ADA satu kalimat pendek dalam Al-Qur’an yang sering kita dengar, bahkan mungkin sudah hafal di luar kepala, namun tidak selalu kita izinkan benar-benar menetap di hati,
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la: 17).
Kalimat ini tidak datang untuk menakut-nakuti manusia, apalagi meremehkan kehidupan dunia, melainkan sebagai pengingat penuh kasih agar manusia tidak salah menaruh harapan dan tujuan. Sebab manusia sering kali terlalu sibuk mengejar yang tampak di depan mata, sampai lupa bahwa ada kehidupan lain yang sedang menunggu, kehidupan yang tidak diukur dengan usia, jabatan, atau angka di rekening, melainkan dengan iman dan amal.
Dunia memang memikat. Ia menawarkan kenyamanan, pujian, kekuasaan, dan berbagai bentuk kesenangan yang membuat manusia betah. Tidak ada yang keliru dengan bekerja keras, membangun usaha, atau meraih prestasi. Islam bukan agama yang memusuhi dunia. Namun Al-Qur’an dengan jujur menggambarkan watak dunia agar manusia tidak tertipu olehnya.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Allah berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20). Ayat ini tidak mengatakan dunia itu haram atau hina, tetapi menegaskan bahwa dunia bersifat sementara, mudah berubah, dan sering kali menipu orang yang menggenggamnya terlalu erat.
Manusia sering merasakan betapa dunia tidak pernah benar-benar memberi rasa aman. Saat memiliki harta, muncul kekhawatiran kehilangannya. Saat meraih jabatan, datang rasa cemas akan jatuh. Saat dipuji, tumbuh ketakutan akan dilupakan. Kebahagiaan dunia hampir selalu bercampur dengan kecemasan.
Berbeda dengan akhirat yang digambarkan Allah sebagai tempat tanpa rasa takut dan sedih bagi orang-orang beriman. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Buruj: 11).
Allah juga mengingatkan bahwa apa pun yang kita miliki hari ini, pada akhirnya akan berpisah dari kita. “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96). Rumah yang megah, harta yang banyak, nama yang dikenal luas, semuanya akan tertinggal ketika ajal datang. Tidak satu pun yang bisa dibawa kecuali iman dan amal. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat hati menjadi lebih tenang dan tidak berlebihan mencintai dunia.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Rasulullah SAW menjelaskan betapa kecilnya nilai dunia jika dibandingkan dengan akhirat melalui perumpamaan yang sangat sederhana namun menghentak kesadaran. “Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah apa yang dibawa jarinya.” (HR. Muslim). Setetes air yang menempel di jari itulah dunia, sementara lautan luas yang tidak bertepi adalah akhirat. Dunia memang nyata, tetapi terlalu kecil jika dijadikan tujuan akhir kehidupan.
Meski demikian, Islam tidak mengajarkan meninggalkan dunia atau hidup tanpa usaha. Rasulullah SAW adalah teladan manusia yang menjalani kehidupan dunia dengan seimbang. Beliau bekerja, berdagang, berkeluarga, memimpin umat, dan menghadapi berbagai persoalan sosial. Namun dunia tidak pernah menguasai hati beliau. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari). Seorang musafir tentu beristirahat dan mengambil bekal, tetapi ia tidak membangun rumah megah di tengah perjalanan karena ia tahu bahwa itu bukan tujuan akhirnya.
Masalah manusia bukan terletak pada memiliki dunia, tetapi ketika dunia memiliki hatinya. Ketika keberhasilan dunia membuatnya lupa bersyukur, dan kegagalan dunia membuatnya putus asa. Padahal Allah telah mengingatkan agar orientasi hidup tidak berhenti pada dunia semata. “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan kepada mereka balasan di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Tetapi mereka itulah orang-orang yang di akhirat tidak memperoleh apa-apa kecuali neraka.” (QS. Hud: 15–16). Ayat ini bukan ancaman kosong, melainkan peringatan agar dunia tidak menjadi satu-satunya tujuan hidup.
Sebaliknya, Allah memberikan harapan besar bagi mereka yang menjadikan akhirat sebagai orientasi, meskipun hidupnya sederhana di dunia. “Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia beriman, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’: 19). Akhirat tidak diraih dengan angan-angan, tetapi dengan kesungguhan, keikhlasan, dan konsistensi, meskipun amal itu kecil dan tidak terlihat oleh manusia.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Sering kali orang merasa lelah dalam ketaatan. Shalat terasa berat, menjaga kejujuran terasa sulit, istiqamah terasa melelahkan. Namun lelah itu hanya sementara. Rasulullah SAW bersabda, “Tempat cemeti salah seorang kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari). Jika sepotong kecil tempat di surga saja lebih baik dari seluruh dunia, maka pantaskah manusia menukar akhiratnya hanya demi kenikmatan dunia yang singkat?
Kesadaran tentang akhirat seharusnya tidak membuat seseorang pasif atau pesimis, justru sebaliknya. Orang yang yakin pada akhirat akan hidup lebih jujur, lebih sabar, dan lebih lapang. Ia tidak terlalu hancur ketika gagal, dan tidak terlalu sombong ketika berhasil. Ia tahu bahwa dunia hanyalah tempat ujian, bukan tempat pembalasan terakhir. Keadilan sejati, kebahagiaan sejati, dan penyesalan sejati semuanya akan disempurnakan di akhirat.
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa lama kita tinggal di dunia, tetapi tentang ke mana kita akan pulang. Dunia adalah perjalanan, akhirat adalah tujuan. Dunia adalah ladang, akhirat adalah panen. Siapa yang menanam dengan iman dan amal, ia akan memanen kebahagiaan yang tidak pernah berakhir.
Semoga Allah menolong kita agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia, namun juga tidak lalai dari amanah di dalamnya. Semoga hati kita ringan melepaskan yang fana, dan kuat merindukan yang abadi. Karena sesungguhnya, kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.[]
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic