026 - 21:02 WIB

Ahad, 25 Januari 2026 - 21:02 WIB

56 Views

Di negeri yang sering diuji dengan berbagai bencana seperti Indonesia, doa yang diajarkan Nabi SAW ini menjadi sangat relevan dan mendesak untuk dihidupkan kembali.(Foto: ig)

INDONESIA adalah negeri yang indah sekaligus rapuh. Dalam beberapa tahun terakhir, kita semakin sering mendengar kabar tentang banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung api, kebakaran hutan, hingga cuaca ekstrem yang datang tanpa aba-aba. Hampir setiap musim hujan, berita rumah terendam, sawah rusak, jembatan putus, dan warga mengungsi menjadi pemandangan yang berulang.

Bahkan di luar musim hujan pun, bencana tetap hadir dalam bentuk kekeringan panjang, kebakaran lahan, dan krisis air bersih. Kondisi geografis Indonesia yang berada di cincin api dunia, ditambah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, menjadikan negeri ini sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di dunia.

Di tengah kenyataan itu, manusia sering kali merasa kecil dan tak berdaya. Teknologi berkembang, sistem peringatan dini dibangun, mitigasi terus diperbaiki, namun tetap saja ada batas yang tidak mampu ditembus oleh kemampuan manusia. Banyak bencana datang tiba-tiba, melampaui prediksi dan perhitungan. Pada titik inilah, Islam mengajarkan keseimbangan: ikhtiar maksimal disertai doa dan tawakkal yang mendalam. Sebab bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga ujian iman dan kesadaran spiritual manusia.

Rasulullah SAW, jauh sebelum ilmu kebencanaan berkembang seperti hari ini, telah mengajarkan doa-doa perlindungan yang sarat makna dan relevan sepanjang zaman. Salah satu doa yang sangat dianjurkan sebagai penolak bala adalah doa yang dibaca pada pagi dan petang hari,

Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dibaca 3× pagi dan petang.

Doa ini diriwayatkan dalam hadits shahih, dan Nabi SAW menjelaskan bahwa siapa yang membacanya tiga kali di pagi dan petang, maka ia akan dilindungi dari bahaya pada hari itu. Ini bukan sekadar janji spiritual, tetapi pendidikan tauhid yang sangat dalam: menanamkan keyakinan bahwa tidak ada satu pun mudarat yang bisa terjadi tanpa izin Allah.

Makna pertama dari doa ini terletak pada kalimat Bismillah. Menyebut nama Allah bukan sekadar pembuka ucapan, melainkan pernyataan ketergantungan total. Seorang hamba mengakui bahwa dirinya lemah, sementara Allah Maha Kuat. Dalam konteks bencana, Bismillah adalah pengakuan bahwa keselamatan bukan semata hasil kecanggihan manusia, tetapi anugerah Allah yang harus dimohonkan setiap hari.

Kalimat “yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan di langit” mencakup seluruh kemungkinan musibah. Bumi melambangkan bencana yang bersumber dari daratan: gempa, longsor, banjir, kebakaran. Langit melambangkan segala ancaman dari atas: hujan ekstrem, angin ribut, petir, bahkan hal-hal yang tidak terlihat oleh mata manusia. Doa ini mengajarkan bahwa perlindungan Allah bersifat menyeluruh, melampaui apa yang mampu dijangkau oleh logika dan teknologi.

Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan

Sementara itu, penutup doa “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” memberikan ketenangan batin yang luar biasa. Allah Maha Mendengar setiap doa, bahkan yang terucap lirih di dalam hati. Allah Maha Mengetahui kondisi hamba-Nya, ketakutannya, kecemasannya, dan apa yang terbaik baginya. Dalam situasi bencana, keyakinan ini menjadi sumber keteguhan, agar manusia tidak larut dalam panik dan keputusasaan.

Doa ini juga mendidik umat Islam untuk konsisten dalam ibadah harian. Dibaca pagi dan petang, ia menjadi benteng spiritual yang mengiringi aktivitas manusia sejak memulai hari hingga menutupnya. Bukan hanya saat bencana datang, tetapi justru sebelum bencana terjadi. Islam mengajarkan pencegahan spiritual, bukan hanya reaksi setelah musibah.

Namun penting dipahami, doa ini tidak meniadakan kewajiban ikhtiar. Membaca doa penolak bala harus berjalan seiring dengan menjaga lingkungan, mematuhi peringatan bencana, membangun rumah yang aman, serta saling tolong-menolong ketika musibah terjadi. Doa menguatkan jiwa, sementara ikhtiar melindungi raga. Keduanya tidak boleh dipisahkan.

Di negeri yang sering diuji dengan berbagai bencana seperti Indonesia, doa yang diajarkan Nabi SAW ini menjadi sangat relevan dan mendesak untuk dihidupkan kembali. Ia bukan hanya bacaan, tetapi kesadaran iman, pengingat keterbatasan manusia, dan penguat harapan. Di tengah gemuruh alam dan ketidakpastian hidup, doa ini mengajarkan satu kebenaran abadi: keselamatan sejati hanya ada dalam perlindungan Allah SWT. []

Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan

Mi’raj News Agency (MINA) 

 

Baca Juga: Rahasia Amal Diterima: Hati yang Merasa Amalnya Belum Seberapa

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah