Kathmandu, MINA – Otoritas keamanan Nepal resmi menahan mantan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli dan mantan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak pada Sabtu (28/3).
Penangkapan ini menandai babak baru dalam upaya penegakan hukum atas tragedi kemanusiaan yang menewaskan sedikitnya 76 demonstran muda dalam aksi protes massal “Gen Z” pada September 2025 lalu. Ariananews melaporkan.
Langkah tegas ini diambil hanya sehari setelah pemerintahan baru di bawah Perdana Menteri Balendra Shah dilantik, menyusul kemenangan telak dalam pemilu nasional awal Maret ini.
Menteri Dalam Negeri Sudan Gurung menegaskan bahwa tindakan hukum ini didasarkan pada rekomendasi Komisi Yudisial yang dipimpin oleh Gauri Bahadur Karki.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Laporan komisi tersebut mengungkap adanya kelalaian pidana dan kecerobohan instruksi dalam menangani unjuk rasa setahun silam, di mana aparat keamanan menggunakan kekuatan mematikan terhadap massa yang sebagian besar merupakan pelajar dan mahasiswa.
“Tidak ada yang kebal hukum di negeri ini. Penangkapan ini bukan bentuk balas dendam politik, melainkan langkah awal mewujudkan keadilan bagi para korban,” tegas Gurung.
Tragedi yang menjerat Oli bermula dari kebijakan kontroversial pemerintahannya pada September 2025 yang melarang puluhan platform media sosial, termasuk TikTok dan Facebook.
Kebijakan tersebut memicu ledakan kemarahan publik yang sudah lama terpendam akibat isu korupsi dan kelesuan ekonomi. Aksi yang semula damai berubah menjadi palagan berdarah di Kathmandu dan sekitarnya.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Penyelidikan menunjukkan bahwa mayoritas korban tewas akibat luka tembak di bagian tubuh vital, yang mengindikasikan pelanggaran berat terhadap protokol pengendalian massa.
Selain Oli dan Lekhak, komisi penyelidik juga merekomendasikan penuntutan terhadap mantan Kepala Polisi Chandra Kuber Khapung serta sejumlah pejabat keamanan lainnya.
Skandal ini diperkirakan menjadi salah satu kasus pelanggaran hak asasi manusia terbesar di Nepal sejak berakhirnya perang saudara pada 2006 silam.
Situasi di ibu kota Kathmandu dilaporkan sempat memanas pasca penangkapan tersebut. Ratusan pendukung Partai Komunis Nepal (UML) melakukan aksi unjuk rasa di luar kediaman Oli di Bhaktapur, menuding pemerintahan baru melakukan penganiayaan politik terhadap pemimpin oposisi.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Namun, aparat keamanan berhasil mengendalikan situasi dan membawa para tersangka ke kantor polisi Distrik Kathmandu untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sebelum dihadirkan di persidangan pada hari Minggu esok.
Bagi masyarakat Nepal, penangkapan ini membawa harapan besar akan reformasi birokrasi dan supremasi hukum yang selama ini dinilai tumpul terhadap elite politik.
Kemenangan Balendra Shah, seorang mantan rapper yang beralih menjadi politikus, dianggap sebagai mandat dari generasi muda untuk membersihkan negara dari praktik impunitas dan korupsi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
















Mina Indonesia
Mina Arabic