Jihad Santri Dulu Dan Kini (Oleh: Dr. Adian Husaini)

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Peringatan Hari Santri Nasional dikaitkan dengan keluarnya fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari, 22 Oktober 1945. Tentu, penetapan itu memiliki niat yang baik. Bahwa, menjadi santri harus bersiap menjadi pejuang. Santri bukan pelajar biasa yang mencari ilmu sekedar untuk bisa mencari makan. Tetapi, menjadi santri berarti siap menyerahkan jiwa raganya untuk membela kebenaran.

Tanggal 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Di tengah-tengah masih eksisnya kekuatan tentara Jepang dan rencana kedatangan sekutu, para ulama di bawah kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari membulatkan tekad untuk berjihad fi sabilillah, mempertahankan kemerdekaan. Bahkan, difatwakan, siapa saja yang gugur di medan juang, dinyatakan sebagai syahid. Dan siapa yang berkhianat, ia dihukum mati.

Para ulama itu sadar benar, bahwa yang mereka hadapi bukan pasukan “kaleng-kaleng”. Tentara yang akan datang ke Indonesia melalui Surabaya adalah pemenang Perang Dunia II. Tentara Belanda memanfaatkan momentum kedatangan tentara Sekutu untuk mencengkeramkan kembali ambisi kolonialnya.

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS at-Taubah: 111).

Jadi, orang-orang beriman telah diberikan tawaran bisnis yang begitu menguntungkan. Allah membeli jiwa, raga, dan harta orang mukmin, dengan imbalan sorga. Padahal, jiwa, raga, dan harta bukanlah milik sang hamba. Semua itu milik Allah. Semua itu diberikan kepada manusia sebagai amanah. Lalu, Allah menawar jiwa, raga dan harta itu dengan imbalan sorga. Betapa bodohnya jika manusia enggan menerima tawaran bisnis ini.

Para santri bukanlah manusia biasa. Para santri adalah orang-orang yang telah dididik menjadi orang mukmin yang baik. Para santri bukan hanya dididik supaya punya keahlian dan kemudian bisa bekerja mencari makan. Tetapi, para santri dididik agar menjadi pejuang di jalan Allah; agar menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat.

Inilah yang dipesankan oleh Luqman al-Hakim kepada anaknya: agar menjadi pejuang penegak kebenaran dan pencegah kemunkaran. “Wahai anakku, dirikanlah shalat dan tegakkanlah kebaikan dan cegahlah kemunkaran…” (QS Luqman: 17).

Tahun 1945, saat Fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari dikeluarkan, penjajah memang hadir secara fisik. Dengan persenjataan yang termodern kala itu, tentara penjajah melakukan serangan besar-besaran kepada basis-basis pejuang. Namun, para kyai dan santri tidak gentar. Mereka yakin, siapa saja yang berjuang di jalan Allah, maka akan mendapatkan kebaikan, baik meraih kemenangan langsung di dunia atau pun gugur sebagai syuhada.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, dirimu, dan lidahmu!”

Jadi, berjihad atau berjuang di jalan Allah bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, sesuai dengan tantangan yang ada. Di awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda menguatkan jajahannya melalui pendidikan, maka para ulama dan cerdik cendekia ketika itu juga memberikan respon yang tepat, dengan berjuang melalui dunia pendidikan.

Kini, tantangan pemikiran yang dihadapi umat Islam begitu berat. Prof. Syed Naquib al-Attas menyatakan, bahwa “the greatest challenge of muslim today is the challenge of knowledge.” Bahwa, tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam di zaman ini adalah tantangan ilmu.

Ilmu-ilmu yang telah dirusak dan dikorupsi adalah ilmu yang berbahaya, karena bisa menjauhkan manusia dari Allah. Maka, tidaklah keliru jika jihad besar para santri di zaman ini adalah berjihad di bidang keilmuan. Caranya tentu saja belajar dengan ikhlas dan sungguh-sungguh kepada para guru yang baik dan juga mempelajari ilmu-ilmu yang benar. Yakni, ilmu-ilmu yang meningkatkan iman, taqwa, dan akhlak mulia para santri.

“Ruh perjuangan” dalam dunia keilmuan itulah yang selama beratus tahun hidup dalam dunia pesantren. Sebuah kitab legendaris yang dikaji di dunia pesantren, yakni Kitab Ta’limul Muta’allmin, karya Zyekh al-Zarnuji menyebutkan, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang diamalkan dan diajarkan atau disebarkan ke masyarakat.

Jadi, sepanjang sejarahnya di Indonesia, dunia santri tak pernah lepas dari dunia keilmuan dan perjuangan. Pesantren adalah lembaga tafaqquh fid-diin dan lembaga iqamatud diin. Pendidikan pesantren berporos pada proses “pembersihan jiwa” (tazkiyyatun nafs). Dari model pendidikan seperti inilah kemudian lahir para pejuang yang gigih mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.

Sebutlah, misalnya, Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M), yang bukan hanya mengajar dan menulis, tetapi juga memimpin perang di wilayah Jawa Barat. Syekh Abd al-Shamad al-Falimbani (1704-1789), seorang ulama sufi dari Palembang, menulis kitab tentang keutamaan jihad fi-sabilillah: Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah.

Bahkan, setelah kemerdekaan diraih, para ulama tetap mengawal kemerdekaan Indonesia. Itu ditunjukkan oleh kepahlawanan KH Hasyim Asy’ari dengan fatwa jihadnya, 22 Oktober 1945, yang menegaskan, bahwa mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah wajib bagi kaum muslimin Indonesia. Puluhan ribu kyai dan santri turun langsung dalam jihad fi sabilillah! Mereka tidak gentar menghadapi pesawat tempur, tank, meriam dan bedil-bedil canggih tentara Eropa.

Jadi, dunia santri adalah dunia keilmuan dan perjuangan. Selamat Hari Santri Nasional! Semoga di masa depan, para santri kita akan menjadi para pemimpin di berbagai lapangan kehidupan. Amin. (Depok, 21 Oktober 2022). (AK/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)