Dulu, Umat Islam Bersatu Demi Hadapi Tantangan Bersama (Oleh: Dr. Adian Husaini)

Oleh: (www.adianhusaini.id)

Ada kisah teladan yang dilakukan oleh para ulama, tokoh, dan pemimpin umat Islam Indonesia di masa penjajahan. Pada tahun 1937, mereka mendirikan satu perkumpulan bersama yang diberi nama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI).

Ada sekitar 21 organisasi Islam yang bergabung dengan MIAI hingga tahun 1942, antara lain: Sarekat Islam (SI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Al-Islam (Solo), Persyarikatan Ulama (Majalengka), Hidayatul Islamiyah (Banyuwangi), Al-Khairiyah (Surabaya), Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad, Jong Islamitien Bond, Al-Ittahadul-Islamiyah (Sukabumi), Partai Islam Indonesia (PII), Partai Arab Indonesia (PAI), Persatuan Ulama Seluruh Aceh (Sigli), Musyawarat At-Thalibin (Kandangan, Kalimantan), Al-Jami’atul Washliyah (Medan), Nurul Islam (Tanjung Pandan Babel), Majelis Ulama Indonesia (Toli-Toli), Persatuan Muslimin Minahassa, Al-Khairiyah (Surabaya), Persatuan Putera Bornes (Surabaya), Persatuan India Putera Indonesia, dan Persatuan Pelajar Indonesia-Malaya di Mesir.

Tujuan dari MIAI ialah: “untuk membicarakan dan memutuskan soal-soal yang dipandang penting bagi kemaslahatan umat dan agama Islam, yang keputusannya itu harus dipegang teguh dan dilakukan bersama-sama oleh segenap perhimpunan-perhimpunan yang menjadi anggotanya…”.

Ketika itu sudah muncul perdebatan-perdebatan tentang masalah-masalah keragaman pemahaman keagamaan di kalangan umat Islam. Menurut catatan sejarawan Dr. Tiar A. Bahtiar, di antara tema-tema yang paling banyak diperdebatkan antara lain: perayaan Maulid Nabi Saw., perayaan Isra dan Mi’raj, upacara kematian, talaffuzh bin-niyat, qunut subuh, talqin untuk mayit, pembacaan Yasin untuk mayit, dan semisalnya.

Kritik-kritik terhadap praktik keagamaan kalangan tradisional ini telah sering menimbulkan ketegangan yang tidak perlu. Oleh sebab itu, para pemimpin berbagai organisasi, terutama Muhammadiyah, NU, dan SI berinisiatif mendirikan federasi ini untuk menghimpun kekuatan umat Islam, terutama dalam rangka menghadapi kaum kolonial.

MIAI eksis sampai kedatangan Jepang tahun 1942. Namanya berubah menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Di majelis inilah para pemimpin umat Islam melanjutkan upaya penggalangan persatuan dan perlawanan terhadap penjajahan.

Mengapa umat Islam Indonesia ketika itu bisa bersatu? Jika kita telaah, ada dua faktor utama yang mendorong mereka mau dan berani melakukan gerakan persatuan tersebut. Pertama, kesadaran ukhuwah Islamiyah yang tinggi. Bahwa, sesama mukmin adalah bersaudara. Perbedaan pemahaman dalam masalah furu’iyyah tidak menggugurkan hak dan kewajiban antar saudara seiman.

Sesama mukmin berkewajiban untuk mempererat tali persaudaraan dan juga saling tolong menolong: “Dan orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS at-Taubah:71).

Rasulullah menggambarkan kondisi sesama mukmin sebagai satu tubuh (kal jasadil wahid) atau satu bangunan yang saling menguatkan (kal bunyan yasyuddu ba’dluhum ba’dla). Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga mengibaratkan kaum Muslimin seperti penumpang yang bersama-sama berlayar ke tengah lautan. Di dalam kapal itu, ada satu penumpang yang bermaksud melobangi kapalnya untuk mengambil air. Jika seluruh penumpang membiarkan orang itu melobangi perahunya, maka binasalah dia dan juga seluruh penumpang.

Hanya orang-orang beriman dapat menjalin ukhuwah Islamiyah, sebab ukhuwah Islamiyah adalah manivestasi dari iman. Ukhuwah Islamiyah membutuhkan pengorbanan, lebih mementingkan kepentingan saudaranya sesama mukmin, ketimbang kepentingan dirinya. Ditegaskan Rasulullah SAW: “Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba liakhihi maa yuhibbu linafsihi.” (Tidak/belum sempurna iman salah seorang kamu, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang dicintai oleh dirinya sendiri.).

Kedua, pemahaman dan kesadaran akan “tantangan bersama”. Di zaman penjajahan, tantangannya jelas, tampak di depan mata. Penjajah bercokol secara fisik. Tetapi, jangan keliru, saat itu banyak juga yang sudah merasa nyaman dengan pemerintah jajahan. Bahkan, ada yang menjadi kaki tangan penjajah. Jadi, usaha para ulama untuk menyadarkan tantangan bersama berupa “bahaya penjajah” pun perlu perjuangan.

Di zaman ini, sepatutnya para ulama dan pemimpin umat mampu merumuskan tantangan bersama. Sesuai dengan doa yang setiap hari kita baca dalam QS Al-Fatihah, tantangan bersama itu datang dari al-maghdlub dan al-dhaalliin. Siapa yang termasuk kategori keduanya, perlu dirumuskan dengan jelas. Mereka adalah orang-orang atau golongan yang merusak iman dan akhlak manusia.

Golongan ini memproduksi terus-menerus berbagai konsep yang menyeret manusia keluar dari shirathal mustaqim. Agar selamat dari tipudaya golongan yang dimurkai dan yang sesat ini maka perlu kajian yang serius. Sebab, para penyesat itu pun bekerja keras untuk menyesatkan. Kadang mereka melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah yang bermutu tinggi untuk menghasilkan konsep-konsep yang merusak iman dan akhlak.

Dalam menjalankan aksinya, kedua golongan destruktif ini pun tak jarang bekerjasama satu sama lain. Karena itulah, dalam memperjuangkan kebenaran dan melawan kezaliman, maka diperlukan kerjasama yang sebaik-baiknya.

Dan Allah hanya cinta kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam keadaan shaf yang rapi, seperti satu bangunan yang kokoh, yang saling menguatkan satu dengan lainnya. (QS ash-Shaf: 4).

Semoga umat Islam saat ini mampu merumuskan tantangan bersama sebagai umat dan bangsa, sehingga bisa menyusun respon bersama yang benar dan tepat. Aamiin. (Solo, 4 Februari 2023). (A/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)