Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjuangan yang Diberkahi vs Ambisi yang Menghanguskan, Tadabbur Surah Al-Isra Ayat 18–19

Widi Kusnadi Editor : Rudi Hendrik - Selasa, 3 Februari 2026 - 21:44 WIB

Selasa, 3 Februari 2026 - 21:44 WIB

69 Views ㅤ

Perjuangan vs ambisi keduniaan (foto: AI)

DI ANTARA orang-orang yang meniti jalan hidupnya di jalan perjuangan dakwah, ada di antara mereka yang berakhir dengan kebaikan (husnul khatimah). Namun, ada juga di antara mereka yang berakhir dengan keburukan (su’sl khatimah). Mereka bergerak, bersuara, berkorban waktu, tenaga, bahkan rasa aman. Namun tidak semua perjuangan berakhir dengan kemuliaan.

Sebagian justru kandas di tengah jalan, berubah menjadi konflik kepentingan, atau kehilangan ruh karena tujuan awal perlahan bergeser dari pengabdian menuju ambisi keduniaan.

Berhentinya seseorang dalam perjuangan bukan disebabkan oleh beratnya meniti jalan dakwah, melainkan oleh kaburnya arah dan orientasi perjuangan. Ketika hasil dunia dijadikan ukuran utama, kekecewaan mudah tumbuh. Ketika pengakuan manusia dijadikan tujuan, keikhlasan pun pelan-pelan tergerus.

Pada titik inilah Al-Qur’an hadir bukan sekadar memberi nasihat, tetapi meluruskan orientasi. Surah Al-Isra ayat 18 dan 19 diturunkan sebagai cermin yang jujur bagi siapa pun yang mengaku berjuang di jalan Allah. Allah SWT berfirman:

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا ۝ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

Artinya:
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia yang segera, Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami jadikan baginya neraka Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia beriman, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra: 18–19)

Dua ayat ini memisahkan dengan tegas antara perjuangan yang berbuah keberkahan dan perjuangan yang berujung kehampaan. Bukan pada besar-kecilnya peran, tetapi ke arah mana hati tertuju dan untuk apa langkah diayunkan.

Orientasi yang Menentukan Nilai Perjuangan

Para sahabat Nabi SAW memahami ayat ini sebagai pembeda antara amal yang bernilai mulia dan amal yang sia-sia. Abdullah bin Abbas RA menjelaskan bahwa ayat ke-18 turun sebagai peringatan bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Ayat 18 menegaskan, tidak semua yang mengejar dunia akan meraihnya, dan kalaupun ia mendapatkannya, itu semata karena izin Allah, bukan karena kecerdikan atau kekuatannya.

Sementara ayat ke-19, menurut Ibnu Abbas, adalah kabar gembira bagi orang-orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, meskipun jalannya berat dan penuh rintangan.

Imam Ath-Thabari menekankan frasa “عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ” sebagai penegasan bahwa hasil perjuangan duniawi sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Dunia bukan ukuran keberhasilan, apalagi kemuliaan.

Sedangkan pada ayat 19, Ath-Thabari menggarisbawahi kalimat “وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا”, yakni berjuang dengan usaha yang semestinya. Niat baik saja tidak cukup; perjuangan akhirat menuntut kesungguhan, pengorbanan, dan konsistensi di jalan perjuangan.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Ibnu Katsir menambahkan bahwa ayat ini adalah kaidah universal amal. Banyak orang melakukan kerja besar: membangun, memimpin, berjuang, namun karena orientasinya dunia, maka amal itu tidak bernilai di sisi Allah.

Sebaliknya, amal yang mungkin tampak kecil, tetapi ikhlas dan berorientasi akhirat, justru mendapat penghargaan Ilahi.

Hasan Al-Bashri, ulama tabi‘in terkemuka, bahkan berkata dengan nada peringatan:
“Betapa banyak orang yang bersusah payah, tetapi seluruh keletihannya hanya berhenti di dunia dan tidak melampaui kuburnya.”

Jalan Panjang Para Pejuang

Dalam Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb memandang ayat ini sebagai pemisah dua jalan kehidupan. Jalan dunia tampak cepat, menjanjikan, dan gemerlap, tetapi berakhir kehinaan. Sementara jalan akhirat panjang, melelahkan, penuh ujian, namun berujung kemuliaan dan ridha Allah.

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Menurutnya, perjuangan Islam bukan sekadar memenangkan ruang publik atau sosial, tetapi mengubah orientasi hidup manusia dari dunia menuju akhirat.

Prof Wahbah Az-Zuhaili menegaskan adanya tiga syarat diterimanya amal dalam ayat ke-19: niat untuk kehidupan akhirat, usaha sungguh-sungguh, iman yang benar dan istiqamah dalam perjuangan. Jika salah satunya hilang, maka perjuangan menjadi pincang, atau bahkan terhenti di tengah jalan, akhirnya berakhir dalam keburukan (su’ul khatimah).

Sementara M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak menafikan dunia. Dunia boleh dikejar, dikelola, bahkan dijadikan sarana dakwah dan perjuangan. Namun yang ditolak adalah menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Dunia adalah alat, bukan kompas dalam perjuangan.

Dalam konteks dakwah dan perjuangan umat hari ini, Surah Al-Isra ayat 18–19 menjadi cermin yang jujur. Perjuangan yang berorientasi dunia akan mudah rapuh: cepat lelah, mudah kecewa, dan rawan konflik kepentingan.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Sebaliknya, perjuangan yang berorientasi akhirat akan tetap berjalan meski sunyi, tetap kokoh meski hasil belum tampak.

Allah menutup ayat ke-19 dengan janji yang menenangkan hati para pejuang: “فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا” — usaha mereka dihargai. Bukan dihargai manusia, tetapi dihargai oleh Allah Ta’ala. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Info MINA
Internasional